The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
67. Bubar Pergi



Saat ini pertemuan dadakan Circle Toxic Maziya dan kawan-kawan nya. Mereka mengambil tempat di MOCY Restoran dengan harga reservasi fantastis yang sudah disengaja oleh Ririn.


"Agenda apa yang membuat kita harus datang di luar waktu yang seharusnya?" Stella merenggut setelah pantatnya menyentuh kursi


"Ririn mereservasi tempat ini jauh-jauh hari."


"Apa ada hal penting?"


"Biasalah, pasti ada yang ingin ia pamerkan. Dari dulu juga begitu, bahkan ditambah lagi saat Maziya dan Viola bergabung. Kalau bukan dari Ririn ketua ya wakilnya yang nggak mau kalah." Amy merapikan rambutnya.


"Eh bukannya Pacarnya Ririn ada kasus dengan SERZIANO Grup?" Stella berbisik agar tidak ada yang mendengarnya.


"Kasus apa?"


"Entahlah, kabarnya dia pergi ke Korea entah Kapan baliknya."


"Oh ya apa Kali ini Ririn akan turun jabatan?. Secara tak ada lagi keunggulan yang ia miliki disini."


"Bisa jadi Amy, sekilas pun sudah dapat dipastikan bahwa Maziya sudah bukan selangkah di depan kita tapi sangat Jauh di depan kita." Stella mengakui.


Tak lama kemudian, Ririn dan Aliza serta Maziya juga Viola datang berbarengan. Seperti biasa mereka memesan hidangan mahal dari restoran MOCY tersebut.


Ririn secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua. Ia mempersilahkan Maziya untuk naik pangkat menjadi Ketua dari Wakil sesuai yang diinginkan Maziya selama ini.


Namun siapa sangka bahwa Maziya tidak ingin naik jabatan dan malah mengundurkan diri sekaligus keluar dari anggota.


"Kenapa?. Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Stella bingung..


"Kamu pasti sudah dengar kabar yang berhembus Stella." Ririn bicara.


"Iya, kami tahu itu tapi siapa yang akan jadi ketua kalau kamu keluar Maziya?" Amy lumayan panik


"Siapapun, aku juga ingin keluar." Viola menambahkan, "Sejak awal aku memang setengah hati ikut Circle ini demi Maziya "


"Aku saja yang keluar Maziya, Viola. Aku pantas keluar." Ririn ikut mengutarakan keinginannya untuk keluar.


"Aku juga ikut kamu Ririn, kalau kamu tidak ada aku juga tidak ingin lagi bergabung." Aliza menahan tangan Ririn erat.


"Jadi hanya aku dan Stella saja dong tinggal?. Bagaimana kelanjutannya?" Amy semakin mengeluh dan panik.


Akhirnya, Circle mereka diputuskan untuk bubar. Tetap saja, mereka bisa berkumpul sesuai jadwal atau Kapanpun sesuai kesepakatan. Namun pertemuan mereka bukan lagi sebagai ajang pamer atau adu Gosip kelas atas seperti biasanya.


Melainkan seperti pertemuan antar alumni dari Kampus yang sama, pertemuan antar Teman akrab yang tidak saling menyombongkan diri satu sama lain. Pertemuan normal seperti banyak kelompok kecil lainnya.


"Aku bisa menawarkan kalian masuk Kelompok Sosialita yang di pimpin Nyonya Virada." Maziya tersenyum tulus.


"Kelompok elit yang super besar itu?" Tanya Amy penasaran.


"Iya, asalkan kalian sudah menikah dan bersedia untuk menyumbangkan harta Tiap ketentuan pengurusnya." tawar Maziya.


"Apa orang seperti kita boleh masuk?" Aliza ragu-ragu.


"Bukannya sudah kubilang, syaratnya adalah bersedia menyumbang atau jadi Donatur Tetap dari hal-hal yang diatur Pengurus." Maziya menegaskan.


"Bukannya sama dengan Circle kita?" Viola ikutan bertanya karena Maminya adalah salah satu anggota.


"Iya, aku menawarkan biar kita bisa mengenang perkumpulan kita selama ini tapi dalam lingkup yang lebih formal dan Sistematis. Tidak mengandalkan Ego lagi dan benar-benar bermanfaat di Satu sisi." Jelas Maziya.


"Akan aku pikirkan." Ririn paham.


"Aku juga, sepertinya menarik " tambah Aliza.


"Aku juga penasaran. Nanti kalau menikah dan merasa stabil aku boleh menghubungi mu kan Maziya." Stella bersemangat.


"Aku juga deh," Amy ikutan.


Akhirnya keputusan akhir adalah Circle mereka bubar. dan hanya akan berkumpul sebagai teman biasa atau alumni kampus yang sama dari jurusan berbeda dengan alasan kedekatan.


......


Bukan hanya pergi dalam rangka bubarnya Circle mereka. Maziya dan Viola harus ke tempat lainnya.


Di Restoran biasa tepi jalan.


"Bukannya ini daerah Perusahaan sewaktu kamu..."


Viola segera memotong ucapan Maziya, "Jangan disebutkan Maziya. Aku sering kesini setelah Perusahaan ku Tutup."


"Gara-gara Kak Azkan."


"Tapi aku senang karena berkat itu aku jadi bisa lebih menikmati profesiku sebagai Photografer untuk Perusahaan keluarga Sendiri" Viola tersenyum.


"Iya atas saran siapa coba?" Maziya balik dengan nada menggoda sahabatnya itu.


"Tapi Maziya, apa tidak apa-apa kamu mengajak suamimu ke tempat seperti ini?" Viola ragu-ragu bahkan tidak berani menengok ke arah Azkan duduk bersama Barga di sudut.


"Namanya juga Protektif sama istrinya." Viola balik menggoda Maziya


"Tapi ini yang ditunggu kok nggak dateng-dateng sih Viola?" Maziya mulai risih.


"Katanya ada sedikit masalah di jalan Maziya."


"Aduhhh panasss..."


Tepat saat Maziya mengeluh panas, dua orang pengawal datang menghidupkan Kipas angin portabel ke arahnya.


Hal itu membuat pemilik restoran terheran-heran. Viola terpaksa menjelaskan dengan hati-hati pada pemilik agar dipahami.


Tak lama kemudian, Miko akhirnya datang. Ia mengungkapkan kata perpisahannya karena ia akan kembali ke Firma Hukum VM.


"Harus ya di tempat begini?" tanya Maziya


"Aku tahu kamu tidak nyaman Maziya. Tapi aku ingin memberikan suatu hal sekaligus berterima kasih atas kesempatan untuk Mark."


"Harusnya itu buat Kak Azkan bukan aku?"


"Kata Tuan Azkan, aku lebih baik memberikannya kepada kamu. Karena dia bilang kamu lebih utama." Ujar Miko.


"Oh ya." Maziya melirik suaminya sembari tersenyum.


Di sisi lainnya....


"Tuan, kenapa anda ikut kalau anda sudah memerintahkan Miko agar memberikan ucapan terimakasih hanya pada Nona Maziya saja?" Barga penasaran.


"Aku tidak tenang kalau mereka bertemu. Apalagi wajahnya sangat mirip."


"Maksud anda wajah Miko dan Pengacara Mark?"


"Siapa lagi?" Azkan menjawab sinis.


"Kan mereka saudara Tuan." Barga geleng-geleng sendiri.


"Sudahlah..." Azkan memakan hidangan biasa dari Restoran tersebut yang ternyata tidak kalah dengan Restoran MOCY yang terkenal.


"Tuan, boleh saya tanya lagi?"


"Apalagi Barga, makan saja ini cukup enak!"


"Bukan Tuan, tidak masalah makanan disini enak, atau anda khawatir dengan Nona Maziya."


"Lalau apa?"


"Kenapa saya harus ikut Tuan. Anda tahu kan saya sangat sibuk karena harus melakukan tugas Pitaloka. Ditambah lagi Anda meminta saya agar mengcover semua Tugas yang seharusnya bisa dikerjakan oleh Nona Maziya."


Rupanya alasan dibalik Maziya yang lebih sering bersantai adalah Azkan yang sengaja melimpahkan sebagian besar tugasnya pada Barga.


"Tenang saja Barga, apa yang kamu khawatirkan?"


"Saya harus lembur dan lembur lagi Tuan."


"Bonus untukmu."


"Baik Tuan, habis ini kemana lagi?. Aku akan siap siaga meskipun harus puasa Tidur berhari-hari." Barga kembali bersemangat.


.....


Balik lagi ke meja yang ditempati Maziya, Viola dan Miko.


Miko memberikan beberapa koreksinya pada Sistem Manajemen di tingkat bawah. Baginya hal itu cukup buruk meskipun ia tahu tak ada pengaruh besar yang membahayakan.


"Kamu tetap mengerjakan tugas selama Di SERZIANO Grup meskipun Hanya sesaat?. Benar-benar Vibenya Mahasiswa Cumlaude dan unggulan jurusan." Maziya terkesima.


Selanjutnya, Miko memasakkan makanan untuk semua yang hadir termasuk para Pengawal yang memenuhi Tempat. Karena tak ingin kalah, Azkan justru ikutan memasak.


"Kak Azkan ngapain?" Maziya tampak bingung.


"Itu bukti perasaan Tuan, Nona." Jawab Barga yang entah datang darimana.


"Mengagetkan ku saja Sekretaris Barga. Kamu datang darimana?"


"Dari meja kami Nona." Tunjuk Barga ke meja yang sebelumnya ia tempati.


"Aku sudah tahu perasaannya apa masih perlu?"


"Masih Nona, nikmati saja." ujar Barga.


"Baiklah."


Bersambung....