The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
35. Membicarakan CEO



Di SERZIANO Hotel....


Azkan duduk di sofa bawah menunggu Tuan Tora. Barga yang sibuk dengan urusannya dengan Resepsionis serta Maziya yang akhirnya menerima kabar dari Viola. Viola baik-baik saja dan malam ini mereka bisa melakukan panggilan.


Tanpa sengaja Maziya tertawa melihat Ponselnya. Chat dari Para Sekretaris Inti yang sedang membandingkan Azkan yang pelit dengan Wakil CEO mereka.


Bang Lintang : Rasa Steak ini masih menempel di kepalaku.


Edwin : Ya Bang, enak sekali. Ingat saat Tuan Alam masih menjabat aku juga pernah memakannya.


Chelsea : Benar aku sampai lupa membuat status


Adiba : Karena terlalu menikmati, seru sekali bicara dengan Pak Leo ya ternyata.


Renald : Ya seru, dahulu Tuan Azkan menatapku sinis jika berani memesan Steak. Akhirnya aku hanya mampu memesan salad.


Pitaloka: Kamu tidak mengaku diet kan @Renald


Renald : Boro-boro Diet, aku Masih menyesuaikan diri saat jadi sekretarisnya dari karyawan biasa. Aku bahkan takut mendengar deru nafasnya.


Bang Lintang : Kkk kamu dan dia seusia mengapa takut begitu?


Edwin : Dia dan Bang Lintang mana sama. Bang Lintang kenal Leo sejak masih sekolah sementara Renald hanyalah karyawan tak dikenal yang kebetulan berhasil menjadi Sekretaris Direktur Departemen.


Renald : Tidak usah diperjelas @Edwin.


yang lainnya bergantian mengirim Stiker dan emot tertawa. Mereka tak henti-hentinya mengejek Renald yang pernah menghadapi Azkan. Bahkan juga Maziya yang ikut nimbrung seolah dia bukanlah istri ingin suaminya dihormati.


Kening Azkan berkerut melihat Maziya. "Apa yang kau tertawakan?"


"Ini, Viola ternyata matiin Ponselnya. Makanya nggak bisa dihubungi." Maziya tidak menyinggung tentang isi Chat yang didalamnya tidak ada nomor Azkan tersebut.


"Ooh begitu, dia bebal juga sepertimu ternyata. Setelah aku kata-katai dan ancam jika berani meneruskan website bahkan membocorkan rahasia yang sudah dia ketahui tentang kita."


ya ya Kamu hanya ingin membuat dia tidak punya kesempatan untuk membicarakan tentang pernikahan kontrak kita kan.


"Mengapa Kau diam?"


"Apa respon yang harus aku berikan Kak Azkan. Apa aku harus memujimu karena bersikap kejam pada Sahabatku?"


"Kau ini" Azkan bersiap menyentil Maziya dan jarinya sudah ditangkap Sang istri.


Sentilan Azkan sangat perih, bisa membuat pandangan Maziya jadi kabur. Sayangnya mau berapa kali pun Maziya mengatakan bahwa itu sakit, Azkan tidak pernah peduli dan terus menerus melakukannya.


.........


Tuan Tora akhirnya datang, hal itu menyelamatkan Maziya karena Azkan segera menarik tangannya lagi. Maziya melihat Mark juga bersama dengan Tuan Tora namun ia tidak menghiraukannya.


Maziya sedikit berbasa-basi sebentar. "Sepertinya kalian masih mau mengobrol, aku pamit duluan ya"


Barga mengantarkannya bersama pelayan Hotel. Di lantai kamar teratas tipe Suite room yang super mewah. Semua Hotel di SERZIANO Hotel selalu punya Dua Suite room yang berhadapan dengan Rooftop juga.


"Nona, Ini kamarmu. Aku juga akan disini karena kamar Suite lainnya untuk Tuan Tora."


Ah tentu saja ada perlakuan khusus untuk Calon mertua impiannya itu.


"Ooh begitu ya, tidak apa-apa."


"Tenang saja Nona, 4 pengawal akan berjaga-jaga di dekat Lift sampai Tuan Azkan datang. Anda akan merasa aman."


"Baiklah " Maziya menerima kartu akses miliknya.


Mereka masuk ke dalam kamar dimana para pelayan sedang mengatur koper milik Maziya.


Maziya sedikit panik, "Eh biar aku saja yang merapikannya. Hanya semalam apa perlu dikeluarkan semua."


Pelayan tersebut terlihat ragu-ragu.


"Apa kalian tidak mau mendengarkan ku?" tanya Maziya sinis.


Segera semua pelayan tersebut menunduk sedalamnya. "Baik, Maafkan kami Nona" Salah satu dari mereka mewakili.


Maziya duduk di sofa empuk, "Ah sudahlah kalian keluar saja!"


"Apa Nona butuh sesuatu?. Anda tinggal menekan nomor layanan. Semuanya akan tersedia."


"Iya Barga aku tahu, Tidak usah mengajariku. Dulu juga aku sering pergi dengan Mama Lidia. Bisakah kamu ajak mereka pergi?. aku mau menghubungi Viola."


Bagaimana Barga bisa lupa kalau Istri Tuannya ini sudah lebih dulu bersentuhan dengan SERZIANO Grup daripada dirinya.


"Baiklah Nona, silahkan nikmati waktumu."


Barga menutup pintu dan menatap para pelayan hotel dengan wajah super tegasnya. "Layani Nona Maziya dengan baik!"


"Ya Sekretaris Barga."


Barga memberikan perintah pada 4 pengawal Lalu kembali turun menemui Azkan.


........


Mark yang datang bersama dengan Tuan Tora permisi untuk pergi ke suatu tempat dan merokok. Ia tidak mau menggangu obrolan mereka.


Dia pernah membisikkan si gadis parasit sebelumnya. Apa yang dia lakukan disini?.


"Apa dia sekretaris barumu Tuan?"


"Ah bukan, dia Kuasa hukum Perusahaan. Kebetulan kami ada beberapa urusan sebelumnya. Jadi sekalian saja aku bawa kesini."


Oh kuasa hukumnya. Ah tentu saja dia kan dari Firma Hukum VM.


"Begitu ya." Azkan mengangguk.


"Tidak usah panggil Tuan, Panggil Om saja seperti biasanya. Apa kamu juga mau dipanggil begitu?. Karena sekarang kamu sudah resmi menjadi CEO ?"


"Maaf Om, kebiasaan soalnya." Azkan menggaruk tengkuknya.


Mereka berbincang hingga merembet pada masalah Maziya yang dipilih sebagai istri. Azkan dengan tenang menjelaskan bahwa Ia tak keberatan dengan pilihan Mamanya.


Meskipun Tuan Tora menyinggung tentang Rasti. Tampaknya Azkan sudah terbiasa dan tak jauh-jauh bahasannya adalah persahabatan mereka yang erat.


"Kamar Anda sudah disiapkan." Barga mempersilahkan.


"Terimakasih, Ini Kuasa hukum ku tadi mana ya?. Udah habis berapa batang Rokoknya?"


Mereka berjalan ke kamar masing-masing hingga salah seorang pengawal berbicara bahwa yang lainnya menjaga Maziya di Rooftop. Karena sedang berbincang dengan Mark dari firma hukum VM.


Mereka berjalan ke Rooftop hingga melihat Maziya sedang berkacak pinggang dari balik pintu transparan. Disana ada juga Mark yang nampak sangat bahagia tersenyum pada Maziya.


Apa yang Gadis itu lakukan berduaan dengan Putra kedua Nyonya Virada?. Dari penyelidikan bahkan mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Apa dia memang mengancam Maziya sewaktu resepsi kami. Apa yang diinginkannya?


Azkan menendang kaki kedua pengawal tersebut. "Apa kalian hanya akan berdiri di sini?"


"Nona bilang kami cukup berjaga di pintu Tuan. Karena dia...."


Sekali lagi Azkan menendang Tulang kering Pengawal yang bicara, "Hanya karena ia memintanya, apa kau tidak harus waspada?. Apa kalian digaji untuk santai-santai?"


Para pengawal dengan sigap menyadari kesalahan mereka. Dengan sedemikian rupa membungkukkan tubuh memohon pada Azkan.


Tuan Tora menepuk pundak Azkan."Azkan, aku yakin kuasa hukumnya tidak melakukan hal yang tidak pantas. Mungkin mereka kebetulan bertemu."


"Tuan, aku akan segera.." Ucapan Barga terhenti karena tangan kanan Azkan terangkat. Ia sedang tak ingin diinterupsi pada saat ini.


Mark menyadari kehadiran Azkan lalu seperti mengatakan sesuatu hingga Maziya terkejut. Maziya bersikap normal kembali saat mengetahui Azkan datang.


Apa yang kalian bicarakan dibelakangku?


Bersambung....