The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
18. Keadilan



Azkan memastikan bahwa Maziya sudah tidur. Ia mengecek ponselnya dan mendapati pesannya hanya dibaca Randy tanpa balasan.


Apa sakit Rasti parah banget?.


Azkan mengetik dan bertanya sekali lagi. Akhirnya hanya dijawab stiker tentu saja dari Randy.


"Pakai-pakai Stiker." Azkan geleng-geleng dan meletakkan ponselnya kembali.


Lagi-lagi Azkan bangun, ia melirik lampu di samping ranjang. Gatal Sekali jarinya ingin menekan tombol power agar cahaya itu hilang sepenuhnya. Ia memastikan Maziya sudah tertidur pulas. Ia coba menggoyangkan tangannya naik turun di atas wajah Maziya.


"Tidak ada respon," pikirnya.


Azkan melihat lampu di langit-langit kamar sudah mati sejak awal. yang tersisa adalah lampu di samping ranjang yang harus dibiarkan menyala agar Maziya dapat tidur.


Azkan dengan segenap keberanian menekan tombol lampu di samping ranjang sehingga kamar mereka menjadi Gelap Total. Tak lama kemudian, terdengar tarikan nafas cepat dan keras dari Maziya.


Iya, Maziya takut gelap. Lebih tepatnya dia phobia pada kegelapan yang tidak ada cahaya sama sekali seperti kondisi mati lampu. Sementara Azkan tidak bisa tidur dengan kondisi cahaya terang, makanya dia tidak tidur-tidur juga dari tadi.


Segera Azkan menekan tombol lampu kembali dan mencoba membangunkan Maziya. "Bernafas lagi dengan benar, Ziya!"


Kalau sedang panik, tampaknya Azkan masih mau memanggil Nama akrab Maziya.


"Kak Azkan mau aku mati ya?" Maziya bangkit dari tidurnya.


"Aku pikir kau sudah tidur"


"Kak Azkan tahu aku nggak bisa tidur kalau lampunya mati" Maziya mengurut dadanya.


"Aku tidak akan pernah tidur kalau lampunya seterang ini?" Azkan merasa frustasi.


"Kak Azkan tinggal masukin kepala dalam selimut!"


"Engap dong. Kenapa kau tidak pindah saja ke Sofa dan pakai Lampu super terang untuk kepalamu saja.


"Aku nggak mau tidur di sofa."


Sudah jam 3 Dini hari, Mereka tidak mau mengalah satu sama lain. Akhirnya mereka membangunkan Barga untuk meminta solusi.


Barga dengan sigap Menganti bola lampu tidur yang terang benderang menjadi remang-remang.


"Dengan begini adil kan." Barga masih menguap menahan kantuknya.


"Aku tidak kepikiran hal ini" Azkan mengusap jenggotnya yang tidak berbulu.


"Aku pamit dulu, Tuan, Nona. Panggil saja aku bila butuh bantuan lagi."


Barga segera menghilang dari pandangan secepat ia datang membawa lampu dan beberapa alat. Azkan dan Maziya tidur dalam keadilan lampu dengan cahaya remang-remang.


Maziya terbangun saat jam menunjukkan pukul 10.


"Mati, aku telat" Maziya menepuk keningnya.


"Nona, Anda mau sarapan apa?" tanya Bi Mirna.


"Dua lembar roti saja Bi!" Maziya berlari ke kamar mandi.


Nyonya Lidia ingin Maziya sarapan yang layak, tetapi gadis itu berdalih karena harus segera ke Perusahaan.


"Papa.." Nyonya Lidia menegur suaminya yang asyik sendiri dengan pemandangan halaman.


"Apa lagi Ma?"


"Bisa-bisanya Azkan minta Ziya kerja padahal mereka baru saja menikah. Malah ditinggal lagi"


"Namanya juga CEO baru. Azkan akan merasakan bagaimana rasanya menjadi Papa." Tuan Alam terkekeh.


"Dasar.. bikin Mama kesal saja...Mama jadi pengin belanja."


"Papa ikut Ma"


"Nggak usah, Papa tatap saja halaman sampai malam!"


"Mama, bantu Papa juga untuk menemui menantu kita tanpa kecurigaan!"


"Buat Apa?"


"Papa mau ngasih ini" Tuan Alam mengeluarkan Blackcard dari sakunya.


"Iya, kalau Azkan tahu bisa panjang urusannya Ma."


"Kalau gitu serahin sama Mama. Kalau Papa begini, Mama akui Papa lebih punya rasa keadilan sebagai mertua."


Tuan Alam mesem-mesem kalau istrinya sudah menggodanya. "Malam ini bisa dong Ma?" Tuan Alam mencolek istrinya.


"Ishh, udah tua juga... Boleh aja." Nyonya Lidia balas mencolek suaminya.


......


Di Ruangan CEO...


"Tuan, pakaian Groomsmens sudah dikembalikan."


"Oke"


"yang dari Dokter Randy?"


"Tidak perlu, aku yakin dia akan menyimpannya hingga berdebu."


"Baiklah Tuan."


Pitaloka, sekretaris yang ingin resign 3 bulan lagi memasuki ruangan CEO. Pakaiannya rapi, wajah tegas dan postur tinggi.


"Pak, apa benar pengganti saya akan datang hari ini?"


"Iya, jangan lupakan satupun hal-hal yang harus ia lakukan!"


"Baik Pak, tapi dia kan istri..." Pitaloka ragu-ragu bertanya.


"Ingatkan pada sekretaris yang lain, tidak ada yang boleh memperlakukannya spesial hanya karena ia Istriku!" perintah Azkan.


"Baik Pak, "


Pitaloka undur diri dan memberitahu hal penting di Kantor Sekretaris yang berada tepat di sebelah Kantor CEO. Di Lantai 50 Perusahaan Pusat SERZIANO Grup, para sekretaris mulai bergosip ria.


"Bukan hanya atasan yang kejam, dia juga suami yang kejam." Chelsea bicara. "Lebih baik juga pacarku yang posesif daripada dia, tidak peduli sama sekali tidak ada rasa kasih sayang."


"Mungkin dia ingin mengajarkan Istrinya juga. Dengar-dengar istrinya baru saja lulus?" Lintang menatap Renald yang biasanya tahu hal-hal semacam itu.


"Iya, sangat muda. Aku dan Adiba baru saja masuk tahun lalu di bagian Sekretaris Inti setelah jadi karyawan bidang lainnya. Artinya kami sudah punya pengalaman." Renald menjelaskan yang tidak perlu.


"Apa urusannya?" Chelsea menatap sinis Renald


"Ada lanjutannya,Tetapi, kami bahkan punya kantung mata seperti ini. Lihatlah wajah cantik Adiba yang memiliki mata panda!" Renald menambahkan.


"Aku tidak ya, enak saja" Adiba melihat cermin memastikan bahwa wajah cantiknya tidak memiliki mata panda.


Semua sekretaris penting itu masuk lewat seleksi ketat dan berasal dari berbagai Departemen. Setidaknya mereka sudah bekerja selama 3 sampai 4 tahun sebelum dipastikan mampu mengemban posisi sekarang.


Di kantor Sekretaris Perusahaan ternama SERZIANO GRUP. Mereka semua berunding tentang karyawan baru yang akan datang dan merupakan Istri dari sang CEO yang sudah terkenal sangat susah dipahami sejak masih jadi direktur Departemen.


"Pokoknya saat dia datang jangan bicarakan apapun yang berhubungan dengan Pak Azkan!. Jangan jelek-jelekin dia!" Lintang, anggota paling senior di Kantor Sekretaris memberi wejangan.


"Jika dia bertanya bagaimana?" Renald bingung.


Adiba menutup cerminnya di meja serta menutup Cat Kuku yang baru selesai ia aplikasikan. "Kalau Kamu memberitahunya dan dia mundur, siap-siap saja kamu yang harus menggantikan posisinya. Ingat, dia adalah istri CEO terlepas dari statusnya yang sama dengan kita!"


"Betul kata Adiba, kalian masuk di tahun yang sama, kenapa Adiba kelihatan lebih senior darimu" Edwin suami dari Pitaloka saat ini membenarkan.


Sementara itu, Maziya mengikuti langkah seorang wanita hamil di depannya. Wanita itulah yang akan dia gantikan sekitar 3 bulan lagi. Azkan bilang, dia harus jadi sekretaris agar bisa menikmati uang bulanan sebagai gajinya.


Susah banget buat dapat uang bulanan. Kalau kelewat batas dikurangi 1 digit lagi'


"Kamu nggak apa-apa?" Pitaloka memperhatikan wajah istri Bosnya tersebut.


"Enggak kok, aku kepikiran saja, telat dimarahin nggak ya?"


"Tidak, Pak Azkan bilang kamu memang datang agak siangan."


"Begitu ya Mbak." Maziya berusaha tetap tenang terkendali.


Pitaloka hanya menjelaskan secara garis besar tentang Sekretaris lainnya. Ia berharap Maziya bisa perlahan menyesuaikan diri.


Bersambung....