
Viola makan di Kantin Firma Hukum VM bersama Miko. Ini waktu yang rumit setelah kepergian Mark ke Korea lalu bubarnya Circle yang membuat hari-hari yang seharusnya dipakai untuk meneraktir Miko harus Tertunda. Apalagi, Miko sudah tidak bekerja lagi di SERZIANO Grup melainkan di VM.
"Makanan di sini enak juga ya.." Viola memecah keheningan.
"Biasa saja sih, tidak seenak dan seluwes saat kita makan di luar." Miko mengisyaratkan pada tatapan banyak karyawan VM ke arah mereka.
"Karena kamu tidak lagi bekerja di SERZIANO Grup. Apa kesepakatan kita batal?" tanya Viola to the point tertular dengan sikap Maziya.
"Kalau kamu mau mengakhirinya aku tidak keberatan." jawab Miko
"Sayangnya aku nggak mau."
"Kamu tidak perlu masih berhutang Budi dengan saranku Vio. Aku tidak mau merepotkanmu."
"Miko, aku suka kamu."
Pernyataan Viola membuat Miko tersedak. Ia panik dan matanya berkeliaran memastikan tidak ada yang mendengar suara Viola barusan.
"Vio, apa barusan kamu sedang?"
"Mmm, aku menyatakan perasaan."
"Tapi..."
Miko berdiri dan menarik tangan Viola menjauh, iya meminta seorang rekan kerjanya membantu merapikan nampan di meja. Miko meminta seorang bawahannya untuk memastikan tidak ada yang masuk ruangannya.
Di sana, Lagi-lagi Miko memastikan apa yang disampaikan Viola. Ternyata benar, Viola menyukainya, belajar dari Maziya yang selalu berterus terang,kalau suka ya suka kalau tidak ya tidak. Viola tidak mau menghabiskan waktu yang ambigu diantara mereka.
"Kalau kamu nggak suka aku nggak apa-apa Miko."
"Bukan begitu Vio, tapi ini terlalu mendadak."
"Aku juga tahu ini mendadak. Tapi aku nggak bisa nunggu lama lagi Miko. Aku emang punya banyak kekurangan, aku tidak setegas Maziya, aku juga selalu kepo dan banyak bicara, aku tidak..."
Miko menghentikan Viola, "Kamu juga spesial dengan ciri kamu sendiri Vio. Tidak usah membandingkan diri sendiri dengan orang lain!"
"Jadi jawaban kamu gimana Miko?. Atau kamu belum siap menerima sosok lain di hati kamu?" Viola benar-benar tidak sabaran.
"Aku terlalu Mendesak ya?. Ya udah kalau gitu kamu pikirkan saja dulu aku..." Viola bangkit dari duduknya.
"Vio, tunggu!" Akhirnya Miko bicara.
Viola kembali duduk dan menarik nafasnya beberapa kali. Ia menyiapkan hatinya sejak lama, ia akan mundur kalau ditolak dan maju jika diterima. Seperti saran Maziya tempo hari.
"Aku pernah begitu lama menyimpan perasaan pada seseorang dan berakhir dengan kekecewaan tanpa usaha. Kini aku nggak mau menyesal lagi."
"Jadi apa kamu?" Mata Viola berbinar-binar.
Sebelumnya, Miko ingin sekali melakukan banyak hal bersama Viola. Bukan karena rasa terima kasih Viola atau rasa kebutuhan semata.
Miko ingin mereka berkencan dalam hari-hari luang bahkan mengenalkan Viola pada Mamanya sendiri. Hal itu terbukti dengan ajakan Miko mempertemukan Viola dan Nyonya Virada beberapa hari kemudian. Akhirnya, mereka resmi berpacaran kemudian.
.....
"Jadi kamu ketemu Nyonya Virada langsung?"
"Bukan cuma ketemu Maziya, kayaknya aku bakal didapuk jadi calon menantu deh." Viola berujar senang.
"Tuh kan aku bilang juga apa. Kamu itu nggak bakal ditolak Miko. Secara dia mau ditraktir dengan kesepakatan konyol."
"Iih nggak konyol Maziya, itu kesepakatan yang adil tahu."
"Iya adil lah, kan kalian sama-sama suka memanfaatkan peluang untuk kesepakatan."
"Maksudnya gimana Maziya."
"Enggak deh, intinya selamat ya udah nggak jomblo lagi. Aku Mak Comblang kamu nih."
"Iya, sayang banget nggak bisa ketemu kamu. Emang perginya berapa lama sih?"
"Aku juga nggak tahu."
"Apa kalian bakalan sekalian honeymoon disana?. Terus bikin anak deh." ujar Viola senang di panggilan yang membuat Azkan berhenti menatap Laptopnya.
"Nggak boleh, disana kita cuma dalam rangka acaranya Perusahaan. Kalau sampai honeymoon keterlaluan sih." Maziya sengaja memperjelas ucapannya agar di dengar Azkan.
.....
Bi Mirna masuk ke kamar dengan beberapa pelayan Setelah dipersilahkan. Bi Mirna sibuk mengatur pakaian ke dalam koper dengan beberapa pelayan lainnya.
Televisi dihidupkan dan Maziya sudah stay dengan tenang duduk di sofa. Sementara itu Azkan duduk di sebelahnya. Ia ikut menatap layar kaca tersebut meskipun matanya melirik istrinya diam-diam.
"Apa yang kamu pikirkan? Masalah besok?. Tenang saja aku sudah siapkan semuanya."
Azkan memberikan potongan buah kiwi dan menyuapi Maziya. Potongan itu dimakan oleh Maziya sembari membuka mulutnya setelah beberapa kunyahan, pertanda ia ingin disuapi lagi.
Maziya menelan potongan buah di mulut, "Aku lega, Viola akhirnya punya pacar. Lalu Kak Rasti dan Kak Randy akhirnya benar-benar memutuskan untuk serius pada pernikahan mereka."
"Lega, ya bagus lah."
Azkan kali ini mengambil potongan strawberry dan menyuapi Maziya lagi juga ikut memasukkan Potongan buah ke dalam mulutnya sendiri.
"Aku lagi menyimpulkan sesuatu." Maziya manggut-manggut paham akan sesuatu.
"Apa hal itu membuat kamu khawatir?. Apa ada hal yang mengganggu dan mengganjal di pikiran kamu?"
"Nggak khawatir sih Kak Azkan, lebih kepada memuji diri sendiri." ucap Maziya.
"Maksud kamu?"
Maziya menepuk dadanya merasa bangga, "Berkat kata-kata dorongan dari aku Viola nyatain perasaannya dan berhasil. Berkat peringatan dari aku Kak Rasti berhasil menyelamatkan hubungannya."
Azkan tidak bisa menahan senyumnya. Bagaimana bisa sikap yang dulu dianggapnya menyebalkan justru jadi terasa Imut.
"Iya kamu pantas dipuji untuk itu." Azkan mengelus lembut kepala Isterinya.
"Kak Azkan." tatapan Mata Maziya mulai mencurigakan.
"Ada apa?" Azkan menautkan kedua alisnya.
"Apa jangan-jangan aku bisa meramalkan hubungan orang lain?. Apa aku sebenarnya juga cocok buat jadi Mak Comblang?. Aku nggak nyangka sih bisa hebat dalam hal ini."
Kalau saja Azkan masih belum menerima keadaan Maziya. Bisa saja ia mengeluarkan kata-kata kejam dan merendahkan imajinasi liar Maziya. Tetapi kini, ia menyayangi istrinya yang memang aneh tersebut.
"Hanya kebetulan saja,"
"Oh begitu ya, Yaudah." Maziya pasrah.
"Masih mau buahnya nggak?" Azkan menawarkan.
"Apa aku coba aja sama Sekretaris Inti ya. Atau Barga."
"Kenapa sama Barga?"
"Barga kan jomblo tuh, sebenarnya aku yakin Barga itu tertarik sama Chelsea."
"Mana mungkin."
"Kok Mana Mungkin sih Kak Azkan? Emangnya Barga Gay?"
"Ziya, Barga itu 100 persen normal "
"Kalo normal masa nggak ada naksir sama Cewek?"
"Iya juga ya, karena Barga selalu serius dan telaten di pekerjaannya aku sampai tidak kepikiran untuk hal itu." Azkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Makanya Kak Azkan harusnya lebih perhatian sama dia."
"Udahlah besok ditanya."
"Jangan ditanya dong Kak Azkan!"
"Tetapi?"
"Kita pergokin dia."
"Gimana caranya?"
"Ada saatnya, mungkin saat acara sama Sekretaris Inti ini. Aku yakin bisa nunjukin kalo Barga itu ada rasa sama Chelsea."
"Terserah kamu saja."
"Tapi Sekretaris Barga nggak akan marah kan?"
"Dia tidak akan berani memarahimu."
"Okke."
Bersambung...