The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
72. Bukan Acara Biasa



Setelah acara keakraban mereka selesai. Beberapa hari ke depan mereka bisa menikmati berbagai kegiatan di Pulau tersebut.


"Sudah kubilang kan, pantas saja aku tak pernah merasakan perjalanan semewah ini." ujar Lintang.


"Iya, ini adalah kedok untuk Tuan Azkan membahagiakan Istrinya. Apa ini honeymoon mereka?" Edwin menduga-duga.


"Tidak mungkin Honeymoon sekalian kerja Edwin. Apalagi dengan kepribadian Tuan Azkan." Lintang berpendapat.


"Kenapa tidak Bang?" tanya Renald tak paham.


"Karena Tuan Azkan selalu menjadi yang paling elit untuk urusan dana Perusahaan. Kamu kan sempat bekerja dengannya, gimana sih." sesal Adiba


"Eh iya benar, aku hampir lupa fakta itu. Pasti karena Akhir-akhir ini Tuan Azkan terlihat berbeda. " Renald menyetujui.


"Tunggu, biasanya ada yang paling tidak suka dengan kelambanan kamu Renald." Lintang melihat ke sama kemari.


"Iya, Chelsea." tambah Edwin. "Dia kemana Adiba?"


"Mau Update Status katanya. Biar orang lain nggak komen terus kalau dia lagi sedih Habis Putus sama Mantannya itu." terang Adiba.


"Sudah sangat lama, apa masih ada yang peduli?" Renald tak paham.


"Renald, kamu itu nggak tahu apa-apa diam aja deh!" gerutu Adiba kesal.


"Kan cuma kasih pendapat. Udah lama juga pasti nggak bakal ada yang ngeh." Renald tak mau kalah.


"Biar saja, Chelsea selalu memikirkan hal yang sudah lalu lebih dari kita semua." Edwin melerai perdebatan mereka.


........


Chelsea membuat Vlog singkat. Intinya ia sangat bahagia dan merasa bebas. Ia tak akan terkait lagi dengan apa yang sudah terjadi dalam hidupnya. Baik itu kehidupannya maupun percintaan.


Saat Chelsea selesai, ia menyimpan ponselnya. Ia hidup udara dalam-dalam lalu dibuangnya.


"Sudah plong?"


Suara seorang laki-laki terdengar dari arah belakang. Rupanya itu Barga yang kebetulan juga sedang menikmati pemandangan dan suasana.


"Sekretaris Barga?, ngapain disini?"


"Apa ada palang yang melarang aku ada disini?"


"Maksudku, banyak tempat lainnya. Apa harus disini juga?"


"Kebetulan View disini yang paling enak dan nyaman."


"Terserah, " Chelsea berjalan dengan cepat berniat meninggalkan Barga.


Namun setelah beberapa langkah, iaberbalik dan menghampiri Barga yang sedang duduk dengan secangkir kopi di tangannya itu.


"Aku penasaran akan sesuatu"


Tidak ada tanggapan apapun dari Barga.


"Sekretaris Barga." Chelsea terdengar kesal


"Tanyakan saja!" Barga menyeruput Kopinya.


"Bisa dibilang ini terkait perusahaan atau juga bisa dibilang tidak."


"Jangan berbelit-belit,ini bukan gayamu Kan." ujar Barga.


"Baiklah aku memang tidak suka berbelit-belit.


Bagaimana Nona Maziya yang lembut bisa menjadi jodoh Tuan Azkan yang kejam." Ujar Chelsea.


"Aku tahu kenapa kamu terjebak dengan mantanmu yang dahulu."


"Kenapa menyinggungnya? Sekretaris Barga jawab dulu pertanyaan ku!"


"Aku menjawabnya dengan pernyataan bahwa aku tahu alasan kamu dan mantanmu itu..." Barga tidak menyelesaikan kalimatnya karena Chelsea duluan memotongnya.


" Barga, jangan mentang-mentang kamu dekat dengan Tuan Azkan kamu bisa lebih berkuasa dan seenaknya juga ya."


"Aku jawab pertanyaan mu, tapi izinkan aku juga memberikan pendapat terhadap mu" tawar Barga.


"Pendapat?. Baiklah." tantang Chelsea.


"Tuan Azkan dan Nona Maziya. Mereka berdua lebih dekat dari apa yang kamu bayangkan. Lebih memahami dari apa yang terlihat. dan yang terpenting, hanya Nona Maziya yang bisa menundukkan Tuan Azkan dan hanya Tuan Azkan yang bisa memahami Nona Maziya." jelas Barga.


"Apaan dah, kamu ngarang ya. Kamu niru adegan Dramatis pada Sinetron?"


"Aku menjawab pertanyaanmu kan. Sekarang giliran ku untuk berpendapat terhadap mu"


"Tentu saja, walaupun jawabanmu barusan membingungkan tapi ya cukup menjawab lah." ujar Chelsea, "ya sudah ayo, biar aku dengar apa yang coba kamu komentari dariku!"


"Kamu tampak seperti Singa Betina yang garang."


"Tentu saja," Chelsea menyela dengan percaya diri.


"Aku belum selesai Chelsea!"


"Kamu tampak seperti Singa Betina yang garang, tapi di luar nya saja. Sebenarnya kamu rapuh dan juga penuh dengan berbagai tuntutan diri yang coba kamu pendam sendiri."


"Apa yang kamu coba katakan Barga?" Chelsea berkacak pinggang." Kamu menghinaku?"


"Dengan sikap itu kamu tidak mampu melawan mantanmu yang keterlaluan. Kamu juga pasti tidak sadar bahwa Nona Maziya juga tidak selembut itu."


"Apa sih, cobalah bicara dengan bahasa Manusia Barga!"


"Aku harus pergi.."


Chelsea menahan lengan Barga. "tunggu dulu!"


"Ada apa. Dilarang bertindak tidak formalitas di dalam kegiatan ini Sekretaris Chelsea!"


"Bukannya kita udah selesai kegiatan formal nya. Kan Tuan Azkan sendiri yang bilang kita bisa nikmatin waktu disini anggap sebagai liburan kan."


"Aku masih sibuk." Barga melepaskan tangan Chelsea.


"Tutup mulutmu, kamu juga hanya bisa berpaling kan?. Seingatku, kita pernah bertemu sebelumnya kan."


Barga berhenti melangkah, Ia berpikir bahwa hanya Ia saja yang mengingat pertemuan singkat mereka tersebut.


"Kamu petugas bengkel yang waktu itu memberikan aku Tisu. dan juga, kamu pernah memukuli mantanku hingga ia berbalik menyerang ku saat kami kembali."


"Kupikir kamu nggak ingat itu."


" Akhirnya kamu masih berpura-pura tidak terjadi apa pun juga berpura-pura tidak terganggu dengan kehadiran ku kan?. Aku pikir kamu memang tak mau mengingatnya makanya aku ikut berpura-pura tidak mengenalmu."


"Maaf."


"Heh?"


"Aku memberikan tisu karena kupikir ada hal lain dan tidak terkait dengan mantanmu saat itu. Aku merasa kalian saling menyayangi. Aku juga memang memukuli mantanmu saat aku tahu kalian putus. Tapi aku juga tak menyangka kalau kalian balikan lagi. Aku hanya menghabiskan tenaga."


"Tetap saja aku berterima kasih walaupun harus menderita."


"Jika hal itu membuatmu menderita aku minta maaf, tidak perlu berterima kasih padaku." Barga pergi dengan segera.


"Setidaknya jelaskan alasanmu melakukannya!"


"Hanya alasan kemanusiaan."


"Oke pada pertemuan pertama itu bisa dibilang kemanusiaan. Tapi memukuli mantanku saat itu sepertinya kita sudah cukup tahu di Perusahaan."


"Kemanusiaan antar rekan kerja." Jelas Barga.


"Benarkah hanya itu?" tanya Chelsea lagi.


"Memangnya apa lagi?"


"Apa tak ada alasan pribadi lainnya?"


Barga segera pamit takut Tuan Azkan mencarinya. Sementara Chelsea terus berteriak menanyakan alasannya pada Barga.


Barga sempat berhenti lagi sebentar , namun keraguannya membuat ia memutuskan untuk tidak berbalik.


"Cukup katakan kamu menyukainya!"


Entah datang darimana Maziya muncul membuat Barga mengeluarkan kuda-kuda.


"Iya Barga,." tambah Azkan yang kehadirannya ikut membuat Barga terperanjat ringan.


"Aku sepertinya masih ada kerjaan." Barga ngeles.


"Tuh kan, kamu mengalihkan bahasan." tunjuk Maziya.


"Aku selalu menawarkan agar kamu mencari seseorang. Usiamu lebih tua dariku tapi kamu bahkan tidak pernah membahas tentang kekasih sekalipun." Azkan mengingat kembali.


"Aku tidak tertarik dengan hal itu Tuan. Aku akan menjadi sekretaris yang baik dan kompeten untukmu."


"Siapa bilang sekretaris yang kompeten harus lajang seumur hidup?" tanya Maziya.


Barga meninggalkan sepasang suami istri yang kepo itu.


"Pantas saja, waktu nganterin aku dan Chelsea ke rumah sakit. Aku lihat wajah Sekretaris Barga khawatir. Rupanya dia khawatir dengan Chelsea."


"Benarkah?. Aku tidak memperhatikannya."


"Kan, aku bilang juga apa Kak Azkan. Barga itu punya sesuatu untuk Chelsea. Aku memang Mak comblang yang baik " Maziya menepuk Dadanya.


"Daripada menjadi Mak Comblang buat orang lain. Apa kamu tidak mau kita..." Azkan memberikan tatapan nakalnya.


"Enggak, kan udah aku bilang nggak mau barengan sama acara Perusahaan." sungut Maziya.


"Tapi ini bukan sekedar acara Perusahaan biasa Ziya. Aku sengaja memesan Seluruh Pulau untuk....."


Maziya berjalan duluan tanpa mendengar penjelasan Suaminya dengan lengkap.


Bersambung....