
Maziya melihat pantulan dirinya di cermin ruang ganti. Ia memilah gaun yang sekiranya paling cocok dan mampu membuatnya terlihat mewah dan menakjubkan.
Akhirnya, pilihan Maziya jatuh pada gaun bewarna orange yang sangat pas dengannya. Ia juga mengambil perhiasan bewarna keemasan yang cukup mencolok.
"Kak Azkan gimana penampilan aku?" Maziya keluar sembari menenteng perhiasan hendak menuju meja rias.
"Ganti!" Azkan tidak melirik istrinya itu sedikitpun saat menyuruhnya ganti pakaian.
"Ini bagus loh, terus harganya..."
"Ganti!" ujar Azkan sekali lagi sambil menggulirkan layar ponselnya.
"Lihat dulu kek?"
"Apa yang harus aku lihat?. Setelan minim yang panjangnya tak lebih dari selutut atau gaun tanpa lengan dan ada lengan tetapi setipis tali Bra ?"
Kini Azkan menatap istrinya. Benar sekali, Maziya memang suka dengan style baju minim seperti itu sejak dahulu.
"Kak Azkan masih hafal apa yang biasa aku pakai ya."
"Setelan itu juga tidak akan membuatmu tambah tinggi."
" Kalaupun tidak akan menambah tinggiku, Itu Setelan yang cocok denganku tahu." sungut Maziya.
"Pakailah Setelan yang setidaknya agak tertutup karena kita berhadapan dengan anak-anak yang masih polos dan mengambil contoh!"
"Terus pakai baju kek gimana coba?" Maziya menurunkan suaranya.
Azkan memanggil Bi Mirna masuk.
"Iya Tuan."
"Pilihkan Pakaian yang pas untuknya. Kami mau ke Panti!". Azkan berjalan mau keluar, “Satu lagi, pilihkan yang senada dengan punyaku!”
"Oh baik Tuan..."
Bi Mirna mengambil baju model belted top berwarna Krem dengan celana hitam yang dipadankan dengan Ikat pinggang mahal. Pakaian tersebut memang cocok untuk kegiatan semi formal bagi wanita kelas atas seperti Maziya. dan harganya pun sesuai selera Maziya.
Maziya menatap setelan tersebut untuk beberapa saat. Tetapi dia lebih suka baju tanpa lengan. Baik model tank top atau Cropped top yang memperlihatkan setengah perutnya atau off shoulder top untuk memperlihatkan bahunya.
"Ini warna kesukaan Kak Azkan sih, tapi modelnya kayak Pakaian ngantor."
"Nona, anda akan terlihat lebih berkelas dengan Pakaian ini. Apalagi ini cocok dengan warna setelan yang dipakai Tuan Azkan." Bi Mirna memberikan pendapat.
"Lebih tepatnya ini yang cocok dengan setelan yang dipakainya kan Bi, Memang sih kalau serba cocok dengannya aku tak akan menolak. ya sudah kalau begitu bantu aku dengan rambutku saja!" Maziya menerima dengan lapang dada.
"Baik Nona."
Maziya melihat ke cermin. "Apa rambutku disanggul saja, biar lebih kelihatan sosialita?"
"Disanggul juga bagus Nona. Wajahmu cantik jadi model apa saja juga pasti cocok."
"Bi Mirna, aku sekarang tahu mengapa Mama menginginkanmu untuk tinggal dan Papa juga Kak Azkan mengizinkan. Bahkan bisa dengan mudah keluar masuk kamar Keramat Kak Azkan ini."
Maziya untuk melanjutkan ucapannya. "Tentu karena sikapmu. Rasanya nyaman berbicara denganmu. Biasanya pelayan lain akan selalu mengeluh denganku kalau masalah selera juga mereka biasanya murahan."
"Bibi tidak berhak mengeluh Nona. Bibi selalu bertindak sesuai tugas."
"Ya sudah, aku mau disanggul tinggi saja."
Model rambut disanggul seperti beberapa idola korea yang nangkring di Majalah dan artikel. Maziya pilih agar wajahnya terlihat lebih fresh saja.
"Disanggul tinggi Nona?" tanya Bi Mirna bersiap untuk membantu Maziya.
"Ah istilahnya Messy Bun, bibi tahu?"
Bi Mirna menggaruk tengkuknya bingung. "Bibi tahu model sanggul tapi mesi itu? apa gaya rambut pemain bola?"
Maziya terkekeh,"Itu Lionel Messi Bi. Biar aku saja, jadi Bibi ambilkan perhiasan yang cocok saja!"
“Baik Nona.”
“Satu lagi Bi, ambilkan juga untukku sebuah jepit rambut!”
“Baik Nona.”
Bi Mirna tergopoh-gopoh masuk ke ruang ganti untuk mencari kalung dan juga anting yang cocok dengan warna pakaian Maziya. Ia mengambil kalung mahal serta anting kecil dengan harga fantastis.
Tak lupa juga ia menimbang dari deretan jepit rambut mewah berbagai jenis. Ia selalu mengingat pesan Nyonya Lidia, apapun yang diberikan pada Maziya harus yang paling mahal dan paling mewah. Sehingga ia mengambil jepitan melengkung dengan warna perak serta tambahan permata kecil di sepanjang jepitan.
....
Di Panti Asuhan Galanga....
Maziya turun setelah Barga membukakan pintu. Lagi-lagi dia harus menahan sebal sembari meniup anak rambutnya yang tidak bisa dicover jepit rambut.
"Baju oke, celana oke, Anting, kalung bahkan jepit rambut pun oke.” Maziya menunjuk semua yang ia sebutkan, “Tapi ....” Maziya melihat kakinya sembari membuang nafas kasar.
Lagi-lagi Azkan menyuruhnya memakai sepatu Sneakers bewarna Putih. Apalagi ditambah dengan mengingat cara darurat untuk pertahanan diri dimana ia harus membuat lengkungan di tanah agar sepatu itu dapat dialiri listrik.
“Sangat bagus untuk anda Nona, harganya juga sangat mahal karena dipesan khusus dari Swiss.” Barga setia membela apa yang diatur Azkan.
“Mau dibeli di ujung dunia juga tetap saja kelihatannya sangat biasa, orang marathon juga banyak yang pakai ini.”
“Anda mungkin tidak tahu kalau ini hanya ada..”
“Hanya ada sepasang?. Sangat klise.” Maziya bersungut-sungut menunggu suaminya yang tidak juga keluar dari mobil.
"Aku juga pakai jadi jangan banyak omong!" Azkan ikutan turun dengan memakai Sneakers pasangan dari Maziya.
"OMG, ternyata Kak Azkan pakai juga?. Kok nggak bilang dari tadi?. Kapan makainya coba? Tadi kayaknya Kak Azkan nggak pakai pas kita berangkat?" Maziya mengingat-ingat lagi.
"Aku pakai barusan, Barusan kuganti, paham!." Azkan menekankan suaranya. "Lagipula mulutmu itu nyerocos saja sepanjang perjalanan, apa menurutmu aku ada kesempatan bicara?"
Tiba-tiba Maziya mendekat,"Gitu ya, foto dulu yok!"
"Ngapain?"
"Iih buat kenang-kenangan. Kemaren nggak sempet foto soalnya. Kapan lagi coba lihat Kak Azkan pakai sepatu kaya gini."
"Aku selalu pakai sepatu seperti ini saat di panti asuhan. Kita kesini untuk kerja kau ingat kan apa yang kukatakan?”
“Iya iya tahu, orang lain ultah pada seneng-seneng bukannya kerja.”
“Disini juga kau harus bersenang-senang, awas saja kalau kau menampakkan wajah tengilmu pada anak-anak disini!”
“Iya Kak Azkan, tadi juga sepanjang perjalanan Kak Azkan udah ingatin aku. Tapi foto dulu yok.” kekeh Maziya masih ingin berfoto.
Azkan mendorong kening Maziya dengan telunjuknya. “Nanti juga ada sesi Fotonya."
Maziya berubah manyun. "iihh.."
"Benar Nona, Nanti akan aku fotokan dengan baik bahkan Angle yang pas."
"Angle yang pas?".
"Iya Nona, angle itu bisa dibilang posisi atau sudut yang bagus dan tepat dalam pengambilan gambar untuk menghasilkan foto yang aesthetic."
"Aku juga tahu apa itu angle Sekretaris Barga, kamu yang jangan sok tahu, Cuma Viola yang bisa ambil angle yang pas."
Memikirkan Viola dan juga Angle foto, Maziya mendapatkan ide Ia mendongak menatap Azkan, "Boleh nggak aku .."
"Nggak boleh.." Azkan langsung memotong ucapan Maziya.
"Belum ditanyain juga."
"Jangan ajak temanmu. Satu orang sepertimu saja sudah sangat merepotkan apalagi dua." sindir Azkan pada Maziya.
"Tapi dia itu fotografer handal."
"Barga juga bisa."
"Barga?" Maziya menaikkan bibirnya sebelah meremehkan.
"Jangan remehkan Barga, dia bahkan lebih ahli dibanding temanmu tanpa mengambil jurusan Fotografi." Azkan memuji Barga.
"Benarkah?" Maziya Menaik turunkan alisnya tak percaya.
"Iya Nona, karena aku sempat menjadi fotografer jalanan dahulu. Bahkan aku juga bisa mengambil potret bagus meskipun saat Nona tak sadar. Namanya Candid Nona"
"Aku juga tahu istilah itu."
Maziya semakin menyadari bahwa Barga dan Azkan memang cocok. Baik dari beberapa tindakan juga ucapan yang menjengkelkan tanpa disengaja atau juga disengaja.
Bersambung....