
Dalam acara resepsi pernikahan, bintang tamu yang hadir tidak main-main... Para konglomerat berbagai utusan dan kolega dari Perusahaan dan grup besar baik dalam maupun luar negeri hadir.
Maziya terus memegang buket bunga dengan wajah sumringah di tengah lelahnya ia dalam menikmati acara. Terlebih, Azkan yang sudah resmi jadi Suaminya sama sekali tidak perduli dan seolah berperan palsu bahagia dalam pestanya demi memuaskan pandangan para tamu.
Maziya meringis kesakitan karena high heels yang dipakainya selama berjam-jam.
“Maziya, kamu mau lepas high heels nggak?” tanya Viola berbisik.
“Enggak, nanggung acaranya dikit lagi.”
“Lagian, pakai high heels juga tetap saja pendek.”
“Kalo Kak Azkan nggak bisa ngomong yang baik, lebih baik diam!” Maziya berusaha keras menyembunyikan kekesalannya.
“Berani banget nyuruh-nyuruh.”
Saat sesi salaman, tampak sekali Azkan tidak memperlihatkan raut kecewa. Meskipun ia terpaksa menikahi Maziya, ketika ditanya jawabananya selalu menakjubkan, ia menyukai Maziya, ia tertarik dengan gadis itu.
Entah siapa yang lebih palsu di antara kita Kak Azkan.
Maziya melirik Azkan sembari berusaha menahan air mukanya.
.....
Di meja-meja outdoor para tamu menikmati minuman dan makanan mewah senilai jutaan rupiah per porsi.
“Pacar baru kamu ternyata Ririn kak?” tanya Miko pada Mark.
Mark terus tersenyum ke arah Bridesmaids. Satu-satunya yang membalas senyumannya hanya Ririn.
“Iya, bentar lagi juga putus, kita jarang ketemu.”
Sudah bukan hal tabu lagi bagi Miko melihat hubungan singkat Kakaknya. Meskipun mantan pacar Mark merasa dirugikan, mereka tak berkutik kalau sudah diadu dengan mulut Mark yang paham tentang Pasal-pasal dan hukum yang tentunya tidak dipahami orang awam.
"Tapi kali ini lama kan dari biasanya?." tanya Miko.
"Karena kepribadiannya unik. Kita memahami posisi masing-masing."
"Bukan karena udah terlalu banyak rugi?. Salah siapa mau membiayai kuliahnya, dia kan sudah kaya." Miko meledek.
“Tidak masalah, berkat dia, aku mengenal gadis yang lebih menarik.”
Ririn perlahan menemui Mark saat antrian salaman begitu panjang ditambah dengan sesi foto dahulu.
“Kamu datang juga?”
“Tentu saja, aku mau melihat kecantikan pacarku yang menyapu seluruh gadis disini.”
Ririn langsung kesemsem dengan sedikit pujian yang sudah lumrah di kalangan buaya-buaya macam Mark Choi. Miko perlahan undur diri tidak mau mendengar percakapan dua sejoli tersebut.
Miko sudah sangat sering bersabar saat tidak sengaja mendengar ungkapan bucin kakaknya yang sangat suka berganti pacar. Mark adalah tipe yang loyal dan tak segan-segan menggelontorkan uangnya untuk jalan-jalan atau berperan layaknya sugar daddy. Bagi Mark, memacari gadis yang menurutnya menarik adalah sebuah prestasi dan ia bangga akan hal itu.
Meskipun Ririn tahu bagaimana kelakuan pacarnya itu, dia tak masalah. Karena dia juga hanya pacaran untuk sekedar memanfaatkan kekayaan pacar-pacarnya.
Mark adalah yang paling loyal sejauh ini sehingga Ririn memutuskan untuk bertahan selama lebih dari dua tahun. Mereka adalah bukti nyata dari istilah couple with benefits yang sesungguhnya.
Ririn kembali ke barisan Bridesmaids saat Mark ikutan antri di belakang Nyonya Virada bersama Miko.
Mark awalnya sekedar salaman dengan Azkan sama seperti Mama dan adiknya. Hingga saat ia menjabat tangan Maziya yang memakai sarung tangan berenda ia sedikit membungkuk dan berbisik.
Kebetulan Azkan juga masih mengobrol dengan seseorang yang berada tepat di barisan belakangnya.
“Kenapa memakai sarung tangan, aku tak bisa menyentuh tanganmu."
"Ini keharusan agar lelaki sepertimu tidak sembarangan menyentuh tanganku!" balas Maziya tanpa terganggu atau merasa risih.
Menarik, mendengar balasan Maziya membuat rasa penasaran dan ingin memiliki Mark makin menjadi-jadi.
Bisikan Mark sukses membuat Maziya kaget hingga hampir tumbang ke belakang kalau saja tangan kiri Azkan tidak sigap memeganginya.
“Maaf, aku sepertinya sedikit mendorong istrimu.” Mark tersenyum pada Azkan kemudian berlalu seolah tak terjadi apa-apa.
Maziya benar-benar tidak habis pikir, beraninya Mark mengatakan hal itu di hari resepsinya. Apalagi disana pacar Mark adalah teman Maziya sekaligus jadi Bridesmaids nya.
Maziya melirik Ririn yang menatapnya sinis di samping Viola yang kebingungan. Maziya terpaksa kembali mengeluarkan senyuman palsunya untuk menutupi keterkejutannya.
...
"Kau mengenal lelaki sipit itu?" tanya Azkan sembari terus tersenyum pada barisan para tamu.
"Tentu saja, dia pacarnya Ririn."
"Salah satu Bridesmaids?" tanya Azkan.
Maziya mengangguk. "Dia juga putra keduanya Nyonya Virada. Kak Azkan lihat kan dia akrab dengan Nyonya Virada."
Azkan memutar bola matanya. "Bahkan putra misterius dari Nyonya Virada saja kau tahu?"
"Dia sendiri yang mengatakannya pada kami sewaktu Ririn memperkenalkannya. Saat itu..." Maziya berhenti menjelaskan.
"Kenapa berhenti?"
"Kenapa juga aku harus menjelaskannya secara detail buat Kak Azkan. Kamu bisa menggali informasinya sendiri kan?"
"Tidak masalah tentang informasinya. Tapi Apa yang ia katakan?"
"Apanya?" Maziya bernada ketus.
"Apa yang dia katakan hingga kau sampai terkejut?"
"Tidak terlalu penting."
"Tidak penting tapi kau seperti kehilangan nyawa untuk beberapa detik. Apa dia mengancam mu?"
Kelemahan Maziya ya itu. Dia kuat, banyak akal pandai berkata-kata. Tetapi kalau sudah merasa diancam secara berlebihan alias menyentuh kelemahannya, nyalinya langsung ciut macam tisu yang terkena air.
"Tidak." jawab Maziya.
Percakapan mereka terhenti lagi karena ada tamu luar negeri yang mengajak Azkan bicara. Bukan kaleng-kaleng, mereka menggunakan bahasa yang tidak dipahami Maziya.
Jangankan bahasa lain, bahasa Inggris saja Maziya masih bisa dikatakan tidak mahir-mahir amat. Maziya hanya ikut mengangguk saat mereka seolah menunjuk dirinya di sela percakapan karena memandangnya sambil menganggukkan kepala.
Ikutan mengangguk aja deh orang akunya nggak ngerti. Lagian ini tamu apa acara Kerjasama Luar negeri sih. Perasaan mereka wajahnya beda-beda semua.
Maziya mencoba bergerak-gerak agar kakinya tidak terlalu keram. Ditambah lagi high heels yang ia pakai sangat menyiksa dan kini terasa berdenyut.
Maziya sekali lagi hampir oleng karena kakinya tiba-tiba saja lemah karena kelamaan berdiri sementara antrian tak juga usai. Azkan sekali lagi menahan tubuh Maziya dengan lengan kirinya yang kekar.
"Sudah kubilang tak ada gunanya pakai high heels!"
"Biar keren gimana sih Kak Azkan."
Azkan memberi isyarat pada Barga yang berada dalam barisan Groomsmens. Setelah dibisiki sesuatu, Barga kembali dengan membawakan satu kursi.
Rupanya kursi tersebut untuk Maziya saja.
"Kak Azkan gimana?"
"Pikirkan dirimu sendiri yang kalau oleng membuat keributan. Jangan merusak resepsi dan ekspektasi para tamu!"
Azkan memegangi ketiak Maziya menaikkannya ke kursi seperti anak kecil. Maziya tahu, meskipun Azkan tidak memberikan kursi untuk kenyamanannya, tetap saja perhatian itu membuatnya sedikit senang. Acara pun berlanjut sampai malam dipandu MC pilihan.
Bersambung....