The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
55. Debat



"Maziya maaf yaa..."


Viola masih terus memohon di sepanjang perjalanan menuju lantai atas di Restoran MOCY. Tempat pertemuan Circle mereka untuk menceritakan tentang gosip paling HYPE. Tak lupa juga untuk pamer kehebatan masing-masing. Atau juga bisa, pamer kehebatan pasangan masing-masing.


"Kamu pasti lebih menganggap Miko sebagai sahabat kamu dibanding aku Viola." Maziya terus berpangku tangan.


"Enggak, aku beneran cuma mau menyalurkan wujud makasih aku dengan benar Maziya."


"Jangan-jangan kamu naksir lagi sama dia?"


"Enggak kok Maziya, dia ada rencana memang buat masuk ke SERZIANO Grup.."


"Apa?"


"Iya dan aku juga ngasih semangat."


"Kamu ngasih semangat?"


"Kan biar dia bisa terbiasa buat lupain perasaannya kan."


"Aku yakin kamu udah bilang juga kalau aku tahu tentang perasannya." tebak Maziya


Viola mengangguk membuat Maziya terus menarik nafasnya.


"Aku memang pantas dihukum untuk mulut ini Maziya." Viola menepuk pelan mulutnya.


"Bukan hanya itu Viola. Kalau dia beneran diterima dengan kemampuan nya?" Maziya berhenti sejenak, "aku bahkan sangat yakin diterima sih. Tapi kan..."


"Tapi apa Maziya?"


"Tapi pasti kita jadi canggung gituloh. Terlebih lagi kalau aku ngelihat dia, aku nggak bisa menghilangkan Bayangan kakaknya yang Sok ganteng itu."


"Aku bisa jamin kalau Miko nggak akan bikin kamu nggak nyaman Maziya. Bukannya kita mengenalnya sejak masuk kuliah, kamu terutama lebih mengenalnya, dia rela mengorbankan banyak hal demi keperluan kamu."


"Emangnya aku peduli itu Viola?" Maziya tidak merasakan apa-apa. "Kenapa kamu yang jamin dia Viola. Aku makin yakin kalau kamu ada rasa sama dia."


"Itu nggak penting, kamu maafin aku yang penting ya.." Viola memelas sembari terus menggoyang tubuh Maziya.


"Iya deh Aku maafin. Mana sanggup aku nggak berhubungan sama Kamu. Masalah Miko biar nanti aku atasi sendiri."


"Yeah, kamu memang benar benar Ratu Maziya yang tidak akan goyah dengan apapun kecuali hal yang membuat kamu tertarik." Viola tersenyum bangga.


"Udahlah, ntar kedengaran orang lain. Atau bisa jadi aja ada Ririn atau Aliza yang ngintipin kita!"


"Mereka udah sampai kok Daritadi Maziya."


"Tumben cepet, bukannya mau datang di akhir biar kita ternganga gitu?"


"Sekarang mana berani Maziya. Kamu lebih Wah daripada mereka, terutama Ririn."


"Itu pasti." Ujar Maziya pede.


......


Setelah mengemukakan gosip yang pastinya lebih dulu diketahui Maziya. Mereka kini mulai ke babak pamer.


Viola hanya dapat pamer pekerjaan barunya sementara Aliza, Ami dan Stella masih begitu-begitu saja. Belum mau mengakhiri hubungan dengan pacar kaya mereka.


Kini beralih ke Maziya, "Sepertinya aku tidak perlu mengatakan betapa loyalnya pasanganku. Eh suami maksudnya."


Maziya langsung menyingkirkan anak rambutnya ke belakang telinga, tindakan sengaja untuk memperlihatkan anting berlian di telinganya. Bukan itu saja, ia bahkan mengelus tas edisi khusus yang tidak dapat dibeli dimanapun kecuali dipesan langsung ke Swiss.


'untung aja masih ada hubungan dengan Mr Peter. Aku jadi bisa mesan barang-barang ini. Jangan sampai ketahuan Kak Azkan sih. Semua uang bulanan udah abis buat ini.


"Kamu hebat ya Maziya." Ririn bertepuk tangan tiga kali.


"Kamu baru sadar?. Apa sekarang mulai ngerasa nggak pantas sebagai ketua?" tanya Maziya.


"Kalau suami kamu seperhatin ini, mengapa dia tidak bisa menghentikan pacarku untuk terus menerus menemuimu?"


"Jadi kamu tahu masalahnya?" Maziya pura-pura kaget.


"Lebih baik kita bahas hal lain aja gimana?" Amy merasakan hawa panas yang mulai memuncak.


"Sekarang aja kenapa sih Amy?" Stella penasaran.


"Eh kamu jangan ngomong sembarangan Aliza. Kata siapa Maziya nyembunyiin hal itu?" Viola langsung nyolot dengan tatapan tajam pada Aliza.


"Kalian diam dulu, ini masalah serius antara aku dan Maziya." Ririn menghentikan sambut menyambut anggotanya.


"Seperti nya kamu sudah tahu Ririn, bagaimana kelakuan pacar kamu. Bahkan sejak ia datang ke pesta resepsi. Atau mungkin sejak pertama kali kamu mengenalkannya pada kami."


"Maksudnya?"


"Kamu tahu sendiri dia sengaja memancing perhatianku." Maziya menatap lekat mata Ririn.


"Kamu juga bisa ngelak kan?" Ririn tak mau kalah.


"Mengelak?. Itu bukan gayaku. Kamu bisa tanya sendiri. Dia sudah dapat dua peringatan karena menggangguku. yang ketiga kalinya. Ia bisa kehilangan Firma Hukum VM lebih cepat."


"Hah?" Ririn cukup kaget dengan pernyataan Maziya. "Jangan mengancam ku ya!"


"Itu bukan ancaman. Hanya peringatan, lagipula yang memberikan peringatan adalah suamiku sendiri. Jadi kalau kamu masih ingin mempertahankan hubungan dengan Pengacara hebat VM, juga bekerja disana. Tolong ingatkan pacar kamu. Cuma 1 kesempatan lagi jangan sampai kebobolan!" Maziya tersenyum.


Semua orang terdiam, Maziya kini menyentuh Steiknya yang mulai dingin. "Ah nggak enak lagi udah dingin."


Bukan hanya steik saja yang menjadi dingin. Percakapan mereka juga menjadi dingin karena tidak ada yang memulai obrolan lagi. Selalu seperti itu sejak awal. Pada dasarnya Ririn adalah ketua dan Maziya wakilnya.


Setelah mereka berdebat, pertemuan sudah harus diakhiri karena tidak akan ada yang mau mengucapkan kata maaf. Mereka akan kembali bertemu pada Minggu, atau bulan berikutnya Seolah pertemuan sebelumnya sudah selesai.


Usai pertemuan, Semua orang beranjak pergi termasuk Viola. Maziya duduk disana, melihat ponselnya yang memperlihatkan posisi Azkan.


Kak Azkan kesini buat nemuin aku atau Rasti?. Mustahil juga ada Rasti disini. Tapi kan Sekarang udah malam. Nggak mungkin dia masih di Perusahaan. Pasti mereka juga mau ketemuan disini Di Rooftop. Aku pura-pura nggak tahu aja kali ya. Tapi dia kan tahu posisi aku.


Semakin lama, Maziya menyadari kalau Azkan menuju ruangannya. Benar saja, suaminya itu kini berjalan perlahan ke arahnya.


Maziya tergagap, ia segera melepaskan antingnya juga perhiasan lain seperti cincin dan jepitan rambut. Lagi proses untuk melepaskan anting, Azkan membuatnya berhenti.


"Tidak usah dilepas, pakai saja. Ayo ikut aku!" Azkan menarik tangan istrinya.


"Kita mau kemana Kak Azkan?"


"Rooftop" jawab Azkan singkat.


Sesuai dugaan, Maziya duduk bersama tiga sahabat dengan kisah cinta segitiga yang tidak pernah disadari tersebut. Saat Steik terhidang, tanpa basa basi Maziya langsung memotong dan memakannya.


"Tadi kan kamu sudah makan?" tanya Azkan dengan nada biasa.


Kalau ada Sahabatnya aja, bisa ngomongnya Alus begitu. Kalau sama aku pasti Kau, kau, sampah, parasit dan sebagainya.


"Tadi Udah dingin, udah nggak enak." Maziya melahap kembali steik tersebut.


"Ooh begitu ya, makanlah perlahan!"


Azkan bahkan mengelus punggung Maziya dengan sangat lembut. Membuat istrinya itu kini bergidik ngeri dengan perubahan yang ada. Perasaan yang terkena Bipolar sehingga mudah berganti Suasana hati adalah dirinya. Mengapa Azkan juga tiba-tiba menjadi aneh.


"Kalau dingin, kami punya pelayanan memanaskannya ulang tanpa merusak citarasa." Rasti merusak suasana.


"Dipanaskan ulang?. Aku cukup terkejut dengan pelayanan Restoran ini. Apa seharusnya kalian tidak masuk 3 besar?. 10 besar bahkan juga nggak deh."


"Makanlah saja jangan banyak protes, ya!" Azkan menghentikan cercaan dari mulut Istrinya.


"Suamiku, masa aku disuruh makan steik yang dipanaskan?." Maziya berbicara manja.


Azkan merasa sikap seperti ini yang mungkin selalu secara langsung dibuat-buat oleh Maziya. Agar nanti saat sifatnya benar-benar berubah karena bipolar yang diderita, tak akan ada yang curiga.


"Istriku sayang, makan saja kalau kamu memang tidak suka yang dingin !"


"Kami benar-benar bisa memastikan untuk memanaskan Steik ini. Ini memang pelayanan VIP restoran." Rasti berusaha menjelaskan.


"Tetap saja rasanya aneh kan. Mau itu pelayanan Apa kek." ujar Maziya tidak perduli. "Daripada mengharapkan Steik dingin, bukannya lebih baik makan yang baru?" Sarkas Maziya pada Rasti.


"Dengan teknologi yang ada, steik dingin itu dapat dipastikan rasanya tidak akan aneh." Rasti meyakinkan.


"Tidak aneh, tapi yang memesan tidak ingin makan. Alasannya karena dia suka dengan Steik yang masih panas ini." Maziya menyuap kembali potongan Steik itu ke mulutnya.


"Sudahlah, kenapa kita memperdebatkan Steik. Lebih baik kita makan sekarang. Takutnya ini juga dingin kan." Randy menghentikan pacarnya dan istri sahabatnya.


Bersambung....