The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
52. Tidak Becus



Maziya dengan sengaja menuangkan air ke atas meja di depan sofa.


Azkan memberikan tatapan elangnya tepat di pelupuk mata istrinya. "Untung saja air itu tidak mengenai berkas penting. Atau wajahmu akan merasakan hal yang sama"


Maziya meletakkan gelas berisi segelas kopi di meja Azkan. Kini ia menatap wajah Azkan sembari senyum-senyum.


"Apa yang kau lihat?. Kembalilah ke meja mu!"


"Aku disini aja sama Sekretaris Barga. Toh 5 menit lagi juga Kak Azkan bakal manggil. Bahkan aku sengaja pakai sepatu flat begini biar kuat berdiri."


Memang tiap 5 menit ada saja yang membuat Telpon di meja sekretaris tepat di depan ruangan itu berbunyi. Ambil berkas ini, ambil berkas itu, Maziya juga harus menyampaikan pesan satu-persatu pada tiap sekretaris inti padahal bisa sekalian saja. Azkan beralasan kalau ia kebetulan baru ingat sehingga tidak bisa menyuruh satu perintah sekaligus.


Selain itu, bukan hanya kopi biasa yang diminta Azkan. Harus Kopi yang dibuat dengan mesin kopi di pantry. Mesin kopi itu dipesan Azkan karena ingin Maziya menggunakannya. Maziya harus mempelajarinya step by step demi memenuhi standar kopi untuk Azkan.


"Aku berhenti aja jadi Asisten gimana?" Maziya mendekat pada Azkan.


"Jangan harap kau bisa bekerja sebagai sekretaris disini."


"Nggak jadi sekretaris juga nggak apa-apa kok."


"Mau jadi apa?. Cleaning Service?"


"Kak Azkan benar-benar mau nyiksa aku kan?. Banyak kerjaan lain yang cukup mengandalkan kemampuanku."


"Kemampuanmu hanya setara dengan anak kuliah semester 4. Makanya kalau kuliah itu yang bener. Kau bilang aku menyiksamu?. Iya, kau juga paham karena hanya di Perusahaan ini aku bisa melakukannya. Itupun tidak mampu membuatku senang."


"Setidaknya kalau kerjaan aku sebanyak ini. Gaji aku naikin lah!"


"Pekerjaan biasa pun kau masih sering salah." Azkan melirik meja yang tadi terkena tumpahan kopi.


"Aku mau ganti kerjaan aja. Aku mau berhenti di Perusahaan. Aku punya pekerjaan yang mampu membuat Kak Azkan senang."


"Apa?" Azkan meniup kopi dan menyeruputnya.


"Jadi pelayan ranjang?"


Ucapan dari mulut Maziya sukses membuat Azkan tersedak kopi. Ia sampai terbatuk-batuk hingga Barga turun tangan menepuk-nepuk punggung nya.


"Wanita Gila, sudah kubilang jaga ucapanmu!"


"Itu pekerjaan yang menyenangkan. Bayarannya mahal dibanding kerja di Sini. dan juga bonusnya aku senang Kak Azkan lebih senang." Maziya dengan tampang tengilnya memprovokasi Azkan.


Setelah batuknya Mereda. Azkan segera meraih tubuh Maziya setelah berlarian Hanya untuk menyentil keningnya. Maziya sampai terduduk mengusap keningnya yang berdenyut hebat.


"Katakan yang lebih gila lagi dan aku bisa menyentilmu sampai kau gegar otak!"


Maziya benar-benar merasakan goyang untuk sesaat di kepalanya. Azkan benar-benar menyentil nya dengan keras, kalau lebih keras lagi ia pasti benar-benar gegar otak.


"Kak Azkan sakit..." Maziya meringis sampai dua matanya memiliki buliran air yang bersiap jatuh.


Azkan menekuk kakinya berjongkok. "Kau mau bertindak berpura-pura lemah?. Itu tidak mempan."


"Sudah kubilang jangan menyentilku seperti anak kecil?. Ini sangat sakit apa kau tidak pernah mencobanya?" Kini Maziya terisak.


"Aku hanya menggunakan sedikit kekuatan."


"Sedikit kekuatan hingga bunyinya mampu membuat orang berpikir bahwa itu ketukan?" Maziya berteriak di tengah isak nya.


"Berhentilah menangis dan aku akan bayar yang sebelumnya. Juga Gajimu bulan lalu."


Siapa sangka saat Azkan panik ia jadi lebih royal pada Maziya. Kesempatan itu tidak akan disiakan Oleh Maziya. Ia mau Azkan segera transfer atau dia tidak akan berhenti menangis.


Maziya keluar ruangan dengan perasaan senang. Uang Milyaran masuk Kartu Debit pemberian suaminya. Bahkan meskipun ia tidak masuk kerja ia tetap dapat pembayaran penuh.


Siapa suruh berani denganku


"Tuan, Anda hebat." Barga mengangkat jempolnya.


"Aku tidak bisa mengatasinya." Azkan duduk di kursinya dengan perasaan kekalahan telak.


"Anda adalah suami yang bertanggung jawab setidaknya Tuan. Anda tidak akan membiarkan Nona menangis."


"Bukan begitu, Barga apa aku punya penyakit jantung?"


"Anda sehat bugar sekali Tuan. Apa perlu aku jadwalkan pemeriksaan kesehatan lagi?"


"Tidak, aku..."


Apa aku benar-benar merasakan sakit karena rasa bersalah?. Kenapa aku merasa bersalah?. Karena membuat Perempuan pendek itu menangis?. Lalu kenapa aku bisa begini?. Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya kan. Aku mungkin melakukan hubungan intim dengan nya lebih dari sekali. Tapi itu hanya karena...


Azkan mulai meragukan perasannya sendiri. Ditambah lagi dengan fakta yang terjadi baru-baru ini. Penyelidikan yang ia nantikan.


"Barga bagaimana dengan penyelidikannya?"


"Apanya yang mustahil?"


"Tidak ada informasi apapun dari Nona Maziya dari Klinik Dr Faruq."


"Maka dari itu pasti semuanya benar."


"Maaf Tuan, apakah aku boleh tahu apa yang anda pikirkan?"


"Aku yakin Mama tahu semuanya."


.......


Semua anggota sekretaris Inti terkejut melihat kening Maziya.


"Kamu digigit tawon?" tanya Edwin.


"Mana?. Mana Tawonnya?" Adiba panik sendiri.


"Minta obat pada Chelsea, dia biasanya bawa benda-benda seperti itu!" ujar Lintang.


"Mau aku bantu obati nggak?" Renald menawarkan diri.


"Nggak usah, aku aja." Chelsea membuka lacinya.


Chelsea bertanya kepada Maziya penyebab bengkak itu. Maziya jawab sekenanya terbentur sesuatu.


"Kamu pasti terbentur kuat bisa sampai nangis begitu." Pitaloka masuk sembari memberikan beberapa file pada Lintang.


"Ah iya, aku emang agak sensitif. Salahku sendiri tidak becus dalam banyak hal." Maziya mengelus tengkuknya sedikit merendah.


Dengan telaten, Chelsea mengoleskan salep dengan rasa dingin saat bersentuhan dengan kulit. Maziya bahkan mendapat semacam tempelan kening dingin yang biasa digunakan sebagai alat penurun panas.


"Lengkap banget alat di laci kamu Chelsea."


Maziya melihat penampakan wajahnya di ponsel. Ia juga membersihkan bedak wajahnya yang agak luntur karena menangis.


"Kamu bisa minta lagi kalau butuh." Chelsea menawarkan.


"Chelsea itu mirip Doraemon." ujar Renald.


"Kenapa?"


"Karena dia punya segalanya di laci keramatnya."


"Doraemon kesehatan lebih tepatnya. Kan cuma alat kesehatan yang dia punya." Adiba menimpali.


"Ya begitulah." Renald mengiyakan Adiba. "Kalau Adiba, Doraemon Salon. Dia mungkin mau buka salon di ruangan ini karena dia punya banyak stok bedak."


Adiba tidak terima. "Bukan Bedak, pliss Deh Renald jangan norak. Make up, dan Make up bukan cuma Bedak. Aku juga punya kutek."


" Nah itu juga, siapa yang bakal muji kamu meskipun pakai kutek tiap hari. Gambarnya juga beda-beda lagi."


"Kamu mau aku kasih kutek juga?" Adiba mulai kesal.


"Nggak usah. Maziya aja." tolak Renald dan kini fokus ke pekerjaannya.


Maziya menahan tawanya melihat pertengkaran Adiba dan Renald. Hingga tawanya berhenti saat melihat Chelsea. Perempuan itu dengan gelisah membalas pesan di ponselnya yang terus bunyi. Ia pamit sebentar untuk menerima panggilan.


"Apa dia masih berhubungan dengan pacarnya?" tanya Pitaloka pada Adiba dengan hati-hati.


Adiba mengangguk. "Dia bilang mereka saling mencintai tak ada alasan untuk berpisah."


"Kenapa?" Maziya penasaran.


Dengan mulut lemes Renald. Diketahuilah bahwa pacar Chelsea yang posesif itu kadang-kadang suka seenaknya pada Chelsea. Sempat Chelsea mengumumkan kalau ia putus, tapi entah mengapa mereka balikan lagi. Padahal saat putus Chelsea menjelekkan mantannya yang posesif dan menyulitkannya.


"Haruskah kamu menceritakan semuanya Renald?" Chelsea berkacak pinggang menatap Renald.


"Mulutku ini memang tidak becus jaga rahasia." Renald menampar mulutnya pelan.


"Maaf Chelsea, aku yang maksa." Maziya menginterupsi.


Chelsea kembali duduk. "Kamu memang istri CEO. Tapi kamu punya posisi sama dengan kami kan saat di Perusahaan ?."


Maziya mengangguk, "Iya, kenapa memangnya?. Kamu butuh bantuan?"


"Lain kali jangan kepo begitu. Aku tidak suka."


"Oke maafkan aku." Maziya sadar posisi


Bersambung...