
Ririn mengajak mereka bertemu memamerkan pacarnya yang diterima di Firma hukum VM. Firma hukum terbesar dengan gaji yang tinggi juga. Tidak sia-sia penantiannya selama ini. Jadi biaya S2 nya tidak perlu ditakutkan lagi.
“Aku tidak sabar dengan tampangnya. Selama ini kamu hanya membanggakannya saja. Tidak berani menampilkannya. Ada apa gerangan hari ini mengajak kami untuk melihatnya.” Viola seolah menyindir apa yang dilakukan Ririn selama ini.
“Aku menunggunya untuk siap tampil. Kalian kan tahu aku benar-benar naksir dia.”
“Naksir hartanya kali eheehmemm hem.” Viola berdehem sehingga menyamarkan sindirannya yang kedua.
Seorang Pria tinggi dengan wajah yang mirip Oppa korea muncul di hadapan mereka dengan setelan jas hitam melekat di tubuhnya. 5 teman perempuan dalam Circle mereka itu tertegun melihat pacar Ririn tersebut sampai pantat lelaki menyentuh kursi.
Setelah usai berkenalan, mereka asik mengobrol sembari tanya-tanya hubungan mereka. Seperti biasanya, Viola dan Maziya tidak tertarik dengan hal itu dan mulai berbisik sendiri.
“Viola, apa kamu tidak merasa pacar Ririn ini mirip dengan seseorang?” tanya Maziya pelan hampir berbisik.
“Aku juga merasa demikian Maziya. Tapi siapa ya, wajahnya tidak mirip aktor korea kan. Aku sepertinya cukup tahu wajah aktor yang sering wara-wiri di artikel terjemahan.”
Mark biasanya memakai kotak lens karena matanya memang tidak begitu baik. Kali ini karena terburu-buru ia sampai lupa sehingga memasang kacamatanya untuk melihat wajah mereka dengan lebih jelas dari tas yang ia bawa.
Saat Mark memakai kacamata, Viola dan Maziya serentak berucap Miko secara bersamaan.
“Miko?. Dimana Miko?.” Amy melihat ke sekeliling mencoba menemukan nama yang disebut.
“Bukan itu Amy, Dia..” Maziya menunjuk batang hidung Mark.
“Bersikaplah sopn Maziya, singkirkan kebiasaanmu itu!” Ririn merasa jengkel.
“Apa hubungan anda dengan Miko Choi.” tanya Viola tidak peduli dengan Ririn yang sudah jengkel.
Miko sebenarnya keturunan korea yang ramah dan populer. Dia juga baik pada semua orang, mungkin penampilannya cukup biasa, Apalagi dengan kaca mata tebal yang sering menempel di wajahnya saat serius belajar.
Tetapi apabila kaca mata itu dilepas, wajah oppa-oppa korea tidak bisa disepelekan saat menatapnya. Satu-satunya hal yang cukup membuat Miko risih adalah namanya yang disertai marga sang ayah, Choi. Jika disebut akan terdengar aneh dan cukup unik bagi orang Indonesia.
Mark tersenyum melihat Maziya. Jika hatinya bisa diberi pengeras suara, ia akan mengeluarkan kata-kata sangat menarik bagi gadis seperti Maziya.
“Aku Kakak keduanya.”
Jawaban Mark sukses membuat mereka melongo termasuk Ririn sendiri yang tidak mengetahui hal itu. Ririn juga merasa kalau Mark sangat suka melirik Maziya dan Viola secara bergantian, hampir tidak memperhatikan Stella, Amy dan Aliza temannya yang lain.
Mungkinkah Mark menjadikan Maziya atau Viola sebagi penggantinya. Tetapi ia masih butuh dana untuk shopping dan melanjutkan kuliahnya.
“Kenapa Kamu terlihat gugup Ririn, sepertinya kamu tidak begitu mengenal pacar kamu ini.” Maziya mulai menggoda Ririn agar tersulut.
“Tentu saja aku tahu.” Ririn merebahkan kepalanya pada Mark, ia membuat kontak mata ke Aliza agar serangan berbalik pada Maziya atau Viola.
Aliza menyebutkan pacarnya secara tiba-tiba. “Mungkin minggu depan pacar kita semua harus ikut pertemuan.”
“Tiba-tiba saja, kenapa kita membahas pertemuan berikutnya Aliza?” Di tengah kebingungan, Viola protes dengan situasi aneh itu.
yang lainnya langsung ikutan berpindah pada Maziya. "Apa kamu masih akan menghamburkan uang Mama kamu Maziya?” tanya Amy.
"Atau kamu bisa mencari Sugar Daddy. Dia akan menjadikan kamu bayi yang diprioritaskan." Stella tersenyum pongah menunggu respon Maziya.
“Jangan terus-terusan mengandalkan Mama angkat kamu itu. Cukup jujur saja kalau dia bukanlah Mama angkat tetapi lelaki kaya kan. Apa mungkin sudah berisitri.” Ririn bersikap diluar batas.
“Kamu juga bisa mengajaknya ke pertemuan kita. Tidak perlu malu, kita akan maklum.” Aliza tersenyum puas.
“Hei-hei hei kenapa kalian memberondongi Maziya dengan pernyataan semacam itu Hah” Viola menjadi tameng.
“Ini bukan hanya untuk Maziya, Kamu juga harus membawa pacar kamu Viola.” Beo Ririn tak mau berhenti balik menyindir.
“Andai saja aku tidak ingin dipandang kaya dan modis. Aku tidak akan bergabung dengan Circle Toxic dan Sakit seperti ini.” Gumam Maziya di tengah senyuman palsu yang coba ia perlihatkan.
“Andai saja tidak mengikuti Maziya ke Circle menyebalkan ini. Aku tidak akan mendengar omong kosong mereka yang menjadikan pacar sebagai modal hidup.” Gumam Viola sembari menahan jemarinya di bawah meja.
"Aku bisa mengurusnya sendiri." Maziya menjawab tenang, masih lengkap dengan senyumannya.
"Jangan berpatokan pada Viola terus Maziya. Dia putri tunggal Niti Contructions. Tanpa pacar pun uangnya ada. Tapi kamu kan hanya mengandalkan uang dari seseorang yang kamu bilang sebagai Mama angkat Kamu itu." Ririn menambahkan, belum puas dengan sindirannya.
“Ia, kamu mungkin harus mengadu pada Mama kamu takut pengeluaran membludak dan uangnya terkuras habis.” Aliza ikut membeo dengan sarkas.
Mark berusaha menahan tawanya melihat kumpulan para gadis muda itu. Ia tidak tahu bahwa circle yang mereka bentuk tidak kalah dengan kumpulan para sosialita yang diketuai Mamanya.
Saling pamer, menyindir dengan gaya seolah yang paling beruntung agar dipandang lebih unggul. Bibit penerus Mamanya ada dalam circle pacarnya sekarang ini. Kalau tahu perdebatan bisa seserius dan selucu itu, mungkin ia akan ikut pertemuan rutin bersama Mamanya. Lumayan dapat tontonan debat gratis selain di pengadilan.
Viola menepuk meja dengan keras hingga mereka semua terperanjat kaget. Dia tahu mereka tak percaya bahwa Maziya memang kaya tanpa mengandalkan seorang pria.
" Kalian harus tahu kalau Mama Angkat Maziya itu tidak masalah kehilangan uangnya. dan satu lagi, Maziya akan menikah dengan pewaris Serziano Grup. Kalian tahu?. ya Pria idaman yang kekayaannya melebihi pacar andalan kalian semua" Viola membocorkan semua meskipun Maziya sudah berusaha menariknya.
“Benarkah Maziya, jadi kamu akan menikah.” Stella membenarkan indra pendengarnya tidak tersumbat apapun.
“Jadikan kita bridesmaid paling mewah”
"Ajaklah kami semua bertemu. Pamerkan juga bagaimana loyalnya dia"
Maziya ingin sekali menyumbat mulut Viola ini. “Tentu saja, kurang dari sebulan lagi, nanti saat fitting baju akan akan ku hubungi kalian lagi.”
Maziya permisi untuk pergi duluan sembari menarik tangan Viola. Tatapan 4 orang itu seolah mengejek tak percaya.
“Lihatlah kesombongan Maziya. Mungkin Viola sudah terjangkit penyakit yang sama dengannya.” Amy mengalihkan pandangan.
“Pewaris Serziano Grup. Mimpi mereka mungkin. Berbohong juga ada aturannya. Kalau tidak ada bukti bagaimana kita bisa percaya.” Aliza geleng-geleng kepala dengan sikap angkuh Maziya.
“ Siapa yang tidak tahu lelaki itu suka Gonta ganti pacar. Mantan pacar dari pacarku pernah memohon untuk balikan setelah memaksa putus karena yakin jadi satu-satunya untuk Azkan Serziano. Ternyata bukan satu-satunya tapi salah satunya.” Stella meminum minumannya yang sudah sedikit tumpah karena Viola menepuk meja.
Bersambung...