The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
16. Kontrak Dalam Pernikahan



"Sudah bagus-bagus naik Mobil Sport putih ini, akhirnya kita ke Mansion?"


"Lalu?. Kau mau di Hotel saja sampai besok?"


"Iya kalau boleh" jawab Maziya sekenanya.


"Tentunya Boleh, Kau bisa pulang sendiri kan."


"Nggak jadi, lagian kalo di hotel nggak naik mobil ini lagi dong."


Setelah banyak wejangan yang disampaikan oleh Tuan Alam dan Nyonya Lidia. Azkan berjalan pergi ke kamarnya sementara Maziya mengekori di belakangnya.


Kamar Azkan sangat luas. Ada ruang ganti, kamar mandi, bahkan Sofa lengkap dengan TV. Satu kamar Azkan setara dengan Apartemen yang ditinggali Maziya selama 5 tahun ini.


Tidak banyak yang berubah dari kamar itu selain warna dekorasinya. Para pelayan yang dipimpin oleh BI Mirna pamit setelah selesai mengatur barang-barang Maziya di ruang ganti sekaligus ruang perlengkapan.


"Apa pelayan-pelayan itu masih tidak boleh bicara selain Bi Mirna?"


"Iya Nona, itu aturannya dan masih akan tetap berlaku" jawab Barga seusai memastikan semua pelayan pergi.


Rita masuk ke kamarnya di bagian belakang dekat dapur bersama sang Ibu,Bi Mirna.


"Aku juga mau jadi istrinya Tuan Azkan Bu." Rita mengomel.


"Siapapun juga mau jadi istrinya Tuan Azkan." Bi Mirna menanggapi santai ucapan putrinya.


"Tapi ini lain Bu, aku benar-benar menginginkannya."


"Lebih baik lupakan kalau benar. Kau tahu kita menandatangani kontrak sebelum diperbolehkan tinggal di sini tak sama dengan pelayan lainnya yang tinggal secara bergiliran di sebelah sana." Tunjuk Bi Mirna ke arah kamar-kamar pelayan lainnya.


"Maziya beruntung sekali."


"Panggil dia Nona. Dia adalah istri sah Tuan Azkan dan menantu keluarga ini."


"Iya-iya, dia sangat beruntung karena bisa hidup bermewah-mewah meskipun hanya 3 tahun."


"Dia pantas mendapatkannya."


"Pantas darimananya Bu. Dia bahkan tidak punya keunggulan apapun. Dibanding dengan mantan pacarnya Tuan Azkan yang aku lihat."


"Maksudmu tinggi?" Bi Mirna tahu satu-satunya kebanggaan sang anak adalah memiliki tinggi semampai.


"Iya, tingginya tidak mencapai 160 cm. Kurang Bu."


"Kalau kamu mengomentari tentang tingginya. Kamu kalah dengan kecantikannya."


"Iih Ibu, bukannya bilang aku lebih cantik."


"Ibu hanya ingin kamu cepat sadar. Jangan berani berharap pada Tuan Azkan. Ibu tidak mau bernasib sama dengan pelayan beberapa tahun lalu itu."


"Iya-iya."


"Kalau begitu, bagaimana dengan pekerjaan kamu?" Bi Mirna mengalihkan pembahasan.


"Udah apply Bu. Semoga lolos kali ini."


Rita sudah 3 kali ditolak oleh MOCY Grup. Sejak lulus kuliah dan di 3 tahun ini dia terus berusaha latihan untuk bisa memenuhi Ekspektasi Perusahaan Resto dan Makanan 3 besar di Kota tersebut.


Selama 3 tahun juga, Rita hanya sesekali menerima tawaran sebagai Model lepas dan jadi pemeran tambahan di Sinetron Stripping. Dia meningkatkan passion memasaknya hari demi hari.


.....


Maziya membaca Kontrak yang diberikan oleh Barga beberapa saat lalu di Sofa Kamar. Kontrak yang berisikan 3 pernyataan tersebut. Pihak A adalah Azkan dan Pihak B sebagai Maziya.




Pernikahan Berlangsung 3 tahun tetapi bisa berpisah sebelum 3 tahun jika disetujui kedua belah pihak A dan B.




Uang Bulanan Hanya akan diberi saat Pihak B mau bekerja di bawah pengawasan Pihak A.




"Loh kok bawa-bawa uang bulanan?" Maziya nyolot.


"Hanya ada dua pasal dari Kontrak tetapi kamu tidak mampu menyanggupinya?" Azkan meremehkan.


"Ya tapi jangan uang bulanan Kak Azkan. Itu kewajiban suami untuk menafkahi keluarga."


"Istri yang bagaimana?. Kalau istrinya seperti istri Teladan di Drama boleh saja. Sayangnya istrinya Hedon seperti Kau." Azkan menunjuk batang hidung Maziya.


"Pekerjaan yang bagaimana?"


"Sekretaris?. Jabatan itu super sibuk dan telaten. Aku mana Bisa Kak Azkan?" Maziya masih berusaha protes.


"Makanya belajar, buat apa kau lulusan Manajemen tapi ujungnya tidak bekerja."


"Aku juga akan membantu Anda Nona. Anda tidak sendirian." Barga menambahkan.


"Jangan bandingkan aku dengan Sekretaris Barga." Maziya bersidekap tangan di dada.


Siapa yang bisa tahan dengan kelakuan Kak Azkan. Mama Lidia juga bilang kalau sekretaris lainnya saat Kak Azkan masih Jadi Direktur biasa banyak yang mengundurkan diri secara sukarela.


Azkan menjentikkan jari, "Apa yang kau lamunkan?"


"Tidak ada, aku hanya.... Tapi apa Kita benar-benar harus tanda tangan kontrak ini Kak Azkan?"


"Tentu saja, kita harus punya aturan buat 3 tahun."


"Bukan pelayan aja ternyata yang tanda tangan kontrak sebelum diperbolehkan berada di sekitar Kediaman Serziano. Aku pun begitu?" Maziya manyun.


"Cepat tanda tangan, Biar Barga bisa balik ke kamarnya."


Maziya menandatangani kontrak tersebut. Azkan masuk ke kamar mandi sementara Barga pergi membawa kontrak tersebut untuk diamankan di kamarnya.


"Kenapa rasanya ada yang aneh ya?"


Saat Azkan keluar kamar mandi, barulah Maziya bertanya. "Kak Azkan kenapa kita nggak atur tentang hubungan suami-istri? S**"


Pletak... Jentikan jari di kening Maziya sudah dapat diterjemahkan betapa perihnya itu. Azkan selalu melakukannya dulu ketika kelakuan atau ucapan Maziya tidak terkendali dan diluar batas.


"Awww sakitt Kak Azkan. Aku bukan anak kecil lagi jadi stop melakukannya!" Maziya nyolot sembari menyentuh keningnya yang nyut-nyutan.


"Salah sendiri. Kenapa kau menanyakan hal itu,? Gadis tengil"


"Stop juga memanggilku tengil!"


"Apa perlu kupanggil Parasit?"


"Hargai aku setidaknya selama 3 tahun ini Kak Azkan."


"Minta dihargai?. Mulut kotormu itu ya ikut dibersihkan dulu."


"Ya kan wajar Kak Azkan."


"Wajar darimananya?" Azkan mengangkat jari telunjuknya. "Jangan berani-berani memikirkan hal itu. Aku tidak akan tertarik menyentuhmu."


Maziya mengangkat bahu. "Gimana kalau Kak Azkan nggak sadar?. Atau saat kita berdua sama-sama nggak sadar."


Azkan tersenyum simpul, "Itu tidak akan mungkin."


"Mungkin.... Dari setiap Drama yang aku tonton mereka selalu membahas hal itu karena kemungkinan besar terjadi. Apa yang mustahil kalau kita terlalu sering bersama." Maziya percaya diri.


"Jangan pernah berharap Kontrak kita akan berakhir bahagia seperti Drama!"


"Dua pasal berasal dari Kak Azkan, setidaknya tambahkan juga satu pasal yang berasal dari pemikiran ku!"


"Akan aku tambahkan."


"Tambahkan pasal dimana kita tidak akan melakukan Hubungan S**. Kalau Kak Azkan ngelanggar harus bayar!" Maziya tidak mau mengalah.


"Uang lagi?. Sebutkan saja berapa. Nanti kusebut pada Barga."


Maziya menimang-nimang sebentar. "1 M"


"1 Milyar?" Azkan tidak habis pikir.


"Ya, itu cukup kecil kan. Aku bermurah hati karena menghargai kebersamaan dengan Kak Azkan." Maziya tersenyum.


"Jangankan 1 Milyar. 5 Kali lipat aku setuju kalau sampai aku melakukannya. Aku bahkan tidak tertarik dan merasa jijik padamu." Diikuti oleh ekspresi wajah yang tak suka.


"Ingat ya, jangan sampai jilat ludah sendiri." Maziya marah sembari masuk ke kamar mandi.


"Tentu saja. Jangan harap aku akan mengeluarkan 5 M hanya untukmu. Itu tidak akan pernah terjadi." Azkan menelpon Barga untuk menambahkan 1 pasal lagi.


Kepala Maziya menyembul dari balik pintu kamar mandi, "5 M benar ya!"


"Iya bawel, dan jangan pernah membahas hal itu secara gamblang lagi!" Azkan setengah teriak.


"Hal apa?" lagi-lagi Maziya menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


"Ya Itu.."


"Se* " Ulang Maziya lalu segera menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


"Dasar tengil" Gerutu Azkan menatap pintu.


Bersambung....