
Azkan menerima panggilan dari Randy barusan. Memintanya ikut melihat fitting baju pengantin mereka.
"Kak Azkan setuju tanpa minta pendapatku?" sungut Maziya kesal.
"Kamu tahu sendiri, Randy hanya punya aku."
"Kak Rasti juga cuma punya Kak Azkan?" tanya Maziya masih dengan nada kesal
Belum sempat Azkan menjelaskan, Maziya juga mendapat panggilan dari Rasti. Intinya, Rasti secara khusus ingin merasakan dikomentari oleh perempuan selain Mamanya.
Bukan itu saja, Rasti bahkan tanpa sengaja membeberkan bahwa ia cukup menyesal karena menjadi sangat unggul semasa sekolah. Sehingga membuat semua gadis iri dan tidak mau berteman dengannya.
Selanjutnya ungkapan terang-terangan dari Maziya membuat Azkan tidak berhenti berkedip. Maziya tidak segan untuk mengungkapkan hal itu pada Rasti. Pasti sudah lama sekali Maziya menyimpan kata-kata tersebut mendengar dari seberapa fasih dan cepatnya Maziya berbicara. Hampir seperti Rapper yang lagi nyindir orang lewat liriknya.
"Aku rasa bukannya karena kemampuan Kak Rasti, tapi karena Kak Rasti berteman dengan Dua Casanova yang paling mereka idamkan. Kalau aku jadi mereka juga nggak bakalan mau temenan sama Kak Rasti. Udah sok cantik selalu dekat dengan cowok Incaran mereka, hingga mempersempit ruang gerak dalam mengejar Cinta."
Terdengar tawa Rasti begitu jelas di ujung sana. Rasti sama sekali tidak merasa tersinggung, ia juga sebenarnya tahu apa yang dibilang orang dibelakangnya. Ia hanya berpura-pura tidak mendengar itu semua.
"Entah kenapa, penjelasan kamu lebih masuk akal sekarang. Aku memang Salah untuk hal itu. Aku yang kurang pertimbangan"
"Pertimbangan apa juga nggak bisa merubah apapun. Kita kan juga nggak bisa cocok untuk semua orang." Intinya Maziya terpaksa mau ikut.
"Jadi kamu mau ?" tanya Azkan.
"Ya kepaksa, Kak Rasti sih salah sendiri punya sahabat dua cowok aja."
.....
Viola terdengar kecewa pada Maziya. Mereka melakukan Video Call karena beberapa hari Maziya sibuk dengan liburan berkedok acara perusahaan.
"Maziya, kamu bukan cuma ninggalin aku liburan. Besok kamu nolak kita ketemuan karena selingkuh?" Keluh Viola yang membuat Azkan buru-buru keluar dari kamar mandi dengan kondisi kepala masih dipenuhinya busa.
"Siapa yang selingkuh, Ziya kamu?" Azkan terdengar panik.
Maziya cukup kaget dengan penampakan suaminya yang sedang telanjang tanpa sehelai benang itu.
"Kak Azkan, untung saja Viola nggak lihat."
"Aku dengar kamu selingkuh. Jangan bohong tadi shower sedang aku matikan jadi aku mendengarnya dengan jelas." Nafas Azkan terdengar memburu.
"Maksudmu aku berselingkuh dengan Kak Rasti. Aku menyelingkuhi sahabatku Viola." jelas Maziya sembari menahan tawanya.
"Kenapa kamu berselingkuh dengan Rasti. Kamu kan bukan pasangan Viola." Kini Azkan mengusap busa yang hampir mengenai Matanya, wajah Bingungnya membuat Maziya tidak bisa tidak tertawa.
"Kak Azkan, kelarin dulu deh mandinya!"
Azkan melihat tubuhnya sendiri, pelan-pelan kembali masuk dan menutup pintu.
.....
Azkan dan Barga berada di ruang kerja Azkan.
Barga tidak henti-hentinya menguap karena ia baru saja tertidur saat Azkan memintanya datang ke ruang kerja.
"Tuan, haruskah anda menemuiku malam ini juga?. Kita kan sama-sama lelah habis perjalanan Tuan."
"Ini sangat penting Barga."
Barga menyalangkan matanya, "Tuan aku tidak mengantuk. Apa ada masalah darurat Tuan. Aku rasa Pak Leo menyelesaikan urusan Perusahaan dengan baik."
"Bukan Perusahaan, ini tentang urusanku."
"Ada apa Tuan?"
"Apa maksudnya saat sesama perempuan cemburu pada satu sama lain karena salah satu dari mereka berselingkuh."
"Apa perempuan itu salah satunya punya pacar?"
"Lalu apa suami perempuan itu adalah gebetan dari perempuan lainnya?" tanya Barga dengan ekspresi serius.
"Tidak, aku bahkan tidak begitu akrab dengan sahabatnya."
"Apa ini tentang anda Tuan?" Mata Barga melotot minta penjelasan.
"Kan sudah kubilang ini tentangku!"
"Tentang Anda?" Barga mengerutkan keningnya tidak paham.
Bukankah mereka liburan mesra sembari foya-foya di Pulau?. Bukankah Mereka adalah suami istri yang bisa mengeklaim dunia milik berdua dan yang lain ngontrak hingga siang ini?.
"Aku minta Istriku menjelaskan tapi dia sudah tertidur,aku tidak tega membangunkannya."
Barga yang kebingungan meminta Azkan menjelaskan satu-persatu. Apa yang terjadi membuat Barga mengusap dadanya.
"Tuan, hubungan antara perempuan berbeda dengan hubungan persahabatan antar Pria."
"Apa bedanya?. Aku bahkan punya sahabat pria dan Wanita."
"Tuan, berdasar pada pekerjaan ku sebelumnya yang pernah mengenal dua sahabat perempuan ini sangat sederhana."
"Apa yang sederhana?. Mereka menyebut tentang perselingkuhan. Apa istriku kaum pelangi?." Azkan langsung menarik ucapannya barusan. "Amit-amit..."
"Tuan, anda berpikir terlalu jauh. Atau bisa dibilang level cemburu anda semakin meningkat ke tahap yang tidak normal. Aku harap anda cepat Pergi Honeymoon."
"Iya Amiin," Azkan kembali sadar, "Eh ayo jelaskan!"
"Tuan, wajar saja jika mereka mengatakan hal itu
Mereka sangat dekat, itu sama seperti candaan saja."
Barga sudah menjelaskan sebisanya. Bahwa hal itu sama seperti hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh sahabatan perempuan dengan sesama perempuan saja. Karena Azkan masih ragu, Barga meminta Tuannya itu Bertanya sendiri besok saat Maziya sudah bangun.
"Ya sudah aku lebih baik bertanya pada Istriku saja."
"Baik Tuan, atau sekarang saja. Siapa tahu Nona Maziya hanya pura-pura tidur seperti tadi siang."
Barga meninggalkan Tuannya yang Bucin akut itu sendirian. Lebih baik ia mengisi tenaga dengan segera merebahkan diri di kamar.
.....
Sesuai anjuran Barga. Hal pertama yang ditanyakan Azkan setelah bangun tidur adalah maksud dari ucapan Maziya dan Viola semalam.
Maziya menggigit bibir bawahnya yang kering. Ia baru sadar bahwa Azkan juga punya sisi Bodoh kalau sudah jatuh Cinta.
"Kak Azkan, itu hanya kiasan. Sama seperti Kak Azkan yang marah apabila Kak Randy lebih mengutamakan kepentingan rekan kerjanya di Rumah Sakit. Selingkuh adalah kata kiasan karena sebelumnya Kak Azkan bareng sama Kak Randy Tapi Kak Randynya malah sama rekan kerjanya"
"Aku tidak cemburu, itu profesionalitas kerja. dan aku juga tidak akan mengatakan bahwa Randy berselingkuh. Aku kan tidak ada perasaan khusus padanya, kan aku normal."
Maziya menepuk keningnya, "Kak Azkan, apa setelah jatuh cinta padaku IQ Kak Azkan menjadi turun?" kini Maziya menjadi kesal karena Azkan mempermasalahkan hal yang tidak penting.
"Aku hanya ."
"Kak Azkan, tahu kan kalo sekarang Kak Azkan bisa disebut bereaksi berlebihan terhadap hal sepele!"
"Ziya, " Lagi-lagi ucapan Azkan tersendat akibat Istrinya.
Maziya menyipitkan matanya, pertanda sudah akan keluar kata perhitungan dari mulut mungilnya kini, "Apa aku menerima Kak Azkan meskipun tahu Kak Azkan punya label Playboy masih perlu diragukan?" Apa aku yang menerima bagaimana perasaan Kak Azkan pada Kak Rasti dan membuat kalian menyadari hal yang lebih penting bahkan jadi memahami kondisi Kak Rasti yang membuat kita memperdebatkan hal nggak penting gini masih perlu penjelasan?"
Azkan langsung minta maaf tiba-tiba. Dia yang kurang perhatian sebelumnya. Kalau diteruskan bisa saja Maziya nantinya menggunakan alasan ini untuk hal kedepannya. Kan sudah dibilang jangan main-main dengan Mood seorang wanita apalagi jika itu Maziya.
Untuk jaga-jaga, dan juga dapat membuktikan bahwa Azkan benar-benar bereaksi berlebihan dengan kata selingkuh yang terlontar dari Mulut Maziya. Maka diam-diam Azkan masih sempat bertanya pada Dr. Faruq juga Mamanya.
Bersambung..