
Rasti dan Randy sudah begitu lama menunggu Azkan untuk bercerita di atap restoran terbesar dari bagian MOCY Grup. Perusahaan yang dipimpin Tuan Tora, pengusaha kaya yang berhasil menjadikan MOCY Grup sebagai Perusahaan di bidang makanan dan Resto yang bisa dikatakan termasuk 3 besar di kota itu.
Sudah 30 menit berlalu dan Azkan hanya menatap nanar ke arah pemandangan yang disuguhkan rooftop tersebut. Bahkan latte yang dipesannya sudah berhenti mengeluarkan asap, serta lukisan daun di atas latte bentuknya masih utuh seperti awal disajikan.
Randy memandang jam tangannya. “Aku sengaja pergi kesini setelah membantu operasi selama 10 jam Azkan, apa kamu tidak akan berbicara?. Lebih baik aku kembali dan tidur saja di kamar asrama rumah sakit.”
Rasti sedari tadi hanya memperhatikan Azkan tanpa menyentuh minuman jus hangat yang ia pesan. Ia memahami Azkan, meskipun lelaki itu keras kepala dan kadang seenaknya. Tapi untuk beberapa saat yang serius dan penting, Azkan bisa sangat menakutkan dan tidak bisa disentuh.
Rasti juga paham sekarang Azkan sedang dilanda kebingungan yang amat berat, seperti ragu akan sesuatu.
“Randy, mungkin masalahnya serius!” Rasti menahan lengan pacarnya.
“Iya sayang, aku sabar kok.” Randy tersenyum pada Rasti.
Mendengar panggilan Randy pada Rasti membuyarkan pikiran Azkan. Apa yang harus ia pertimbangkan, tidak ada perasaan yang harus ia jaga disini. Rasti bukanlah untuknya, tetapi untuk Randy. Apakah waktu 5 tahun tidak juga menyadarkannya bahwa kesempatan untuk bersama Rasti benar-benar tidak ada.
Sudah cukup egois ia berpura-pura tidak keberatan dengan hubungan dua sahabatnya, padahal rasa yang ada di hatinya masih ada dan dalam. Azkan mengambil cangkir berisi Latte yang sudah dingin itu, lalu perlahan meneguknya menembus lidah dan kerongkongan.
Azkan menatap lekat wajah dua sahabatnya yang sudah bersama lebih dari 10 tahun itu. “Aku akan menikah.”
Akhirnya Azkan membicarakan apa yang ingin ia sampaikan. Kini hanya hening, baik Rasti dan juga Randy saling tatap tidak berani bertanya lebih jauh. Mereka menunggu Azkan menyelesaikan kalimatnya, namun setelah lama pun Azkan hanya mematung tidak berniat menjelaskan.
“Dengan siapa?.” Randy tidak tahan lagi karena baginya waktu amat berharga. “Selesaikan kalimatmu Azkan, jangan menggantung begitu, apa kita sedang syuting drama penantian?”
Azkan melipat tangannya di depan dada. “Aku tidak ingin membahasnya.”
Mendengar sahabatnya yang terbiasa mengumumkan putus dengan seseorang setelah sebulan sudah biasa. Namun saat mengumumkan akan menikah membuat Rasti terkejut. Sejak kapan, sejak kapan sahabatnya yang dicap Playboy itu bisa membuat komitmen untuk menikah.
Rasti mencoba bersikap seperti biasanya. “Lalu kenapa mengajak kita bertemu Azkan. Jelaskan saja siapa dia, aku dan Randy juga penasaran. Lagipula setiap kamu gonta ganti pacar juga kita tidak keberatan berkenalan dengannya.”
Randy mengangguk. “Aku sampai mengetes kemampuan menghafalku dengan mengingat semua mantan pacarmu Azkan.”
“Apa kalian sangat penasaran?. Aku yakin kalian mengenalnya.” Senyuman Smirk Azkan kini membuat kecurigaan, apakah ia serius atau tidak.
“Kamu pasti mau bercanda ya.” Tebak Randy sembari meminum sisa jus yang sebagian sudah ia habiskan sejak pertama datang.
“Namanya Maziya.” Azkan ikut menyeruput sisa Lattenya yang sudah dingin dari cangkir.
Mendengar nama yang disebut Azkan membuat Rasti dan Randy kembali saling tatap. Mereka tahu kejadian yang membuat Maziya memutuskan pergi dari rumah, karena bertepatan dengan mereka memberitahukan hubungan mereka.
“Jangan bilang ini Maziya yang kami pikirkan Azkan.” Randy mencoba positif.
“Maziya hanya ada satu. Kalian sempat melihatnya sebelum pergi dari rumahku bukan?”
“Benar-benar Maziya yang itu ternyata.”
Rasti tiba-tiba menggebrak meja, membuat Randy ikut terperanjat. Bahkan ia melihat sekeliling mana tahu ada orang lain yang ikut terkejut dan berniat meminta maaf.
“Kamu serius Azkan, tapi bukankah kamu membencinya ?. Kamu yang bilang kalau dia memang memanfaatkan uang keluarga kamu dengan terus terang. Bukankah hubungan kalian sudah berakhir sejak 5 tahun lalu?”
Rentetan respon Rasti justru membuat Randy lebih bingung. “Bukankah hal itu sudah bisa diprediksi Azkan, kamu tidak juga berusaha mencari seorang kekasih yang bisa diseriusi. Hanya satu bulan, rumor bahwa kamu seorang playboy bahkan menyebar diseluruh Rumah Sakit tempatku bekerja.” Dibandingkan pacarnya, Randy lebih santai.
“Tapi , kenapa harus Maziya.” Rasti menunggu penjelasan Azkan, tidak tertarik dengan lelucon garing pacarnya.
Azkan memutar kepalanya ke langit, menatap bintang-bintang yang bertaburan. Bola matanya yang hitam kini melihat bulan yang tidak sampai setengah, menampakkan bias cahaya yang tampak tidak begitu jelas.
“Kamu seharusnya menolak jika itu tidak sesuai dengan keinginan kamu Azkan. yang akan menikah itu kamu, bukan Mama kamu!” Rasti sepertinya sedang berperan sebagai Ibu-ibu yang suka mengomeli anaknya.
Randy menyentuh bahu Rasti. “Tenanglah sayang, kamu tahu kan Azkan tidak mungkin melawan Mamanya sendiri.”
Rasti berdiri dan mendekati Azkan. Ia menggoyangkan tubuh sahabatnya itu tidak peduli dengan Randy yang tidak berkedip menatap Azkan.
“Tidak bisa Azkan, bagaimana jika dia terus menyedot apa yang kamu miliki seperti ketakutan kamu dulu. Dia sangat licik Azkan.”
Lelaki itu tahu, sangat tahu seperti apa Maziya. Dia yang lebih mengenal betapa liciknya gadis itu sejak datang ke rumahnya. Dia yang lebih dulu memperlakukan Maziya layaknya adik dan berusaha menerima sikap tak lazim Maziya. Hingga ia sadar, bahwa kebaikan juga bisa dibalas dengan air tuba.
“Kamu berlebihan Rasti” Randy mencoba menghentikan Rasti.
“Itu benar Rasti, tapi sepertinya gadis yang licik itu ditakdirkan menikah denganku.” Azkan berusaha menahan untuk tidak membocorkan tentang wasiat dari Kakeknya.
Azkan berdiri dari kursinya “Aku mau pulang dulu, silahkan nikmati waktu kalian."
Rasti kembali ke tempat duduknya.
Randy mengelus pundak Rasti, ia beralih Pada Azkan. "Aku kembali sebentar lagi, Ingat Azkan, Dia hanyalah seorang gadis yang masih muda dulu, jangan terus menyalahkannya!"
"Kamu salah, mungkin dia dulu masih muda. Tapi hingga 5 tahun sudah berlalu pun tidak ada yang berubah dengannya.” Azkan membuat raut wajah yang tidak bisa dibaca.
Setelah memberi tahu kedua sahabatnya itu, tampaknya Azkan sedikit merasa lega. Melihat Rasti masih sedikit mengkhawatirkannya saja mampu membuatnya lega, begitu menyedihkan.
Dia memaki kebodohan yang ia pelihara setelah 5 tahun itu. “Sadar Azkan, dia milik sahabatmu sendiri.”
Azkan merutuki dirinya sembari memukul setir mobil sport putih miliknya itu.
Azkan melajukan mobilnya membelah jalanan Kota yang gemerlapan tak kalah dari bintang-bintang.
Sesampainya di rumah kediaman Serziano, Azkan berlalu menuju kamarnya yang berada di paling ujung tanpa menyapa Mama dan Papanya.
"Apa Tuan Azkan tidak makan?" tanya Mirna.
"Aku tidak lapar"
"Apa Tuan mau aku antarkan air hangat ke kamar?" Rita, anak perempuan Bi Mirna satu-satunya itu ikut bicara.
Azkan berhenti, "Tidak perlu, sudah kubilang hanya Bi Mirna pelayan yang boleh masuk kamarku!"
"Maaf Tuan" Rita menunduk.
Pelayan di Kediaman Serziano cukup banyak, setiap harinya ada pergiliran yang datang kesana. Mereka hanya harus memenuhi satu syarat, tidak mendengar apapun dan tidak membocorkan apapun.
Sementara Bi Mirna dan putrinya itu dipercaya tinggal di bagian belakang untuk melayani keperluan mendesak tiap hari serta keperluan Nyonya Lidia. Seperti saat ini, Nyonya Lidia memanggil mereka untuk merapikan meja makan kembali.
Azkan masuk ke kamarnya dan membuka laci paling rahasia disana. Kemudian dikeluarkannya kotak bewarna biru nan begitu mewah. Isinya adalah cincin yang ingin ia berikan pada Rasti 5 tahun yang lalu, selain itu banyak kenangan berharga bersama Rasti yang ia simpan disana, termasuk surat-surat yang sebenarnya ingin ia serahkan namun terhalang keberanian.
Bersambung....