
Maziya bercakap dengan Nyonya Lidia di ruang Tamu Besar dan Megah. Lampu Kristal besar yang berada di tengah memancarkan cahaya yang sempurna.
Mereka duduk di sofa berbahan Chenile bewarna putih keabuan. Sehabis mengantar Maziya pulang, Azkan pamit lagi untuk menemui Randy. Dari ponsel mereka yang terhubung dengan pelacak satu sama lain juga memastikan.
Azkan kini sedang menuju Apartemen yang ditinggali Randy. Daridulu Maziya tahu hal itu, meskipun Azkan, Randy dan Rasti bersahabat tiga orang, pasti ada beberapa hal pribadi yang tidak perlu diketahui Rasti.
"Mama bocorin semuanya sama Kak Azkan ya?" tanya Maziya.
"Maafin Mama sayang, Mama juga terpaksa. Kamu tahu kan bagaimana kepribadian Azkan. Kalau sudah punya tekad maupun kecurigaan, tak ada yang bisa menandinginya." Nyonya Lidia mengaku.
Maziya mengangguk, kini mulai menghembuskan nafasnya berat.
"Apa kamu mulai tidak menyukainya Ziya?. Apa dia kasihan sama...."
Maziya menatap Nyonya Lidia lekat, Ia langsung memotong pembicaraannya, "Dia bahkan tidak kasihan sedikitpun Ma."
"Apa?"
"Iya Ma, Semenyedihkan apapun juga kisahku dia nggak akan goyah. Lihat aja, aku benar-benar akan menaklukkannya karena tak ada lagi yang perlu aku tutupi Ma." Maziya tampak sangat yakin dan bersemangat.
"Iya, apalagi yang perlu kamu tutupi, Keluarkan saja sifat kamu dengan terus terang. Buat Azkan jatuh cinta dengan apa adanya kamu."
Nyonya Lidia awalnya ingin membujuk Maziya agar tidak memikirkan hal tersebut. Ia takut Maziya merasa dikasihani. Namun mendengar apa yang akan dilakukan menantunya membuat Nyonya Lidia sedang. Azkan memanglah putranya yang cerdas, dia selalu punya cara untuk menaklukkan Maziya.
Nyonya Lidia yakin, Azkan pasti punya rencana untuk PTSD yang dialami Maziya. yang membuatnya tidak bisa mengontrol emosi saat Ayahnya disinggung. yang Membuat Maziya benar-benar tidak mampu mengatasi kegelapan. Satu lagi, yang membuat Maziya takut untuk disayangi.
.......
Hari ini Randy tidak ikut jaga malam di Rumah Sakit. Ia kembali ke Apartemennya setelah tadi barusaja tiba di depan lorong sudah ditawari oleh Dion, rekannya yang dapat tranferan dari Azkan untuk menggantikannya.
Barga duduk di sofa bersama Azkan dan Randy. Ia terbiasa untuk tidak ikut campur dan hanya mengamati lalu menambahkan pendapat jika dibutuhkan.
"Aku mau mengakui sesuatu," Setelah sekian lama diam akhirnya Azkan bicara.
"Mengakui apa?"
"Janji jangan marah padaku Randy, setelah penuh pemikiran dan pertimbangan aku juga sangat sulit menerjemahkan perasaan yang aku miliki ini."
"Mengapa bicara begitu Azkan,"
"Aku takut Kamu tidak bisa memahami ku. Tapi aku benar-benar sudah memastikannya. Tak ada yang akan aku sembunyikan."
"Azkan tunggu, " Randy menyentuh pundak Azkan.
"Ada apa?. Bukankah kamu sudah beberapa hari ini memikirkannya?"
Randy menelan ludahnya pahit, "Apa kamu Gay?"
"Bangsat,, Aku normal." Azkan yang semula serius jadi buyar karena emosi dengan dugaan Randy.
"Aku hanya menebaknya, kalau kamu marah berarti itu memang tidak benar. Aku lega..." Randy mengusap dadanya.
Barga berusaha menahan senyumannya. Memang ada-ada saja kelakuan absurd Dua sahabat itu kalau sudah berdua.
"Nebak mah boleh, tapi jangan yang menodai harga diriku sebagai laki-laki sejati Randy!" Azkan masih tidak terima.
"Iya-iya, lanjutlah mau ngomong apa tadi?"
Akhirnya Azkan mengakui Perasaannya yang diam-diam ia pendam terhadap Rasti selama 10 tahun. Ia juga mengakui sempat terbersit ingin menyatakan perasaan pada Rasti. dan juga, ia kadang merasa cemburu pada Randy dan Rasti lalu berpikir untuk memacari tiap Gadis tiap Bulan lalu membayar mereka sesuai kesepakatan.
"Pantas saja kamu selalu Gonta ganti pacar tiap sebulan Azkan." Randy mulai paham.
Randy menghilangkan senyumannya dalam sekejap. Wajah lembutnya berganti dengan raut Iblis yang siap menerkam Azkan dengan kebencian.
Blukk ...sebuah tinju melayang di wajah Azkan. Randy meraih kerah baju Azkan. Barga berusaha memisahkan namun Azkan melarangnya.
"Jadi Kamu ingin merebutnya?. Meskipun kau sudah punya Istri?. Apa kamu ingin mencampakkan Maziya ?" Randy meninggikan ucapannya.
Azkan dengan mudah melepas cengkraman Randy, "Jangan bahas istriku dulu, selesaikan satu-satu Randy!. Jadi bolehkah tahan emosimu dulu, kalau masih tidak terima apa yang aku jelaskan nanti kamu boleh pukuli aku lagi!"
Barga bersiap untuk melerai andai saja salah satu dari mereka lepas kendali. Azkan merasa bahwa sebenarnya perasaan yang ia salahpahami sebagai Cinta pada Rasti tidaklah nyata.
Ingat kembali pada saat SMA, dimana cukup banyak penggemar Cowok Rasti yang tiap hari selalu menitipkan kado istimewa. Tetapi, Rasti tidak menerima satupun perasaan mereka. Meskipun begitu, selalu ada saja yang mengatakan bahwa Rasti adalah Idola mereka. yang cantik dan tak bisa dimiliki. Namun selalu ada dalam hati mereka.
"Aku salah satu dari mereka. Aku mungkin cemburu tapi aku punya perasaan senang saat Rasti bahagia denganmu"
"Kamu tidak ada keinginan untuk..."
"Aku bahkan menyadari bahwa mata Rasti hanya berbinar untuk satu orang, ya Kamu Randy. Makanya aku tak pernah menginginkan perpisahan kalian."
Randy mengangguk, "Aku cukup tersanjung dengan pemikiranmu."
Azkan menyelesaikan penjelasannya, "Jadi seperti penggemar yang akhirnya menyadari bahwa Ia harus merelakan Idolanya untuk bahagia, maka begitupun diriku. Aku lebih senang saat Rasti bahagia denganmu."
Randy mengusap wajahnya. "Maafkan tibdakanku Barusan."
"Tak masalah, dulu juga setidaknya hampir setengah Siswa laki-laki yang berani menyinggung Rasti juga kita berikan satu tinju." Azkan terkekeh pelan.
Randy akhirnya bisa memahami Azkan. Bahkan sejujurnya, Ia tidak masalah dengan pengakuan Azkan. yang ia permasalahkan adalah Rasti, apa perasaan Rasti pada Azkan saat ini ?, yang membuatnya tidak tenang dan selalu gelisah.
"Kenapa menanyakan hal itu padaku?. Dia kan pacarmu. Kamu menyukainya sejak lama kan?. Aneh sekali kamu mengakuinya dihadapan istriku tadi."
"Apa karena pengakuan ku itu kamu mengarang cerita Azkan?" Randy kembali overthinking.
"Randy, berpikir lah dengan jernih sedikit!. Bukankah sudah ku jelaskan, butuh beberapa waktu untuk aku memahami semuanya. Butuh pertimbangan juga untuk menjelaskannya padamu. Hanya sedikit cerita emosional darimu apa itu mempengaruhiku?"
Azkan tak habis pikir dengan Randy. Padahal Randy itu sangat pintar. Bisa-bisanya mengeluarkan statement yang aneh.
Setelah itu mereka kembali terdiam. Tidak punya solusi atas sikap Rasti. Azkan merasa Rasti ingin perhatian lebih bukannya ada perasaan untuknya. Sementara Randy, ia curiga kalau Rasti punya perasaan pada Azkan, justru akhir-akhir ini sering sekali mencari alasan untuk tidak melakukan kegiatan bersamanya lagi.
"Sama seperti Tuan Azkan, aku yakin Rasti hanya butuh waktu memahaminya." Akhirnya Barga mengeluarkan pendapat ditengah kekalutan dua sahabat itu.
Azkan dan Randy serentak mendongak. Dengan raut kebingungan menunggu Barga menjelaskan.
Jadi menurut Barga, Rasti juga merasa bahwa Azkan adalah salah satu penggemar setia yang punya tempat tersendiri dihatinya.
"Jadi kesimpulannya, Rasti adalah Idola yang kurelakan. Kali ini, Istriku adalah Idolaku sendiri. Aku akan berusaha memahami dan mencintainya sepenuh hati."
"Kamu jatuh hati dengannya Azkan?. Maksudku, benar-benar jatuh hati, tanpa membawa nama Mama kamu?"
"Tentu saja,"
"Aku percaya sekarang, Aku hanya perlu meyakinkan Rasti dengan hal ini" Randy kembali antusias.
Azkan meminta juga pendapat dari sudut pandang calon Dokter Spesialis Psikiatri Ini. Bagaimana sikap yang seharusnya ia tunjukkan pada Maziya yang rupanya memiliki Gangguan Bipolar.
Setelah selesai, Randy berniat mengobati luka Azkan, tetapi Ia menolak. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Maziya ataupun perlakuan manis macam apa yang akan ia dapatkan nanti. Ia tidak sabar akan hal itu.
Bersambung.....