The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
60. Tahan Diri Azkan !



Maziya memarahi Rita hingga membuat heboh seluruh kediaman. Bi Mirna terus meminta maaf mewakili jika tindakan putrinya berlebihan. Ia berjanji tidak akan membiarkan Rita masuk kesana meskipun ada dirinya.


"Bukan Bi Mirna, aku mau dia sendiri yang mengakui." ekor mata Maziya menatap tajam ke arah Rita.


"Kartu emas itu jelaskan sekarang!. Apa kau tidak punya mulut hingga harus Ibumu yang menjelaskannya?"


Rita merasa tersinggung dengan ucapan Maziya, seolah dia adalah anak Mama yang hanya mampu berlindung di balik punggung Bi Mirna.


"Itu karena prestasiku Nona, aku sungguh-sungguh." Rita membela diri.


"Kau pikir aku bisa dibohongi?" Maziya melipat kedua tangannya di dada.


"Aku tidak berbohong Nona aku sungguh-sungguh." Rita kini sampai berlutut di hadapan Maziya.


.....


Nyonya Lidia dan Suaminya tergopoh-gopoh menuju Dapur. Mereka terganggu dengan suara keributan Maziya. Melihat Maziya jadi bahan tontonan karena emosinya, Azkan mendekat.


"Berhentilah menyusahkan Bi Mirna!" bisik Azkan berusaha menenangkan Istrinya.


'Apa ini salah satu gejala nya. Apa saat ini dia mengalami Mood yang buruk? Tapi kenapa Moodnya tiba-tiba buruk?. Apa karena barusan mencium dada bidang ku ini?. Harusnya kan dia bahagia.


"Kak Azkan, aku cuma minta dia jelasin kenapa dia bisa punya kartu emas Restoran MOCY. Itu punya siapa?"


"Dia bilang itu karena prestasi kan." Azkan masih berusaha menenangkan Istrinya.


Tampaknya tidak ada yang mau menyelesaikan hal itu. Rita kekeh dengan pendiriannya sementara Maziya terus tidak percaya dan meminta penjelasan.


"Kalau memang kamu tidak mau mengakui tentang kartu emas itu ya sudah, Kali ini berhubung semua orang melihat" Maziya memperhatikan sekeliling berniat membuat fokus orang lain tidak pecah termasuk Mertuanya juga Azkan serta Bi Mirna sendiri.


"kenapa kamu merias diri saat masuk ke kamar utama kami?". Ingin menggoda suamiku kan?"


"Tidak Nona," Rita tergagap langsung menyurutkan niatnya, ia tak mau dipandang buruk Dimata Nyonya Lidia.


"Kenapa Liatin Mama?. Mau jadi menantunya? Kamu ngerasa pantes?"


"Tidak Nona, ampun" Rita kini mulai meneteskan air mata palsu.


Saat tangan Maziya melayang hendak menampar Rita. Dengan sigap pula Azkan menangkap tangannya.


"Jangan kotori tangan kamu untuk hal yang tidak pasti." Azkan berbicara dengan pelan.


"Nggak pasti gimana sih Kak Azkan?" teriak Maziya dengan suara memekakkan telinga.


Azkan meminta semua orang bubar dan kembali ke kamar masing-masing. Ia merunduk dan menarik tangan Maziya ke belakang bahunya hingga berhasil menggendong Maziya di pangkuannya menuju kamar.


"Lepasin aku nggak!!" Teriak Maziya sembari menendang-nendang agar Azkan kesusahan.


"Tenanglah kalau peganganku terlepas dan kamu jatuh, bisa patah tulang rusuk kamu sekalian!"


Maziya berhenti berontak, dia lebih sayang dengan tubuhnya. "Kak Azkan sengaja bela dia dibanding aku?"


Karena masih kesal Azkan tidak juga menjawabnya, Maziya beralih dengan memukul-mukul tubuh Azkan dengan tangan mungilnya.


.....


Azkan menutup pintu dengan kaki, ia menghempaskan tubuh Maziya ke atas ranjang.


"Kak Azkan, kok ngebelain dia sih. Bener kan Kak Azkan barusaja tergoda karena dandanan dia tadi. Kenapa diam aja dari tadi aku nanya?"


Azkan benar-benar gemas untuk menyentil kening Maziya. Namun dia harus tahan diri, semenjak menyadari bahwa Ia jatuh cinta pada Maziya yang harus ia lakukan adalah memahami cara menghadapi Maziya.


Azkan berbalik ke arah pintu membuat Maziya jadi curiga.


"Kak Azkan mau kemana?. Mau minta maaf atas kelancanganku tadi?. Percaya ngga kalau aku masih akan balik buat nampar dia."


"Aku hanya mengunci pintu." Azkan memutar kunci kamar mereka dari dalam lalu kembali ke hadapan Maziya.


"Kak Azkan mau ngapain?"


Azkan memang jarang memakai singlet apalagi tadi ia terburu-buru menyusul Maziya ke dapur. Otot Dadanya yang hot itu menunjukkan bekas Lipstik merah akibat ciuman Maziya.


Lagi-lagi tidak menggubris Perkataan isterinya. Azkan melepaskan celananya dan melempar sembarangan, menyisakan Boxer bermerek dengan warna silver.


"Lihatlah ini, setelah menggoda dan merayuku apa kamu pikir lucu untuk bersikap tenang seolah tak terjadi apa-apa?"


"Aku cuma nyontohin kan tadi. Kalau niat si Rita bermuka palsu itu adalah untuk menggoda Kak Azkan."


"Aku tidak tergoda dengannya, aku tergoda olehmu."


Tik tik....hening untuk beberapa saat.


"Maksud Kak Azkan, cuma gara-gara aku cium Dada Kak Azkan jadinya Kak Azkan terangsang?" Senyum Maziya merekah.


Azkan lupa sesaat, ia selalu saja lupa dengan rencananya. Ia harus pastikan dulu bahwa Maziya bisa menghilangkan Trauma dan berhenti menyalahkan diri sendiri.


'Aduh Azkan, apa yang ada dipikiran mu memangnya hanya ***?. Berpikirlah dengan Logika seperti dahulu oke.


"Kenapa Kak Azkan?." Maziya beraksi dengan membuka kancing bagian atas piyama yang ia pakai serta mulai menurunkan bagian bahunya.


"Aku akan melakukannya asal kamu berhenti minum Pil KB!"


Maziya sedikit terperanjat mendengar apa yang dikatakan Azkan.


"Itu nggak mungkin, Kak Azkan pikir aku bodoh buat berkorban segitu banyaknya?. Ntar kalo kebobolan juga aku yang repot." Maziya menaikkan bagian bahu piyamanya lagi.


"Biar aku saja yang pakai pengaman." Ujar Azkan.


"Aku nggak percaya, Buktinya waktu itu kitaa..."


Maziya tiba-tiba saja merasa malu saat mengingat malam yang mereka lalui dengan sadar lebih dari satu kali tersebut.


"Aku sadar kalau hal itu memang diperlukan. lihat ini..." Azkan membuka laci di samping ranjang.


Ada beragam jenis Kon**m disana. Entah sejak kapan Azkan memerintahkan Barga untuk meletakkannya disana.


"Lihat model ini, katanya ini ...." Azkan menjelaskan satu-persatu perbedaan alat pengaman tersebut.


"Kak Azkan beneran niat ngelakuin itu bareng aku ya. Dilihat dari bagaimana Kak Azkan ngejelasin sesuai iklannya, berarti benar kan. Malam itu, itu juga malam pertama Kak Azkan dengan seorang Gadis?"


Ah lagi-lagi Azkan dibuat mati kutu. Bagaimana caranya ia mengalihkan pembicaraan ini.


"Kalau iya kenapa?" Azkan naik ke atas ranjang "Sebagai orang yang berani merebut keperjakaanku apa kamu berani bertanggung jawab?"


"Hahahaha, " Maziya tertawa dengan keras.


"Kenapa kamu ketawa?"


"Aku baru kali ini dengar kalimat semacam itu dari mulut seorang Pria yang ngaku-ngaku pemain wanita yang nggak akan tertarik dengan sampah sepertiku, yang nggak akan pernah mau bahkan buat nyentuh aku sekalipun di ranjang, yang berani taruhan buat bayar Miliyaran cuma karena Gengsi. Ternyata baru sekali juga toh, aku juga ngerasain malam pertama yang kita lakukan pertama kali itu nggak sama seperti yang aku lihat di Situs Dewas*. Nah, yang kedua kali kayaknya Kak Azkan udah mulai ahli ya?."


"Kan liat versi premiumnya." celetukan tiba-tiba dari mulut Azkan membuat Maziya tertawa kembali bahkan sampai menahan perutnya.


"Ooh udah lihat yang premium." Maziya masih ngik-ngik meredam tawanya.


"Ingatlah bahwa aku tidak sengaja waktu itu." Azkan masuk ke dalam selimut mengusir Maziya.


"Kak Azkan tidur nggak pake apapun begitu?" Maziya masih ingin menggoda Suaminya.


"Tidurrrrr!!!"


Bersambung....