
Di Perusahaan SERZIANO Grup
"Jadi ketika mereka Lembur sambil menginap di hotel, sementara kita lembur sembari bekerja." Lintang mengeluh, kacamata nya dilepas sesaat karena terlalu lama menatap layar komputer.
"Mereka kan disana kerja Bang." Edwin meregangkan otot jari-jarinya.
"Kerja yang nyaman, andai saja pacarku sekaya CEO kita. Aku akan duduk manis di rumah menunggu uang darinya." Chelsea memutar kursinya.
Adiba terkekeh kecil, "Aku juga mau, di usia yang masih muda mendapatkan suami kaya raya. Aku bisa perawatan ratusan juta setiap minggunya."
"Kalian iri dengan Nona,, Maksudnya istri CEO kita?" tanya Lintang pada dua wanita cantik itu.
Chelsea dan Adiba serentak mengangguk. Maziya lebih muda dari mereka, tetapi punya nasib yang sangat luar biasa. Mendapatkan lelaki sempurna fisik juga harta.
"Mengapa harus iri?. Apa kalian sanggup menghadapi wajah Tuan Azkan setiap hari?" tanya Lintang.
"Lalu dia akan mengatakan, panggil aku Pak di Perusahaan!" Edwin ikutan.
"Kalian juga harus diawasi 4 Pengawal kemanapun, itu sulit rasanya seperti tidak punya kebebasan sendiri. Namun itu penting karena keselamatan kalian lebih penting karena Nisa saja ada musuh yang mengincar karena seluruh Isi Negara ini tahu siapa kalian!"
Lintang menjelaskan dengan irama seperti menasehati. Wajar saja, dia juga punya dua putri di rumahnya.
"Benar ya, kalau dipikir-pikir. Menjadi Maziya itu beruntung tapi juga cukup sulit." Adiba manggut-manggut.
"Lebih tepatnya, sangat sulit. Terlebih setelah aku mendengar ucapan Bang Lintang." Chelsea ikut menambahkan.
Renald membuang nafas lagi. Dari Tadi, setidaknya setiap rekan sekretaris lainnya mengeluh atau bicara, ia hanya bisa membuang nafas.
"Bicaralah Renald, jangan buang nafas seperti itu. Terdengar sangat menjengkelkan. Kita semua juga lelah, bukan kamu saja!" Chelsea protes.
"Setidaknya kalian semua punya sesuatu untuk dilakukan." Renald menatap satu-persatu dari mereka.
"Memangnya kamu Tidak?" tanya Chelsea yang harus berhenti memutar kursinya.
Renald Menggeleng, "Kalian semua punya pasangan."
"Aku tidak," Adiba mengangkat tangan.
"kamu punya kesenangan dalam kecantikan." ujar Renald pada Adiba.
Adiba mengangguk, sembari memperlihatkan kuku jarinya yang kini memiliki motif berbeda. "Benar juga, perawatan itu penting untuk calon suamiku."
"Bayangkan jadi aku, tidak punya kekasih juga tak punya kesenangan. Aku pikir dengan jadi Pria cukup mapan bisa menggaet banyak wanita." keluh Renald dengan apa yang terjadi padanya.
"Bukannya kamu mau ngumpulin uang buat ajak pacar mu?" Edwin menggaruk kepalanya.
"Pacarnya di masa depan lebih tepatnya." Lintang menambahkan.
Pitaloka masuk membawakan kabar gembira. Bahwa Mr. Peter memilih Hotel dari SERZIANO Grup untuk kerjasama di Swiss.
Mereka bertepuk tangan, namun ekspresi mereka sebaliknya. Ekspresi semua orang seolah berkata udah dapat ditebak hasilnya.
Memangnya apa yang tidak bisa dilakukan CEO baru mereka itu. Sejak masih jadi Direktur Departemen bahkan mampu menggaet banyak sekali Partner besar sebelum ditawari hanya karena percaya dengan kemampuan Azkan.
"Karena itu, CEO kita mentraktir kita semua atas nama Perusahaan." Pitaloka berujar senang sembari mengangkat Kartu Debit Di tangannya.
Berdasarkan Detail dari kartu tersebut. Sepertinya mereka tahu punya siapa. yang jelas bukanlah milik Azkan maupun milik Perusahaan. Meskipun keuntungan selalu diatas harapan setiap tahun juga Azkan belum tentu mau memberikan mereka bahkan secangkir kopi mahal.
"Itu punya Wakil CEO kita." Edwin hafal betul dengan bentukannya.
"Pasti CEO yang mentransfer uangnya ke Wakil CEO lalu..." Renald berhenti bicara.
Mereka tahu, kalau Azkan sangat pelit jika urusan di luar pekerjaan. Renald yang sempat menjadi mantan Sekretaris Azkan dahulu tahu betul bagaimana sifat Bosnya.
"Tidak usah membelanya, semua orang di Perusahaan juga tahu dia orang yang bagaimana." Chelsea menepuk pundak Renald.
Meskipun mengeluh, Renald tetap menemui sang Wakil CEO yang dipuji banyak orang tersebut. Leo sudah menjadi wakil sejak penunjukan Alam Serziano menjadi CEO. Dia teliti, bijaksana dan tegas untuk urusan pekerjaan sementara di luar bersikap layaknya orang normal yang sangat biasa.
Leo mematuhi Alam Serziano untuk menghandle Perusahaan dan membantu Azkan. Dia sebenarnya sangat dekat dengan Lintang, bahkan puluhan tahun berteman. Nasib baik karena Leo lebih terampil, semua keluarganya tinggal di luar Negeri. Meskipun begitu mereka tetap berhubungan baik.
"Ajak juga Pak Leo!" Lintang memandang ke arah Renald.
Kini semua orang ikut melirik Renald. Seolah mengatakan bahwa ia yang harus pergi.
"Ah kenapa harus aku?"
Tetap saja akhirnya Renald yang pergi menemui Leo. Mereka pergi ke restoran untuk traktiran tersebut.
Saat mereka semua dalam perjalanan pulang. Tentunya tidak terlewatkan bergosip ria di pesan chat.
Mereka membandingkan Azkan dengan Leo. Meskipun Leo memiliki banyak tanggungan untuk keluarganya, tetap saja dia mau mentraktir semua orang daging Steak mahal.
Kalau Azkan yang ikut, mereka bahkan tidak berani memesan makanan. Jika mulai, mungkin Azkan akan mengungkit apa yang mereka makan belum sebanding dengan kerja keras mereka untuk Perusahaan. Berkaca dari pengalaman Renald dahulu.
Mungkin untuk sesaat mereka lupa bahwa Maziya juga berada dalam Grup. Pitaloka langsung mengatakan agar pesan tersebut ditarik saja.
Namun justru Maziya ikut nimbrung. Mengatakan bahwa semuanya boleh menceritakan tentang Azkan. Ia pastikan akan segera menghapusnya tanpa ketahuan Azkan.
Benar saja, banyak sekali keluhan terutama dari Renald. Mungkin karena ia sudah lama berurusan dengan Azkan sejak Azkan masih menjabat jadi Direktur Departemen.
Ririn berulang kali mengeluh pada Aliza. Tentang perubahan sikap Mark akhir-akhir ini.
Meskipun biasanya juga Mark tidak begitu peduli padanya, kali ini berbeda. Mark tampaknya hanya tertarik membicarakan Maziya. Seolah ia hanya perlu membicarakan banyak hal tentang Maziya untuk mendapatkan banyak uang dari kekasihnya itu.
"Jangan bilang kamu mulai menyukainya?" Aliza bingung.
"Aku?. tentu saja kami pacaran karena saling memanfaatkan saja. Tapi setidaknya ada penghargaan untuk hubungan kita kan."
"Selama ini kamu memutuskan pacarmu setelah bosan. Mark juga sepertinya sudah terlalu lama, ganti lagi lah!" saran Aliza.
"Tapi kan."
"Kenapa kamu benar-benar naksir?"
"Agak," akui Ririn.
"Jangan sampai, kamu dan dia sejak awal setuju untuk hanya saling memanfaatkan."
"Apa salahnya, dia satu-satunya yang menghargai bahwa aku tidak salah dalam memanfaatkan para Pria." ujar Ririn.
"Dia brengsek Ririn, ingat itu. Jangan terjebak dengan buaya darat sepertinya atau kamu akan terluka untuk pertama kalinya." Aliza memperingatkan.
"Tidak masalah, kalau dia memang hanya ingin mengetahui lebih banyak tentang Maziya. Lagipula dia tidak pernah ketinggalan memanjakanku."
"Aku sudah beri peringatan ya."
"Iya, aku juga tahu hubungan kami akan berakhir cepat atau lambat. Tapi setidaknya ada rasa yang mulai ada dari hubunganku."
"Kenapa dengan Maziya, kenapa banyak yang menyukainya. Tampang biasa saja, tingginya juga tidak mencapai 160 cm. Aku pernah lihat data diri dia soalnya. " ujar Aliza. "Satu lagi, Kepribadiannya benar-benar buruk."
"Entahlah, Tetap saja dia bukan tandingan kita Aliza."
Aliza membenarkan "Dia tidak keberatan menghabiskan banyak uangnya. Kita selalu menyindirnya selama ini. dan menyangka kalau dia hanya tidak tahu malu dan pandai bersilat lidah saja."
Aliza dan Ririn mengingat kembali bahwa mereka selalu mengira Maziya hanya memanfaatkan Viola yang kaya namun agak bodoh. Ternyata Maziya lebih hebat, Backingannnya Nyonya Lidia istri dari Alam Serziano. Kini bahkan statusnya Hampir tak tersentuh oleh mereka, Maziya istri dari Azkan Serziano, pewaris tunggal SERZIANO Grup.
Bersambung....