The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
50. Fakta yang Mulai Terbuka



Tengah malam...


Maziya terbangun dengan keadaan masih sedikit pusing. Ia berniat bangkit untuk minum, namun Azkan segera mendorong tubuh mungilnya hingga terbaring.


"Aku ambilkan, kau tunggu disini!"


"Kenapa Kak Azkan disini?"


"Memangnya aku harus dimana?"


"Di kamar sahabatmu tersayang kan?" Maziya memegang kepalanya.


"Dia punya Randy."


"dan juga kamu kan, pergilah biar aku sendiri disini"


"Kalau aku tak mau?" Azkan menyodorkan segelas air bewarna sedikit kekuningan pada Maziya.


"Ya terserah, siapa juga yang bisa maksa Kak Azkan."


Maziya melihat air di gelas tersebut. Ia mengerjapkan matanya mungkin saja salah lihat warna air.


"Cepatlah minum!"


"Ini air apa Kak Azkan, Kok warnanya?"


"Minumlah!"


Maziya kini mencium bau air tersebut. Sedikit menyengat dan ia tak pernah mencium air putih dengan aroma tersebut.


"Ini air apa ya Kak Azkan?. Kalau nggak niat buat ngambil, aku juga bisa sendiri." Maziya mengibaskan selimutnya.


Dengan cepat tangan Azkan menarik selimut hingga kembali menutup setengah tubuh Maziya. Ia juga menyodorkan air tersebut ke mulut Maziya hingga istrinya itu hampir tersedak.


"Sudah habis kan!" Azkan memperlihatkan senyum Smirknya.


Setelah menaruh gelas di nakas ia kembali ke sisi Maziya.


"Itu pasti bukan air putih kan?" Maziya mulai panik juga merasakan rasa aneh di mulutnya.


"Ada yang membuatku penasaran, tadi kau juga sudah mabuk sembarangan, apa salahnya selesaikan mabuk-mabukan mu sekarang!"


"Maksudnya?"


Tak lama setelahnya, Maziya kembali terpengaruh oleh minuman beralkohol tersebut. Bukankah sudah dibilang kalau Azkan itu menakutkan, dia tanpa ragu mencekoki Maziya alkohol hanya demi mendapatkan jawaban atas kegelisahannya.


"Kak Azkan..." Maziya kini tersenyum konyol pada suaminya.


"Mmm."


"Kenapa kau hanya perhatian pada Rasti hmm?"


"Kenapa kau tidak memperlakukan aku seperti dahulu lagi?"


"Meskipun kamu membenciku, bisakah sedikit berbaik hati selama aku menjadi istrimu?"


"Tidak akan," jawab Azkan dengan pasti.


"Kenapa?"


"Karena kau."


Maziya tertawa, kini mulai berdiri di atas ranjang besar tersebut. Ia mulai melompat-lompat kegirangan.


"Berbaring dan tidurlah...!"


Maziya berhenti, kini ia merunduk dan merangkak ke arah Azkan.


"Tidurlah dengan ku bagaimana?."


"Tidur sendiri!"


"Apa Kak Azkan takut?"


"Apa yang aku takutkan?"


"Kamu takut diperkos* olehku kan."


"Kau gila?, apa yang kau ucapkan?"


"Aku memang gila, Iya itu benar. dan salah satu kegilaanku adalah berharap bisa tidur denganmu. Tanpa cacian yang menjatuhkan harga diri ku seperti sebelumnya. Tapi kalau Kak Azkan masih mau bayar juga boleh, toh aku juga menginginkannya. Setidaknya minta maaf padaku kalau melakukan hal itu sebelum mendapatkan izin dariku."


"Aku bisa saja tidur denganmu." Azkan menjalankan umpan yang ia tunggu-tunggu.


"Benarkah?" Maziya terdengar antusias.


"Asalkan kau katakan padaku dengan jujur tentang apa yang membuatku kepikiran."


"Apa aja, aku bersedia kok"


"Baiklah, mari kita mulai."


Azkan bertanya tentang Dr Faruq karena ia mengingat kalau Randy sempat menyinggung hal itu. Azkan juga bertanya apakah Maziya benar-benar mencintainya demi uang dan kompensasi setelah perceraian atau tulus mencintainya.


Jawaban yang didapat Azkan benar-benar membuatnya Speechless. Maziya adalah pasien dari Dr. Faruq namun ia tak mau menjelaskan apa penyakitnya karena ia takut Azkan akan merasa kasihan padanya nanti. Bahkan setelah dibujuk pun Maziya tetap kekeh dengan pernyataannya.


Maziya bahkan juga tidak yakin apakah ia mencintai Azkan dengan tulus atau tidak. Dia jatuh cinta pada Azkan sebelum 5 tahun yang lalu. 5 tahun kemudian ia ragu apakah Cintanya juga dipengaruhi oleh uang atau Azkan yang notabenenya adalah seorang pewaris Serziano Grup.


.....


Azkan bersedekap menghadap jendela. Dia mencerna semua ucapan Maziya saat mabuk karena Miras dari orang luar dan Alkohol yang sengaja ia berikan.


Barga mendekat ke posisi di belakang Azkan. "Tuan, apa anda mempercayai semua omongan Nona?" tanya Barga.


"Tentu saja,"


"Tapi, Nona sedang mabuk tuan dia ada di bawah pengaruh alkohol. Apa dia masih bisa berpikir jernih?


"Dia memang tidak kuat minum. Tapi satu hal, dia akan jujur saat mabuk."


Aku juga akan pastikan ini terakhir kalinya ia bersentuhan dengan minuman itu. Tidak akan akan ada lain kali, tidak akan pernah kubiarkan lagi.


Azkan mengingat kembali saat ia baru saja masuk kuliah. Dia menyembunyikan sebotol wine di dalam laci kamarnya. Ia akan meminumnya saat banyak sekali tugas perusahaan yang harus ia pelajari sembari berkuliah.


Saat Itu Maziya masih SMP , dengan iseng mencoba seteguk dari gelas Azkan dengan ancaman akan mengadukan Azkan pada Kakeknya. Siapa sangka, hanya seteguk kecil wine mampu membuat Maziya bercerita tentang kejahatannya di sekolah serta Azkan yang akhirnya ketahuan menyimpan wine.


Alhasil mereka berdua harus dihukum. Azkan akhirnya memutuskan pergi ke Bar Kelas jika ingin minum-minum. Maziya juga jadi lebih sering dinasehati karena kenakalannya di sekolah.


"Barga, bagaimana dengan rekaman sekitar Rumah Sakit?"


"Sudah aku singkirkan Tuan."


"Lalu orang itu?"


"Dia adalah pasien rawat jalan yang memang sering kambuh dalam beberapa bulan Tuan."


"Pasien RS ini?"


"Pasien Klinik Psikiatri Dr Faruq Tuan."


"Sudah kuduga." Azkan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Azkan berjalan menatap Maziya yang terlelap. "Tidak mungkin Dia berani membeli minuman murahan pada sembarang orang, kecuali ia tahu betul siapa orang tersebut."


Azkan menyuruh Barga menyelidiki Dr. Faruq. Apakah Maziya benar-benar pasien di sana dan penyakit apa yang tidak bisa dijelaskan oleh Maziya.


.....


Saat akan berjalan ke Sofa, Azkan dikejutkan oleh Maziya yang sudah memeluk erat tubuhnya dari belakang.


Azkan berbalik sembari melepaskan pelukan Maziya. "Kenapa kau bangun lagi?"


Maziya kini tersenyum sambil membuka kancing baju yang dipakai Azkan satu persatu.


"Lepas, dan tidur!" Azkan menarik tangan Maziya hingga tersungkur ke ranjang.


"Kak Azkan." Maziya manyun sambil marah. Marah yang menggemaskan.


"Jangan berekspresi seperti itu, aku tidak akan pernah tergoda!"


"Kenapa?" Maziya mengedipkan sebelah matanya.


"Kau ini, mau aku ikat di ranjang?"


"Mau" jawab Maziya. "Aku bisa melakukan gaya kasar seperti itu, aku sudah melihat contoh tayangannya."


"Tayangan apa?"


"Kamu adalah pria dewasa, apa perlu aku jelaskan?" Maziya mulai melanjutkan pekerjaannya untuk melucuti semua pakaian Azkan


"Kau benar-benar gila ya, apakah seorang gadis akan terus terang begit bilang kalau dia nonton film Dewasa?"


"Aku juga Sudah Dewasa bahkan sudah menjadi istri. Berhentilah panggil aku gadis bla-bla -bla, panggil aku dengan namaku atau Istri!"


"Kalau Aku tidak mau?"


"Kalau tidak mau, aku akan memaksamu. Aku bahkan bisa membuatmu tidur denganku malam ini."


"Kau mungkin akan menyesalinya besok." Azkan terdengar menantang.


"Kenapa?"


"Aku bisa saja membuatmu merasa tidak ada harga diri, aku bilang tidak butuh izinmu untuk melakukannya. Karena kau mengizinkanku dengan sukarela."


"Ya tentu saja,. Aku menginginkanmu jadi aku akan selalu mengizinkanmu."


Azkan tertawa, tidak salah lagi. Barga sampai menganga melihat Tuannya yang selalu dingin pada mantan pacarnya yang berjumlah ratusan. Tertawa, pada Istri yang dibencinya.


Mungkinkah ini adalah faktanya. Bahwa Azkan sebenarnya sudah ada rasa sejak lama pada Maziya. Namun Azkan hanya ragu dan dibuat bimbang dengan prasangkanya pada Obsesi Maziya terhadap uang.


Randy dan Rasti berada di depan pintu.


"Tuan apa aku harus membiarkan mereka masuk?" tanya Barga yang sedari tadi hanya melihat Tuan dan Nona nya yang saling menggoda.


"Aku punya sedikit rencana. Barga, biarkan mereka masuk dan bawa mereka keluar setelah aku suruh, sekaligus kamu jangan masuk lagi!"


"Baik Tuan, apa anda akan melakukan..." Barga keceplosan dengan rasa penasarannya.


"Apa kamu kini mulai berani mencampuri urusanku?"


"Tidak Tuan, maafkan aku. Aku akan menyuruh mereka masuk " Barga mendekat ke arah pintu.


Bersambung....