
Rasti sedang asik berbincang dengan teman lama bersama Randy. Hingga akhirnya ia tersenyum manis melihat kedatangan seseorang.
Azkan datang kepadanya, sesaat setelah Maziya digandeng oleh Azkan, senyuman Rasti pun menghilang. Sementara temannya yang lain termasuk Randy antusias mendengarkan Azkan memperkenalkan Maziya.
Maziya menikmati waktunya untuk diinterogasi oleh teman-teman SMA Azkan. Dengan senyuman palsu tentunya menjelaskan bahwa Pernikahan mereka baik-baik saja sesuai dengan yang diingatkan Azkan.
"Aku hampir lupa kalau Istri kamu juga alumni SMA Galanga." Randy melirik Maziya.
"Iya." Azkan meminum minumannya sambil sesekali memperhatikan Maziya.
"Barga mana Azkan?"tanya Rasti dengan niatan agar Azkan berhenti membicarakan Maziya dengan Randy.
"Ada, tuh."
Barga muncul di sela-sela keramaian memposisikan diri di antara Azkan dan Maziya. Jaraknya sama, sehingga ia bisa memperhatikan Azkan sekalian juga Maziya.
"Kasian juga kalau Barga bertanggung jawab atas kalian." ujar Randy.
"Ada pengawal, tapi tidak mungkin terlalu dekat."
"Ooh iya ya."
.......
Maziya akhirnya berhasil melepaskan diri dari Teman-teman Azkan. Ia menarik Viola dari kerumunan.
"Maziya, kamu udah selesai?"
"Kita agak jauhan yuk. Capek banget nih"
Mereka duduk di bagian sudut menikmati rangkaian acara. Hingga seseorang muncul membawa hawa buruk bagi mereka.
"Hai, kita bertemu lagi, jangan-jangan kita jodoh." Mark tanpa malu mengatakan hal demikian.
Maziya menatap sinis Mark. "Apa kamu tidak peduli dengan orang lain yang mungkin mendengarnya?"
"Biar saja, mereka banyak yang mengenalku." Mark berbangga diri.
"Mengenal orang brengsek sepertimu memang cukup mudah." sindir Maziya terus terang.
"Mungkin kamu lupa kalau suamimu juga brengsek. Hanya saja dia menutupinya dengan sempurna."
"Beraninya menyamakan diri denganku." Azkan muncul entah darimana bersama Barga.
Azkan menarik lengan Maziya hingga berdiri di sebelahnya. Kini ia bahkan merangkul Maziya ke pelukannya.
"Aku sepertinya masih ada urusan." Mark berjalan pergi.
"Senior Mark. yang satu tahun di atasku. yang sempat menyombongkan diri waktu itu. Kenapa pergi tanpa berbasa-basi?"
Baik Maziya, Viola bahkan Randy juga Rasti kebingungan dengan apa yang dikatakan Azkan.
Mark menghentikan langkahnya. "Eh iya, akhirnya kamu ingat."
"Aku selalu ingat, maaf tidak bersikap mengenalimu saat diluar. Biasanya karena aku menganggap mereka tidak begitu penting dan memuakkan." ujar Azkan.
"Tentu, aku tahu kamu cukup kasar dahulu, kini pun begitu."
"Bukan hanya aku yang kasar, kau juga kan?"
Azkan melirik Randy yang tampak tidak tahu apa-apa.
"Kita pernah bertanding seusai pulang sekolah dan akhirnya aku menang. Mungkin kata yang lebih tepat adalah aku menumpas kesenioran seseorang yang hanya berani membawa nama hukum tanpa tahu tindakannya."Azkan mengelus bahu Maziya sembari tersenyum.
Kenapa Kak Azkan menatap aku begitu?. dan kenapa juga mengelus-elus bahu aku gini.
"Itu sudah lama berlalu, jangan terlalu menyimpan dendam. Bukannya aku mengakui kemampuanmu." Mark membela diri.
"Kamu Mengakuinya?. ya benar sekali. Lalu kamu juga membawa segerombolan orang besoknya untuk menghabisi ku katanya. Tanpa tahu aku siapa. Untung saja akhirnya damai ya." Azkan masih belum berhenti.
"Ya tentu saja." dengan enggan Mark mengakuinya.
Saat Mark akan kembali berbalik untuk pergi. Lagi-lagi Azkan berhasil menghentikannya dengan mencium bibir Maziya.
Dua pupil mata Maziya membesar. Ia cukup kaget dengan apa yang terjadi. Viola bahkan menganga tanpa menutup mulut dan membiarkan image kecantikannya rusak. Di Sisi lain, Rasti berusaha menenangkan diri sendiri dengan perasaan campur aduk yang ia alami.
Tanpa menghiraukan kebingungan yang tergambar jelas di wajah Maziya. Azkan mengelus lembut bibir mungil bewarna pink itu dengan jempolnya.
"Ingatlah bahwa ini peringatan keduaku untuk tidak mendekati istriku. yang ketiga kalinya aku benar-benar akan menargetkan VM." Azkan memperlihatkan senyum Smirknya yang menakutkan dan mengintimidasi.
Apa Kak Azkan ngelakuin ini buat memastikan bahwa aku istrinya. Dia benar-benar keren kalau bertindak begini.
Mark berlalu pergi meninggalkan mereka. Acara pun berlangsung hingga malam hari.
........
Di Mobil dalam perjalanan pulang...
"Kak Azkan tadi tiba-tiba nyium aku.."
"Mau minta bayaran?" Azkan menginterupsi Maziya.
"Mau tanya alasannya."
"Apa lagi selain memperingati Si pengacara itu."
"Demi aku?" Maziya berharap jawaban Azkan dapat membuatnya bahagia.
"Demi kelangsungan pernikahan juga citra Perusahaan. Aku tidak mau ada gosip aneh yang timbul."
Lagi-lagi hanya sebatas memperlihatkan bahwa pernikahan kita sangat normal. Ya apa yang kamu harapkan dari Lelaki ini Maziya. Hanya karena melewati malam pertama bersama, apa kamu berpikir semuanya akan berubah. Kamu bodoh kalau percaya. Dia hanya mempedulikan Rasti, dan hanya Rasti yang ada di hatinya.
"Ooh, begitu ya. ya udah kalau gitu aku minta bayaran aja dari ciuman aneh yang tidak diharapkan itu."
"Nanti kutransfer."
"Oke." Maziya melipat kedua tangannya di dada kesal. "3 Digit."
"Enak saja, hanya 1 digit."
"Cuma satu?. Apa Kak Azkan masih punya hati?"
"Dua digit no Nego."
"Oke Deal." jawab Maziya.
Barga hanya geleng-geleng kepala melihat interaksi antara suami istri tersebut. Bahasan mereka tidak akan jauh-jauh dari itu.
.......
Mobilpun berhenti, Barga turun dan bertanya mengapa ada kemacetan di jalur tersebut. Rupanya ada Truk yang mengambil jalur tersebut dan terbalik. Jalur tersebut memang tidak cocok dilalui muatan berat dan besar.
Menyebabkan kemacetan panjang karena muatannya banyak, ditambah lagi Supir truk tersebut dalam keadaan mabuk. Polisi bolak-balik memastikan pengendara mobil bersabar. Barga kembali masuk ke dalam mobil dan menjelaskan apa yang terjadi.
"Berapa lama kira-kira?"
"Entahlah Tuan, katanya mungkin sekitar 2 sampai 3 lagi."
"Lama sekali. Dimana Sekretaris Barga?. Apa tidak bisa dibayar saja biar semuanya beres?" Maziya merasa tidak nyaman.
"Tidak Nona, Makanya kita diminta bersabar."
Maziya mengusap dua lengannya karena dingin. Azkan menyadari hal tersebut dan membuka jasnya lalu melemparnya ke tubuh Maziya.
"Pakai itu!"
"Serius Kak Azkan?" dengan raut wajah tak percaya Maziya memastikan.
"Apa harus terkejut begitu?"
"Ini peristiwa langka. Meskipun dulu juga Kak Azkan suka begini tapi setelah kita merenggang sepertinya ini mustahil." Maziya melihat jas tersebut dengan memainkan manik matanya.
"Mau kau pakai atau tidak?" Azkan bertanya judes.
"Iya deh pakai." Maziya kemudian memakai jas tersebut.
"Aku hanya tidak mau kau beralasan sakit agar tidak hadir besok."
"Iya aku bakalan kerja kok."
"Ke Panti Asuhan."
"Kan tadi udah."
"Acara lainnya."
"Ooh perayaan Ultah kalian bertiga ya."
"mmm"
Maziya menepuk pahanya hingga menimbulkan bunyi. "Masih dingin nih."
"Apa kulitmu setipis itu?"
"Jas cuma buat gaun tak berlengan ini, gimana sama bagian bawahnya Kak Azkan?"
Azkan melihat apa yang ditunjuk Maziya. Paha mulusnya yang terekspos dengan baik.
"Barga, hidupkan penghangatnya!"
"Baik Tuan." Barga menekan tombol untuk penghangat di Mobil Mewah tersebut.
"Nah gitu dong.."
"Jangan sampai Tidur di..." Azkan berhenti bicara karena Maziya sudah menutup matanya.
Dengan sengaja Maziya mendekat ke arah suaminya. Langsung saja dia memeluk lengan Azkan dan merebahkan kepalanya disana.
"Jangan menggangguku!" Azkan mendorong tubuh Maziya dengan jari telunjuk di kepalanya.
"Kak Azkan, gimana kalau Mata-matanya masih ada disini."
"Mobil ini tidak memperlihatkan penumpangnya."
"Ooh." Maziya kembali memeluk erat lengan suaminya.
"Kau ini.."
"Aku memberikan kehangatan buat Kak Azkan."
"Sudah ada penghangat."
Berulangkali Azkan menurunkan Maziya. Berulang kali juga istrinya terus menempel dengan sekuat tenaga.
Bersambung....