The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
6. Tak Tahu Malu



Maziya mencabut kabel charger dari ponselnya yang masih 20 persen daya dari colokan. Ia baru mengetahui ada pesan WA dari Nyonya Lidia.


Melihat Azkan yang terbaring di lantai kamar, Maziya memunculkan ide jahilnya. Ia memotret Azkan dan langsung dikirimkan ke Nyonya Lidia.


Bukannya kaget dan marah, Nyonya Lidia justru senang Maziya tidak sengaja mengira putranya maling. Siapa suruh masuk tanpa permisi, Nyonya Lidia terbahak-bahak sembari membuat status di media sosialnya.


“Lihat deh Pa, Ziya bikin Azkan pingsan pakai pistol listrik yang Mama siapkan.”


“Kasihan sekali putra kita Ma, tapi Mama malah senang?” Tuan Alam kebingungan sendiri.


“Mama tidak senang kalau yang terluka itu Maziya. Tapi kalau Azkan, Mama yakin dia baik-baik saja.”


....


Maziya kebingungan bagaimana memindahkan tubuh Azkan. Bukan itu saja, Azkan yang berpostur tinggi juga pasti memiliki berat yang seimbang. Dengan tubuh mungil Maziya, bagaimana bisa dia mengangkatnya.


Namun, Maziya juga tidak tega jika Azkan terbaring di lantai yang dingin begitu saja. Ia mencoba mengangkat tubuh lelaki itu tapi barang satu inci pun ia tak sanggup.


"Ini orang berat amat sihh"


Akhirnya, Maziya menarik ketiak Azkan hingga hampir kehabisan tenaga ke kasurnya. Setengah badan Azkan sudah berada di kasur berkat kerja keras Maziya, kini bagian kaki yang jadi setengahnya lagi. Maziya mengangkatnya dan sampai di kasur.


“Meskipun aku Cuma lihat wajah Kak Azkan dari jauh selama 5 tahun ini, tetap saja masih sama ya. Tampan.” Maziya menusuk-nusuk lembut pipi Azkan dengan jari telunjuknya.


Azkan terbangun dan reflek membalikkan tubuh Maziya dengan menarik tangan gadis itu yang masih berada di pipinya. Azkan menatap lekat gadis di bawah tubuhnya itu dengan tatapan tajam sangat berbanding terbalik dengan wajah tampannya. yang kalau dilihat sekilas bisa dikategorikan baik dan tak neko-neko.


Maziya benar-benar speecless sampai tak bisa berbicara mengingat betapa cepatnya posisinya berpindah dari duduk menjadi berbaring.


“Apa yang coba kau lakukan?”


“Aku,,cuman” Maziya tidak bisa melepaskan cengkeraman kuat Azkan.


Ia bergidik ngeri hingga tidak mampu menjawab dengan benar, tatapan Azkan sejak lima tahun lalu bukanlah tatapan yang ia lihat ketika usia kanak-kanak lagi. Tatapan itu selalu dipenuhi kecurigaan dan mendominasi, menatapnya seperti pengganggu.


Azkan bangkit dan berdiri, ia melenggang berjalan keluar kamar dan duduk di sofa tamu tanpa dipersilahkan. Seperti anak ayam mengikuti induknya, Maziya mengekor di belakang tubuh kekar Azkan.


“Kak Azkan mau minum?” Maziya memberanikan diri berbicara untuk menawarkan minuman setelah 5 tahun secara langsung.


“Tidak usah banyak basa-basi, kau sangat palsu.”


Glekk.....


Maziya meremas jemarinya kuat, andai saja ia tidak berusaha menjaga emosi karena kebaikan Keluarga Serziano. Ia pasti akan menjambak rambut Azkan hingga menjadi botak. Andai saja ia tidak pernah menyukai Azkan, mungkin saja ia tidak harus menerima makian dan cecar sarkas dari lelaki itu.


“Kenapa?. Biasanya kau akan selalu membalas ucapanku dengan wajah tengilmu itu. Apa sekarang kau berusaha menahan diri?”


Senyuman smirk dari wajah Azkan memastikan bahwa ia masih sangat membenci gadis itu.


“Ada urusan apa Kak Azkan kesini. Masuk tanpa permisi”


“Bukannya ini dibeli dengan uang keluargaku, kenapa seorang yang menumpang hidup sepertimu masih bersikap seolah kau pemiliknya.”


“Ini Mama yang beli sendiri, nggak ada kaitannya dengan Serziano Grup.”


“Tidakkah kau merasa bersalah memanggilnya Mama tapi selalu menggerus uangnya seperti mesin pengeruk?”


Maziya benar-benar tidak bisa meladeni kata-kata sarkas Azkan dengan tenang. Kalau dilanjutkan, dia juga bisa melawannya seperti dahulu dengan cara yang angkuh dan tidak peduli. Tetapi kini, ia tahu kalau Azkan ingin mengujinya.


“Kak Azkan menyinggung hal lain buat apa. Kenapa tidak tanyakan langsung perihal pernikahan kita.”


Azkan mengeluarkan selembar kertas cek di atas meja. Ia menyuruh Maziya mengisinya berapapun dan tolak pernikahan yang diinginkan Nyonya Lidia.


Maziya terkekeh pelan, ia duduk di sofa lainnya sembari menatap selembar kertas itu. Kedua alisnya bertaut memikirkan kata-kata apa yang akan disampaikan pada lelaki yang selalu meremehkannya seperti sampah ini.


“Apa kak Azkan pikir ini cukup?” Kini Maziya tidak takut mengeluarkan senyumannya.


“Ini baru permulaan, aku bisa memberikan sekitar 5 lembar lagi. Aku yakin itu lebih dari cukup mengingat apa yang sudah kau hisap dari keluargaku selama ini.”


Maziya kini tertawa, benar-benar tertawa yang ia paksakan keluar dari mulutnya. Ia tidak menertawakan siapa-siapa selain dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia menyukai lelaki seperti Azkan, yang tidak pernah memperlakukannya dengan hormat sebagai seorang gadis.


Sejak memutuskan menerima pernikahan, ia sudah mengukuhkan bahwa ia akan terlihat benar-benar menginginkan uang saja. Persetan, persetan dengan kebencian Azkan padanya, bukankah ia sudah bilang menebus kebaikan Nyonya Lidia seperti permintaan Ibunya. Hanya menikah selama 3 tahun hingga ia bisa menikmati kehidupannya yang bahagia.


“Apa yang diberikan Mama jauh lebih menggiurkan dari ini.” Maziya merobek kertas tersebut dan membuangnya begitu saja di lantai.


“Kau sangat tidak tahu malu Maziya, apa kau belum puas sebelum menghisap milik Mama sampai tak bersisa ?”


Akhirnya namanya disebut juga. Maziya merasa lega karena akhirnya Azkan menyebut namanya lagi setelah 5 tahun. Walaupun ia merasa sakit jauh di dalam, hatinya merutuki lelaki yang ia cintai dengan ganas.


“Tidak peduli apa yang Ka Azkan pikirkan, tapi ya aku memang tidak tahu malu.” Maziya memaksakan bibirnya terangkat.


“Kau benar-benar parasit, penghisap uang, sampah” Kata-kata hinaan itu keluar begitu saja dengan lancar dari mulut Azkan.


“Selama 3 tahun aku bebas membelanjakan uang sesuka hati, setelah bercerai dapat 100 Milyar, Serziano Property, dan bahkan aset yang dimiliki Mama. Apa 6 lembar cek yang Ka Azkan tawarkan bisa menyamai itu semua?. Setidaknya nilainya harus sama bahkan lebih, karena aku tidak suka jumlahnya kurang.” Maziya memiringkan kepalanya seolah menantang balik lelaki di hadapannya itu.


Kali ini Azkan yang meremas tinjunya sekuat mungkin menahan amarah. Andai saja Maziya bukanlah seorang gadis yang sangat disayangi Mamanya. Ia pasti sudah meninju wajah gadis itu hingga tak sadarkan diri seperti para bawahan yang ketahuan berkhianat di Perusahaan.


“Maziya Kau....” Tinju Azkan kini sudah melayang di udara.


“Apa kekerasan bisa menghentikan ku Tuan Muda. Apa kau mau menghabisi ku?”


Mendengar kata Tuan muda yang keluar dari mulut Maziya dengan nada mengejek benar-benar membuat darah bisa mendidih.


“Kalau bisa. Aku akan menghabisi mu dan berakhir di penjara saja.”


Azkan membuat Maziya tidak bisa menyembunyikan ketakutannya. Ia tahu kejadian tentang mantan pelayan wanita dari Nyonya Lidia. Apakah nasibnya akan berakhir lebih tragis lagi di tangan Azkan. Ia juga sendirian, tidak akan sempat mendapat bantuan dari kamar sebelahnya.


Dering ponsel dari Viola menyelamatkan Maziya kali ini. Terimakasih Tuhan, atas kesempatannya.


Maziya memperlihatkan layar ponselnya. “Sahabat ku mau dateng. Dia itu seorang fotografer. Lebih baik Ka Azkan pergi sebelum artikel dengan judul pewaris kaya Serziano grup tidak tahan untuk menemui calon istrinya nangkring di halaman utama berita.”


Azkan tidak bisa lagi menahan diri disana. Ia memutuskan untuk pergi tanpa hasil apapun. Maziya mengantar Azkan sampai di pintu setelah mengekori seperti anak ayam sekali lagi.


Maziya berteriak, “Kalau mau minta ganti cek yang aku sobek barusan. Bilang Mama saja”


Azkan berbalik ingin benar-benar memukul gadis tidak tahu malu itu. Tetapi pintu sudah tertutup dan ia juga tak ingin orang yang dibilang fotografer itu benar-benar akan mengambil potretnya dan mengarang artikel yang tidak-tidak.


“Ka Azkan satu lagii...” teriak Maziya karena Azkan sudah berjalan cukup jauh.


Azkan berbalik mendengar ucapan apa lagi yang berani dilontarkan gadis itu.


“Periksakan diri Ka Azkan, apa baik-baik saja setelah pingsan karena tersetrum!” segera Maziya menutup pintunya lagi.


Azkan tidak bisa kembali untuk menjentikkan jarinya ke kening gadis itu , ia hanya bisa bergumam sepanjang jalan.


“Dasar tidak tahu malu.”


Bersambung......