
Setelah menarik nafas beberapa kali, Maziya tidak kunjung bicara. Entahlah, ia biasanya selalu blak-blakan dan tidak peduli respon orang lain selama rasa penasarannya terpenuhi.
"Kak Azkan jawab dengan jujur saja. Tidak usah memikirkan apa yang ada di hatiku."
"Kedengarannya serius?"
“Apa Kak Azkan udah bisa lupain Kak Rasti?"
‘Sudah kuduga, ini pasti menjadi hal yang penting baginya, untung saja aku sudah menyelsaikannya lebih dulu
"Sudah,"
"Jadi, apa Kak Azkan udah bilang sama .." Maziya tidak menyelesaikan kalimatnya karena sudah dipotong duluan.
"mungkin aku menyukainya sebagai seorang penggemar saja."
"Bagaimana bisa?. Kak Azkan jelas-jelas memendam rasa diam-diam lebih dari 5 tahun." Maziya tampak tak terima.
"Tidak peduli berapa tahun pun, aku hanya bisa sampai ke kesimpulan itu Ziya. Aku memang memahaminya baru-baru ini. Tapi aku yakin dan aku lega tentang itu."
"Apa itu sungguhan?. Jangan-jangan Kak Azkan hanya mengarangnya saja karena tidak bisa mendapatkannya." Maziya menyisipkan keraguan.
"Kamu tahu mengagumi seseorang tapi tidak masalah dengan siapa ia jatuh cinta asalkan dia bahagia." Azkan menjawab santai.
"Tetapi mencintai dan menyerah pada seseorang yang kita sukai, juga ada pada kesimpulan itu Kak Azkan."
Lagi-lagi aku lupa bahwa Maziya sangat cerdas.
"Kalau begitu, berarti aku menyerah dengan Rasti. Anggaplah aku membuat kesimpulan begitu untuk menjaga hubungan baikku dengan Randy."
‘Kelihatannya Kak Azkan memang jujur, lagipula kan dia juga sudah mengakui perasaannya padaku’
"Oke, selama Kak Azkan sukanya aku." ujar Maziya.
"Tentu saja " Azkan langsung menyambar.
"Apa Kak Rasti udah tahu tentang ini?"
"Lebih baik biarkan Randy yang mengurusnya. Aku tidak mau ikut campur dalam hubungan mereka. Kalau diingat lagi, aku bisa dikatakan tidak pernah ikut campur dalam hubungan mereka."
“Mmmm, benar juga ya. Tapi, Apa Kak Randy sudah tahu?. Jangan sampai dia nanti salah paham”
“Tentu saja, berkat ucapan kamu juga aku jadi mempertimbangkan untuk mengungkapkannya."
Azkan merujuk pada saat Maziya terus mengatakan bahwa ia kasihan dengan Randy apabila tahu tentang Perasaan diam-diam Sahabatnya. Namun untungnya Azkan punya dalih dengan mengatakan tentang cinta penggemar.
"Tapi, apa Kak Randy tidak menaruh kecurigaan sedikitpun?. Apa dia begitu mudah percaya
?"
"Randy bukanlah orang yang akan mengorbankan pertemanan kami. Apalagi kita sudah sama-sama Dewasa dan bersama lebih dari 10 tahun."
"Kenapa suasananya jadi melow?"
"Kan kamu nanya Ziya."
"ooo begitu ya baguslah, satu permasalahan sudah hampir selesai."
"Tapi Ziya,"
"mmm?"
"Kamu sepertinya sedikit meremehkan hubungan pertemanan kami."
"Ah enggak Kok . Karena kupikir kalian terlihat seperti rekan."
"Apa kamu membandingkannya dengan hubungan kamu bersama Putri Niti Contruction?"
"Namanya Viola Kak Azkan!"
"Memangnya kamu saja yang bisa berbagi rahasia dengan sahabatmu Viola, Randy punya pertimbangan sendiri."
"ooo "
"Satu lagi, kami terlihat seperti rekan karena semakin Tua untuk menyamakan dengan hubunganmu dengan Viola. Tunggulah beberapa tahun lagi, kamu juga akan terlihat seperti rekan saat Viola juga punya pasangan sendiri”
"Iya ya. Aku bisa menduganya." jawab Maziya lirih.
"Apa kita sudah boleh tidur?"
“Kak Randy hanya punya pertimbangan perasaannya. Aku bisa lihat bahwa yang ia cintai memanglah hanya Kak Rasti seorang.”
Ah ternyata masalah Randy memang tidak sepele.
“Aku juga hanya mencintai kamu seorang Ziya.” Azkan tak mau kalah berusaha menghentikan pembahasan mereka.
Maziya bangkit dan duduk. Tiba-tiba saja ia menjadi kesal hanya dengan membahas Azkan yang setiap sebulan ganti pacar.
“Aku juga punya masa dimana aku egois dengan perasaan sendiri yang membuat linglung Ziya." Azkan ikutan duduk dan menatap wajah kesal Istrinya.
"Tapi kan.."
"Ziya, jangan bahas itulagi ya.” Azkan megelus hidung istrinya berharap hal itu tidak dibahas karena akan ribet urusannya.
Azkan mulai membaringkan tubuhnya. Baru beberapa saat,ia bangkit kembali karena ada masalah lain yang dibahas Maziya.
"Satu lagi, Viola ngejelasin sama aku tentang informasi yang udah di dapat sama Mark. Itu yang sebenarnya mau dijelaskan sama Miko waktu itu."
"Terus?"
" Kak Azkan kan yang sengaja kasih File itu?"
"Memang benar, Itu satu-satunya cara untuk menyingkirkan orang yang tidak bisa diberi tahu."
"Tapi, jika Mark memakai hal itu. Artinya itu peringatan ketiganya Kak Azkan."
"Tentu saja."
"Bagaimana dengan VM. Kak Azkan nggak akan benar-benar menghancurkannya kan?"
"Entahlah."
"Kak Azkan, Meskipun Mark begitu. Tapi VM adalah hasil kerja keras Nyonya Virada untuk janjinya pada Almarhum Suaminya." Maziya terdengar khawatir.
"Hal itu akan aku jadikan pertimbangan." Azkan menjawab santai.
"Kak Azkan, berjanjilah untuk tidak mengganggu VM!"
"Apa ini tentang Miko?. Aku punya rencana sendiri."
"Bukan karena Miko Kak Azkan, Aku tidak pernah memikirkan bagaimana perasaannya."
"Tapi?"
"Firma hukum VM."
"Apa kamu punya sejarah dengan Firma Hukum itu?"
"Bukan Firma Hukum VM nya. Tapi pemiliknya saat ini."
"Nyonya Virada?"
"Kak Azkan, aku cukup banyak menarik pelajaran dari Nyonya Virada. Meskipun dia cukup Sombong dalam memimpin Kelompok Sosialita. Tapi Aku dan Mama Lidia sering mendapatkan pelajaran berharga darinya."
"Aku sudah dengar dari Mama."
Maziya berbaring pelan. Ia tahu Azkan tidak pernah main-main dengan saingannya. Apalagi ia adalah wanita yang ternyata dicintai Azkan.
"Kak Azkan...."
"Ziya, " Azkan memotong pembicaraan, kalau membiarkan mereka bicara, bisa-bisa sampai pagi tidak akan bisa tidur.
"mmm?"
"Selain itu Bukan hanya Miko yang meminta untuk menyelamatkan Firma Hukum VM, tapi ada teman kamu Ririn, ada Nyonya Virada yang bahkan rela turun jabatan."
"Tunggu, Kapan Ririn menemui Kak Azkan?"
"Sewaktu menjenguk kamu di Rumah Sakit."
"OOO iya ya. tunggu Apa Nyonya Virada tahu?"
"Tampaknya sudah lama ia tahu, ia memohon dengan banyak sekali tawaran."
"Bahkan Nyonya Virada turun tangan?" Maziya manggut-manggut memahami situasi.“Sayang sekali Nyonya Virada yang terkenal dengan kegigihannya dalam segala bidang harus bertekuk lutut hanya karena satu putra tidak kompeten, mereka pasti tahu bagaimana posisi Perusahaan yang mencoba menantang SERZIANO Grup."
Azkan hanya memandangi Maziya saja sembari tersenyum dengan ucapan sarkas dari mulut istrinya.
Kenapa ia baru menyeadari sekarang bahwa Maziya memang cerdas dan juga realistis. Memang cara bicaranya blak-blakan tetapi tidak ada yang salah tentang itu. Lagi-lagi ia menyesali pemikirannya dahulu yang hanya diwarnai keegoisan dan kebencian.
"Lalu apa yang akan Kak Azkan lakuin?"
Pertanyaan Maziya membuat Azkan tersadar dari pergolakan pikiran yang dihadapinya.
"Sebelum dia bertindak, Aku sudah membuat beberapa rencana.”
“Bagusdeh, Aku harap rencana itu adalah yang terbaik.”
Bersambung...