The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
56. Double Date yang pernah Tertunda



Randy menanyakan alasan Azkan kali ini mengajak Maziya.


"Bukannya kamu selalu meminta agar kita Double Date. Maaf karena aku tidak mengajak pacar yang ingin kuseriusi. Sebagai gantinya aku ajak Istri yang paling kusayangi ini."


Maziya tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Terutama saat melihat keterkejutan Rasti.


"Oh iya ya, benar sekali. Kamu memang punya ingatan kuat. Sama seperti ku." Randy memuji.


"Aku juga ingin mengatakan sesuatu, Istriku ternyata memang sempat mengunjungi Klinik Dr Faruq, iyakan Ziya?."


Maziya mengontrol wajahnya. Ia tetap terlihat tenang seolah itu bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan.


"Iya Kak Azkan."


"Oh benarkah?. Sudah kubilang kan, walaupun penglihatan mataku ini tidak sebagus Azkan. Tapi aku tahu kalau itu Maziya. Kenapa kamu datang kesana Maziya?"


"Aku cukup stress waktu itu. Kak Randy juga inget kan aku lagi marahan sama Kak Azkan."


"Oo kalian sempat marahan?"


"Sudahlah itu hanya masalah rumah tangga. Intinya ya udah." Azkan takut melebar kemana-mana pembahasan mereka.


"Jangan -jangan Maziya stres sama pernikahan kalian. Makanya pergi Konsul kesana?"


"Iya Kak Randy betul." Maziya meyakinkan sembari mengangkat jempolnya.


.......


"Udahlah gimana kalau bahas yang lain aja!" Lagi-lagi, Rasti merusak suasana.


"Iya, bahas yang lain aja. Kalo gitu kapan kalian nikah?" tanya Maziya.


"Doakan saja, setelah aku mendapatkan lisensi Spesialis." Randy mengusap tengkuknya.


"Ah hanya 3 atau 4 tahun. Pasti Kak Randy bisa."


"Makasih Maziya, aku selalu mengusahakannya."


"4 tahun lagi berarti 9 tahun Total kalian saling menyukai ya, Kalau nambah 1 tahun lagi 10 tahun Tuh."


"Memangnya kenapa jika 10 tahun?" Rasti melempar pertanyaan.


"Aku cuma bingung dan penasaran aja, apakah perasaan suka seseorang bisa bertahan lebih dari itu."


Maziya tersenyum, tentu saja yang ingin ia tuju dalam hal ini adalah Azkan yang menyukai Rasti secara diam-diam selama itu.


"Aku menyukai Rasti lebih lama dari itu,"


Randy membuat Azkan yang ingin mengalihkan perhatian jadi mengurungkan niatnya.


"Oh ya, sejak kapan Kak?" Maziya tampak sangat antusias.


"Sejak SMP mungkin. Aku memang mengenal Rasti sejak kecil, dan aku mulai menyukainya sejak beranjak remaja." Randy mengusap tengkuknya lagi.


"Ooh, berarti hampir 15 tahun?"


"Mungkin juga lebih daripada itu," Randy menatap mata Rasti lembut.


Bahkan Azkan sendiri mengakui, bahwa Randy sangat tulus pada Rasti. Namun melihat kejadian yang ada dihadapannya kini, mengapa Azkan tidak merasakan apa-apa lagi.


yang ada di pikirannya saat ini adalah Maziya. Bahkan melihat ekspresi wajah yang sedikit berbeda dari istrinya itu sanggup membuatnya menerka-nerka berbagai macam hal.


Rencana apa, niat apa yang ada dalam hatinya. Apa yang dirasakannya saat ini, apa tujuannya atau apakah ia mulai mengontrol Suasana hatinya sekuat tenaga ?. Atau ia sedang memutar otak dengan IQ nya yang ternyata selama ini sangat tinggi untuk mengelabuhi orang lain termasuk dirinya.


"Azkan,..." Ini panggilan ketiga kalinya dari Randy.


"Eh kenapa?"


"Bukannya mendengarku, kamu malah asik menatap istrimu." keluh Randy.


"Iya Azkan, apa kamu banyak pikiran?" tanya Rasti sedikit khawatir.


"Tidak, aku hanya baru menyadari kalau Ziya sangat cantik hari ini."


Ucapan Azkan dimaklumi Maziya, pasti karena ingin meminimalisir kecurigaan dua sahabatnya. Tetapi Rasti, dia sepertinya sedikit terguncang oleh perkataan Azkan.


Selama ini, tidak pernah sekalipun Azkan memuji mantan pacarnya meskipun ada yang merupakan Pramugari atau Model bahkan artis naik daun sekalipun. Azkan pasti akan bilang, "ah Perempuan selalu sama bagiku tak ada bedanya". Namun kali ini, mengapa terus terang sekali memuji Maziya yang sangat dibencinya.


Pertemuan mereka berakhir lebih cepat karena Randy harus kembali ke RS Galanga. Rasti juga diantar pulang karena beberapa hal.


.......


Di Mobil....


"Kak Azkan tumben banget secara resmi ikut Double Date itu. Nanti kalau mereka percaya banget sama hubungan kita. Pas kita pisah mereka Syok gimana?"


"Biarin. Lagipula apa kamu yakin kita akan berpisah?"


"Aku pikirkan cara untuk membuat kamu tidak menerima sepeserpun dari SERZIANO Grup."


"Tampaknya Kak Azkan benar-benar mengubah panggilanku. Apa ada hal yang terjadi baru-baru ini?" Maziya memancingnya.


"Apa yang diubah?"


"Biasanya Kak Azkan akan manggil aku dengan nada, Kau dan penuh tekanan. Sorot mata tajam seolah aku pencuri, Tatapan intimidasi dengan iringan kata-kata buruk untukku." jelas Maziya santai.


"Aku takut ada yang menyadarinya. Aku akan tetap mencoba mesra meskipun di rumah atau di Perusahaan. Tapi ingat kalau di Perusahaan kamu adalah asistenku!" terang Azkan panjang lebar.


"Yakin hanya itu alasannya?" tanya Maziya lagi.


"Memangnya apa lagi?"


"Apa Kak Azkan nggak mulai jatuh cinta padaku?"


Azkan terdiam, tidak seperti biasanya yang akan membantah dengan kalimat merendahkan.


"Kalau aku jatuh cinta, kamu tidak akan bisa mengatasinya."


"Kak Azkan, ucapan semacam itu tidak mempan untukku. Aku memang mencintaimu, kamu sendiri yang tidak mau mempercayainya. Jadi jangan mencoba memancingku biar aku salah tingkah seperti pacar-pacar mu yang lugu."


"Kini Aku sudah mempercayainya." ucap Azkan.


"Oh ya, apa karena tahu aku Mengunjungi Klinik Dr Faruq?. Apa Mama menceritakan semuanya?" Maziya muak bermain kata-kata dan langsung ke intinya saja.


Bagaimana jika dia yakin aku kasihan padanya setelah tahu fakta itu?. Tidak, aku tidak mau, aku juga ingin memastikan bahwa perasaan ku selama ini memang benar-benar tumbuh untuknya.


"Aku tahu semuanya dan aku merasa dibohongi."


"Dibohongi?" Maziya menautkan alisnya Bingung.


"Bagaimana bisa, gadis kecil ini mengelabui aku dan Papa bahkan Kakek." Azkan menyentil kening Maziya. Tapi tidak dengan kekuatan yang biasa, kali ini sangat lembut dan ditahannya.


"Mengelabui?. Apa Kak Azkan nambah istilah selain Parasit, sampah, penghisap Harta?"


"Iya, kamu menutupi itu semua dari kami."


"Lalu setelah mengetahuinya apa kak Azkan mulai merasa terketuk hatinya?"


"Tidak sama sekali."


"Tidak?"


"Kamu hanya memakai alasan itu untuk mengeruk harta Mama. Kamu memang tidak punya hati."


"Jadi Kak Azkan sama sekali..." Maziya sedikit panik.


"Ya bahkan meskipun itu terdengar menyedihkan. Aku benar-benar tidak merasa kasihan sama sekali. Aku justru sangat kagum kamu bisa berpura-pura tersiksa."


Plek sentilan keras kali ini menyadarkan Maziya.


Aku bisa memastikan ini, Kak Azkan nggak kasihan sama aku.


"Sakit Kak Azkan..." teriak Maziya tiba-tiba.


"Sakit?. Berpura-pura saja itu tidak terasa sakit."


Melihat Maziya yang mulai menahan air mata, sebenarnya Azkan juga tidak tega. Tetapi menurutnya itulah cara yang dapat membuat Maziya yakin. Yakin kalau ia tidak kasihan sama sekali dengan apa yang menimpa Maziya.


"Kak Azkan sangat kejam padaku."


"Karena aku memang tidak mencintaimu. Aku akan bersikap baik pada orang yang kucintai."


"Kak Rasti kan."


"Aku menyerah padanya."


"Menyerah?. bukannya memendamnya secara diam-diam?"


"Urus saja urusanmu, seberapa menyedihkannya kisahmu. Aku tidak akan jatuh cinta karena hal itu."


"Bagaimana jika Kak Azkan bisa jatuh cinta padaku?" Maziya menentang dengan nafas memburu.


"Denganmu?. Mustahil."


"Lihat saja, Kak Azkan juga udah tahu rahasiaku. Mulai sekarang aku akan membuatmu menjadi milikku. 3 tahun aku akan taklukan kamu lebih cepat." Maziya mendekatkan wajahnya pada Azkan.


Stop Azkan, tahan diri ini benar-benar bukan pertanda aku memiliki penyakit jantung. Tapi aku memang sudah jatuh hati padanya.


"Coba saja, aku akan lihat usahamu selama aku bermurah hati untuk 3 tahun ini."


Bersambung.....