The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
24. yang Terjadi



6 tahun sebelumnya.... Flashback


"Aku sudah yakin akan ambil bagian kejiwaan, psikiatri"


"Kenapa tidak Saraf, Jantung atau UGD saja sih Randy?" tanya Azkan


"Kenapa begitu Azkan?" tanya Rasti.


Azkan menyilang kan kaki. "Bagian itu sibuk, gajinya juga lumayan. Banyak yang dibutuhkan oleh Rumah Sakit."


Rasti mengangguk, bagian itu memang sepertinya terkenal.


"Kalian tahu kan aku berbakat dari dulu dalam bidang-bidang seperti psikologi. Di rumah Sakit pun aku menyukai bagian Psikiatri."


"Ya sudah kalau itu yang kamu mau." Rasti mendukung semua keputusan Randy.


"Ya udah kalau kamu setuju, aku jadi makin yakin" Randy tersenyum sumringah.


"Kalau begitu kalian berdua saja yang rundingan. Kenapa pakai ajak aku segala?" Azkan protes.


"Biar ada saran lainnya." ujar Randy.


"Buktinya hanya Rasti yang kamu ingin dengar kan?"


Randy mengangguk, ia menepuk pundak Azkan. Rasti pamit sebentar mendekati anak-anak panti asuhan yang memakan masakan dari MOCY Grup.


Mereka sudah terbiasa ikut dalam acara sosial dari Perusahaan. Randy ikut karena sejak awal pertemanan mereka memang selalu bersama dalam keadaan yang memungkinkan.


"Azkan," Sekali lagi Randy menepuk pundak Sahabatnya itu.


"Apa?" Azkan masih terus memperhatikan Rasti yang begitu bahagia dengan anak-anak panti asuhan.


Sesekali Randy tersenyum melihat Rasti yang tertawa. Hingga, Randy melihat Azkan yang juga tersenyum melihat Rasti.


Randy memahami arti tatapan mata Azkan. Tatapan mata yang kurang lebih sama dengan dirinya.


Apa begini?. Apa akhirnya mereka menyukai sahabat mereka sendiri. Tidak boleh, jangan menyukai gadis yang sama, itu akan merusak persahabatan mereka.


"Azkan."


"Mmm?"


"ketika kita masih SMA, Rasti pernah bercanda, mungkinkah kamu akan jatuh cinta dengannya suatu hari nanti. Tetapi aku menepis hal itu dan mengatakan bahwa Kamu bersikap baik karena kita dekat dan sahabat."


"Mmm, ada apa dengan hal itu?"


Andai saja saat itu Azkan menepis pernyataan Randy, mungkinkah semuanya akan berbeda, mungkinkah Rasti akan sedikit menaruh hati padanya.


"Aku mengingatnya dengan jelas bukan?. Semua pernyataan Rasti."


"Memangnya kenapa?" Azkan menatap Randy bingung.


"Aku menyukai Rasti."


Azkan terdiam menatap dua mata Randy dengan lekat. Tidak ada komentar apapun yang bisa ia katakan saat ini. Haruskah ia juga bilang kalau dia menyukai Rasti?. Tapi, bagaimana dengan persahabatan mereka.


"Kenapa kau mengatakannya padaku?. Tidakkah Rasti yang harus mendengarnya?"


"Aku mau pastikan, bahwa kamu tidak akan sakit hati bila aku memutuskan untuk mengejarnya. Kita tak boleh menyukai perempuan yang sama!"


"Kejar saja, aku harap persahabatan kita tidak terpengaruh!"


"Tenang saja, aku harus pastikan kalau Rasti juga ada rasa denganku. Aku tak mau ada kecanggungan nanti. Lihat saja, kemampuanku dalam Ilmu jiwa tak akan gagal."


"Aku menyemangati mu." Azkan menepuk pundak Randy.


Benar, Satu Tahun Kemudian. Rasti dan Randy mengumumkan hubungan mereka. Haruskah ia membenci Rasti, yang mengabaikan semua perlakuan spesial darinya?. Atau haruskah ia membenci Randy, yang menikung perempuan yang sudah ia taksir bertahun-tahun.


Azkan menyimpan cincin yang ingin ia berikan dan surat-surat yang tertahan di laci rahasia kamarnya.


Maziya dengan bangga menenteng Rapor kenaikan ke kelas 12. Ia mengetuk pintu kamar Azkan namun tidak ada jawaban.


Karena pintunya tidak terkunci, Maziya masuk saja. "Kak Azkan aku berhasil mendapatkan 5 besar di SMA Galanga."


Sayangnya, Antusias Maziya tak berbalik pada Azkan. Lelaki itu menatap laci yang diketahui Maziya sebagai tempat rahasia yang tidak boleh dibuka siapapun.


Maziya mendekat, ia melihat sekilas tulisan di amplop dengan motif yang lucu. Rasti, kotak cincin yang mewah di sampingnya juga.


Azkan baru menyadari kehadiran Maziya Setelah gadis itu semakin mendekat untuk memastikan nama di surat yang ia lihat.


"Ngapain kamu masuk?" Segera Azkan menutup laci itu dan menguncinya.


"Aku udah ngetuk, Kak Azkan nggak nyahut. Makanya aku terobos, soalnya nggak dikunci." Maziya menampakkan giginya.


"Aku lagi nggak enak badan, sebaiknya kamu keluar."


"Aku berhasil masuk 5 besar. Terbukti kan aku bisa masuk walaupun nggak pintar-pintar amat. Artinya aku rajin dan pantas kan." Maziya mengibarkan rapornya bahagia.


Azkan berusaha menahan emosinya. Karena kalau gadis itu sudah menyinggung uang, Ia akan naik darah.


"Keluar dulu deh Ziya!"


"Kak Azkan janji kan mau kasih hadiah kalau aku lolos 10 besar. Ini 5 besar, melebihi ekspektasi."


"Oke, besok. Paling uang dan Barang-barang branded kan."


Nyonya Lidia tergopoh-gopoh berjalan mencari Maziya agar tidak masuk kamar Azkan karena ia melihat raut wajah putranya itu tidak senang sebelumnya. Ia takut Maziya berbuat sesuatu dan malah diterjemahkan berlebihan oleh Azkan.


......


"Lebih dari itu." Maziya memperlihatkan senyuman termanisnya.


Azkan menatap wajah gadis tengil dan pendek yang selalu menguji kesabarannya ini. Siap-siap dia memanaskan jari apabila gadis itu minta yang aneh-aneh. Pernah Maziya meminta liburan ke luar negeri hanya berdua dengannya seperti saat ulang tahun sejak Maziya mulai duduk di bangku SMA.


Azkan sebenarnya sudah mulai merasakan keanehan dari sikap Maziya sejak gadis itu masuk SMA. Jadi lebih sering berdandan, lebih sering Memakai rok mini hingga tak jarang harus ia Jewel karena Mamanya tidak akan tega. Apalagi Papanya, Tuan Alam langsung ciut saat ditatap Nyonya Lidia.


"Coba saja minta ke luar negeri. Kening kamu akan aku Sentil dengan kuat. Atau kaki kamu akan kubuat merah bahkan sampai patah." Azkan menjentikkan jarinya ke udara berniat menakuti Maziya.


" Aku mau Kita menikah. Nggak langsung nikah sih, pacaran dulu. Gimana?"


"Jangan minta yang aneh-aneh."


"Nggak aneh kok. Pokoknya kalau Kak Azkan nggak mau. Aku minta 1 Milyar."


"1 M?"


"Sepuluh kali lipat kalau aku ditolak." ujar Maziya.


Azkan meremas tangan kanannya.


"Kak Azkan nggak mau kan." Maziya menunjuk wajah Azkan. "Makanya ayo kita pacaran."


Azkan menolak dan menyuruh Maziya keluar. Karena tak terima, Maziya mengungkit nama Rasti di surat yang ia lihat.


Mendengar Maziya menyinggung Rasti. Azkan sepertinya kalap, dia meninju kaca tempat Jam tangan mewahnya berjejer hingga tangan kanannya mengeluarkan tetesan bewarna merah.


Nyonya Lidia segera menuju sumber kegaduhan.


Azkan meraih tubuh Maziya yang belum sempat lari menyelamatkan diri dari keterkejutannya. Azkan menghempaskan tubuh Maziya hingga terjerembab cukup kuat dan mengaduh kesakitan.


Tangan kiri Azkan Mencekik leher Maziya dengan sangat kuat.


"Jangan bilang karena selama ini kubiarkan aku tidak tahu akal busuk mu. Lebih baik kau angkat kaki atau ku habisi kau hari ini!" Bentak Azkan dengan keras.


Maziya benar-benar syok dengan penolakan Azkan. Apalagi itu kali pertama ia mendapati Azkan membentaknya dengan keras hingga tak mampu berkata-kata.


Nyonya Lidia datang saat Azkan mengatakan semua unek-uneknya pada Maziya. Gadis itu hanya parasit yang memanfaatkan semua harta keluarganya. Ia sangat jijik jika harus menjadikan Maziya sebagai kekasihnya, ia mungkin akan dikeruk hingga tersisa bangkai saja. Sudah cukup rasanya ia bersabar dengan sifat hedonisme Maziya yang merasa diperlukan kehadirannya di rumah itu.


Nyonya Lidia berusaha melepaskan tangan kiri Azkan yang mencekik leher Maziya di tengah syoknya mendengar ucapan Azkan. Maziya memutuskan pergi dan Tinggal di Apartemen atas Nama Nyonya Lidia.


Akhirnya setelah 5 tahun Azkan baru mampu membakar isi laci rahasia itu hingga menjadi debu. Menyisakan perasaan yang sama namun tidak lagi menggebu. Perasaan yang diukir dengan label Cinta Dalam-diam.


Bersambung....