The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
48. Ada yang Cemburu (1)



Saat beres-beres untuk pulang, semua orang sibuk saling membantu. Lain dengan Maziya, dia duduk memperhatikan yang lainnya bekerja.


"Bantu dan jangan menonton kami saja!" Lagi-lagi Azkan mendekat hanya untuk membuat Maziya ikut bekerja.


"Capek Kak Azkan.." keluh Maziya, ia tidak peduli lagi jika ada yang mendengarnya. "Dari tadi aku juga kerja, bahkan kerjaan aku mungkin lebih melelahkan dibandingkan yang lain."


Azkan terpaksa menjauh dan melanjutkan pekerjaannya. Dia tidak mau menampakkan wajah kesal di hadapan orang lain.


brukks... terdengar suara barang jatuh berbarengan dengan teriakan seorang perempuan.


"Awww..." teriak Rasti.


Rupanya barang yang dibawa Rasti jatuh dan ada yang menimpa ujung kakinya. Perempuan itu terduduk memegang kaki sebelah kirinya.


"Kenapa?, Kamu kenapa?"


"Ke Rumah Sakit sekarang, aku antar."


"Enggak kok nggak apa-apa," jawab Rasti sembari menggeleng.


"Bagaimana jika ada yang luka, cepat biar aku gendong."


"Mau aku panggil ambulan tidak?. Di seberang kan RS Galanga. Kamu bisa diobati segera."


"Tidak, Azkan. Aku baik-baik saja." jawab Rasti.


Ya, suara panik yang menanyakan keadaan Rasti adalah Azkan. Sedangkan Randy, ia berdiri di sebelah Maziya melihat apa yang terjadi.


Rasti dibawa ke Rumah Sakit diantar mobil Azkan bersama Randy. Barga menetap di sana menemani Maziya yang mengambil alih.


Haruskah Kak Azkan sepanik itu?. dan kenapa lagi-lagi merepotkan aku sendirian.


........


Akhirnya, barulah Maziya ikut ke Rumah Sakit saat Barga menerima pesan. Mereka bahkan harus berjalan kaki karena pengawal tidak boleh kentara.


"Apa salahnya naik mobil sih Sekretaris Barga?"


"Maaf Nona, kita tidak bisa..."


"Baiklah," Maziya tidak berniat mendengar alasan sekretaris yang plek ketiplek dengan Azkan yang keras kepala tersebut.


Setibanya di Rumah Sakit, Maziya duduk di sofa ruang tamu, Sementara Barga hanya bisa sesekali berdiri lalu duduk di samping Maziya.


Mereka hanya bisa menunggu Azkan, karena perintah untuk duluan pulang juga tak diberikan oleh laki-laki yang mengkhawatirkan perempuan lain Selain istrinya itu. Maziya membuka tas yang ia bawa. Botol Vitamin C ia buka dan satu buah pil ia masukkan ke dalam mulut.


"Nona, apa anda butuh air?"


"Tidak usah, aku sudah menelannya."


Seteguk air tak mempengaruhinya untuk dapat menelan pil. Tanpa minum pun pil itu tetap berhasil menuju ke lambungnya untuk diserap.


Rasti bersandar pada ranjang Rumah Sakit. Tidak tanggung-tanggung Ia bisa masuk ke salah satu ruang VIP disana karena Azkan memaksa.


"Azkan, tidak perlu di Rontgen segala kenapa kamu memintanya?"tanya Rasti.


"Aku tidak percaya dengan Dokternya."


Randy melengos "Dia Profesor yang sangat berpengalaman. Kaki Rasti Hanya sedikit lebam tidak sampai mencederai tulang."


"Lalu kenapa Rasti berteriak begitu Randy."


"Maaf karena teriakanku membuat kalian salah paham." Rasti merasa bersalah.


"Sudahlah kita tunggu saja hasilnya nanti!"


Banyak sekali makanan yang didatangkan silih berganti. Azkan memesan semuanya selagi menunggu Rasti barusan.


"Azkan, kenapa kamu memesan banyak sekali?" Rasti menarik nafas melihat hidangan yang terus berdatangan.


"Makan apa yang baik, kamu lagi sakit kan."


Randy mengambil salah satu hidangan. "Ini buang-buang makanan Azkan. Kita kan baru saja makan malam tadi."


"Kamu kan juga butuh Randy, makan saja semuanya."


"Bagikan saja ke Beberapa Staf bagaimana Azkan. Aku benar-benar kenyang." Rasti mengusap perutnya yang sudah penuh.


"Baiklah kalau begitu, tapi staff mana ?"


"Staff jaga malam saja Azkan."


Randy tiba-tiba saja mencium kening Rasti lembut. Ia juga membantu memberikan pijatan lembut di tangan Rasti.


"Aku nggak apa-apa kok," Rasti berusaha menarik tangannya.


"Aku lihat kamu terlalu banyak bekerja. Aku tahu kamu kecapean, makanya aku bantu biar rasa pegal kamu nggak menyakiti." Randy tersenyum.


"Hanya pekerjaan biasa, aku tak masalah Randy." balas Rasti ramah.


"Kamu sudah sangat sibuk, bisa melakukan banyak hal. Sayang kenapa kamu sangat sempurna. Aku jadi makin semangat mendapatkan gelar Spesialis." ujar Randy bangga.


"Iya, aku akan menunggu."


Azkan tidak mungkin bergabung atau mengganggu kemesraan mereka. Seperti biasa, ia harus ambil jarak dengan berpura-pura memiliki kesibukan lainnya.


....


Azkan duduk di sofa, ia membuka ponselnya untuk melihat Dimana Posisi Maziya. Terakhir kali ada di ruang tunggu lantai bawah.


"Tunggu, kenapa posisinya begini?. Apa dia sedang menikmati suasana malam?"


Posisi Maziya berpindah-pindah, membuat Azkan merasa Khawatir. Ia kemudian berdiri di tengah rasa penasarannya.


"Aku ke bawah dulu menemui Maziya. Randy kamu urus sendiri dulu jika aku tidak kembali ya?"


"Baiklah Azkan."


Azkan berjalan ke pintu. Kenop ia putar.


"Azkan,. " suara Rasti menghentikan langkah Azkan.


Lelaki itu berbalik, "Iya, ada apa?"


"Memangnya kamu tidak bisa menyuruh Maziya datang kesini saja. Lagipula kondisi ku baik kan."


"Aku memang berniat menyuruhnya, tapi dia bahkan tidak mengangkat panggilanku. Barga pun juga begitu."


Randy geleng-geleng, "Sepertinya disana berisik ya?"


"Entahlah aku harus memastikannya."


Azkan menghilang dari balik pintu.


Randy tersenyum melihat Rasti. Untuk sesaat, Randy kehilangan senyumnya. Rasti saat ini terlihat kecewa, bukan karena sakit kakinya tapi karena Azkan pergi.


"Sayang,,," Randy mengganggu lamunan sendu kekasihnya.


"Eh iya, ada apa sayang." Rasti sedikit kaget dengan panggilan Randy.


Apa barusan aku melamun. Oh Rasti apa yang kau pikirkan sih. Azkan mengkhawatirkan Istrinya. Meskipun kamu tahu kalau Maziya sangat licik dan punya sikap yang buruk. Tetapi Azkan sudah menyetujui untuk menikahinya.


Rasti merutuki dirinya sendiri. Ia memarahi pikirannya yang selalu khawatir dengan Azkan yang dimanfaatkan oleh Maziya. Padahal kalau ditelisik lagi, dia hanyalah sahabat Azkan tak lebih spesial dari posisi siapapun termasuk Maziya.


Aku tidak akan cemburu pada perhatian itu. Dia istrinya kan. Sudah jelas seorang suami bertanggung jawab pada Isterinya seburuk apapun sikap istrinya. Aku tidak cemburu ya aku tidak cemburu.


"Kamu mau menonton televisi tidak?"


"Mmm terserah kamu deh." jawab Rasti. "Tapi aku harus menghubungi Mama sama Papa dulu."


"Oke, aku juga harus menghubungi rekan-rekan lainnya. Mereka pasti kebingungan dengan makanan yang diberikan barusan."


Rasti juga berurusan dengan ponselnya sendiri. Ia tidak ingin Orangtuanya datang karena kakinya hanya sedikit lebam. Tuan Tora ingin sekali berbicara dengan Azkan, tetapi Rasti bilang Azkan ada urusan lainnya.


Ia yang akan berterima kasih sendiri atas perhatian Azkan. Baik untuk kamar VIP serta tes yang bahkan sebenarnya tidak diperlukan itu


Randy masih melakukan panggilan bersama rekan-rekannya. Seperti tebakannya, mereka berterima kasih atas makanan gratis tersebut.


Berulangkali Randy menjelaskan bahwa itu dari Azkan. Tetapi tetap saja, beberapa rekannya masih berterima kasih karena dapat makanan yang lebih dari layak saat menjalani shift malam.


Mereka yakin yang tidak hadir saat ini akan merasa sangat rugi. dan yang paling beruntung adalah Dion, yang saat ini menggantikan jadwal Randy.


"Sudahlah, jangan terlalu membahasnya oke." Randy menutup panggilannya.


Selesai dengan rekan-rekannya di Rumah Sakit. Randy menjelaskan keadaan Randy pada kedua orang tua Rasti.


Ia merasakannya, lagi dan lagi. Bukan hanya sekali ini Ia merasa bahwa Orang tua Rasti terlalu menonjolkan Azkan dibandingkan dirinya. dan entah ke berapa kali, rasa cemburu ia tepis jauh-jauh.


Azkan hanya sahabat Rasti dan juga Sahabatnya,ia sudah pastikan bahwa Azkan tidak punya perasaan apapun pada pacarnya itu. dan lagi, Azkan sudah menjadi suami orang lain.


Bersambung.....