The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
84. { END } Crazy CEO & The CEO'S Crazy Wife



Akhirnya Keputusan Honeymoon selesai.


SWISS, negara Indah di Eropa Tengah. Pilihan tersebut ternyata juga didasarkan pada keinginan Maziya yang menginginkan pemandangan paling Indah untuk dinikmati. Selain itu, begitu banyak Destinasi dimana mereka bisa menghabiskan lebih banyak waktu berdua.


Sebelum berangkat, Seluruh kediaman sudah disibukkan oleh keberangkatan Suami Istri tersebut.


"Pokoknya jangan masukkan sesuatu yang murah atau sudah sering kupakai!" perintah Maziya.


"Aku pastikan semuanya baru Nona" ujar Rita


"Iya Nona, Saya sendiri sudah mencek semua bawaan anda" Bi Mirna memastikan.


"Kita bisa beli disana kalau kamu mau!" Azkan menyentuh pundak Istrinya.


"Yaudah kalau gitu"


Tuan Alam beserta Sang istri melepas mereka di gerbang. Mereka tidak bisa ke bandara karena kondisi Tuan Alam yang sedang Flu.


Nyonya Lidia menarik menantunya untuk sedikit menjauh.


"Ada apa Ma?. Mama mau aku belikan..."


"Syuut, Mama udah punya banyak. Kamu nggak usah beli apa-apa juga nggak papa!"


"Lah kan beda beli sendiri sama dibeliin menantu Ma?" protes Maziya.


"Yaudah terserah kamu!" Nyonya Lidia melirik sekitar memperhatikan keadaan.


"Kenapa Ma?"


"Nanti pas kalian disana, jangan lupa ya" Nyonya Lidia menautkan jarinya ambigu.


"Iih Mama, malu ah."


"Mama lebih senang dibawain Calon Cucu dibanding apapun" Terang Nyonya Lidia jujur


"Mama tenang aja, pokoknya percayakan saja sama kemampuan Putra Mama itu, aku mah Ngikutt"'Balas Maziya.


"Masalah Azkan mah kamu tenang, dia akhir -akhir ini udah konsultasi sama Papa."


Di lain sisi, Tuan Alam menarik putranya itu ke sudut. Situasi membingungkan sekaligus biasa bagi sekretaris Barga, Rita juga Bi Mirna dengan majikan mereka tersebut.


"Ada apa Pa?"


"Ini" Tuan alam mengeluarkan sesuatu dari kantong piyamanya.


"Apa ini pa?. Obat Flu?"


"Ini memang obat, tapi bukan sembarang obat."


Azkan menaikan alisnya, bingung menunggu penjelasan


"Ini salah satu resep Papa waktu bikin kamu, jangan salah. Mama kamu langsung membawa Cikal bakal kamu setelah Papa pakai ini"


"Bukannya Mama Hamil setelah 1 tahun 8 bulan pernikahan kalian ya, katanya juga Papa sama Kakek udah pergi kesana kemari buat memastikan kalau Papa sehat"


"Lah kamu tahu dari mana?"


"Kan ada Kartu keluarga Pa, aku juga lihat Kapan kalian nikah kok"


"Nggak kamu tahu darimana Papa udah kesana-kemari sama Kakek?"


"Kakek yang bilang"


"Kapan?".


"Kalau Nggak salah waktu itu aku baru kelas 4 SD"


"Waduhh, "


Tuan Alam merasa kecolongan. Ia tahu Ayahnya sendiri memang suka bicara ceplas-ceplos tapi tidak menyangka kalau memberitahukan hal sensitif itu saat usia putranya masih begitu muda.


"Tenang aja Pa, aku kan juga bisa jaga pergaulan"


"Udahlah, pokoknya kamu bawa saja ini."


"Aku tidak membutuhkannya Pa, staminaku ini luar biasa."


"Bagaimana juga kamu itu putra Papa, siapa tahu kamu butuh. Gimana Kalau Maziya sehebat Mama Kamu yang sering protes ini itu..."


"Papa tahu kan Mama nggak suka diomongin!"


"Papa terdesak."


"Aku ini cukup atletis dibandingkan Papa. Lagipula Aku lebih paham Bagaimana Istriku Pa. Mama itu istrinya Papa, dan Maziya adalah Istriku. Maziya bukanlah Mama"


"Tapi tetap saja" Tuan Alam menahan bersinnya tapi tak bisa hingga kelepasan


"Papa, Aku Azkan, Suami yang akan bertanggung jawab padanya." tunjuk Azkan melihat Nyonya Lidia dan Maziya di sebelah Sana.


"Udah, aku nggak mau lama-lama takut Flu Papa nggak sembuh-sembuh. Sebaiknya Papa simpan ini buat Papa. Aku yakin Papa lebih butuh!" Azkan menekuk tangan Tuan Alam agar menggenggam Obat itu kembali.


"Iya ya" Tuan Alam mengangguk.


Mereka berangkat menggunakan Pesawat Pribadi. Tidak lupa ada Renald dan Barga yang ikut pergi ke SWISS. Bukan untuk bersenang senang, tetapi bekerja dan menemui Mr. Peter.


"Bisa-bisanya meminta aku nebeng disini, jelas saja masih ingin menghemat Dana Perusahaan" Keluh Renald di belakang.


"Apa kau keberatan?" tanya Sekretaris Barga.


"Tidak juga, aku menikmati ini. Tunggu nanti saat sampai aku bisa mengatakan bagaimana rasanya menaiki pesawat Pribadi pada Adiba..." Ujar Renald Spontan melihat Jendela.


"Ya, aku juga ingin mengatakan hal-hal indah sambil Video Call an sama Chelsea disana nanti " Jelas sekretaris Barga.


Mereka mengangguk-anggukkan kepala menikmati pelayanan beberapa saat sebelum menyadari sesuatu satu sama lain.


'Apa, Aku jelas-jelas mendengar Renald menyebut nama Adiba. Iya kan Adiba sekretaris Inti yang suka sekali merawat Kuku anehnya itu'


Sementara Renald,


'Aku baru saja mendengar Sekretaris Barga yang kaku ini menyebut ingin Video Call an kan. Si gila kerja ini bahkan menyebut nama Chelsea ya Si gadis menakutkan itu.


"Apa yang kau katakan barusan?" tanya mereka satu sama lain.


"Tampaknya kita sering bertemu jika apa yang aku pikirkan benar"


"Ya kau benar Sekretaris Barga, sepertinya begitu. Aku juga tidak sabar kapan waktunya."


Waktu dimana mereka akan saling menyadari bahwa Gadis yang mereka sukai adalah Sahabat Karib di Perusahaan. Mereka mungkin akan lebih sering ketemu kedepannya.


.......


Maziya tersenyum merebahkan kepalanya di bahu Azkan.


"Adik sepupuku waktu itu..." terang Maziya.


"Kenapa?. Dia mau minta apa lagi. Apa dia mengancam?" tanya Azkan Khawatir.


"Siapa yang berani mengancam ku?. Aku duluan yang bisa mengancam tahu!"


"Iya ya, Lalu ada apa dengannya?"


"Dia bilang, dia akan berusaha untuk berubah. Dia juga bilang saat dia berhasil menjadi seperti yang aku syaratkan maka dia akan kembali sebagai Salah satu keluargaku, bagaimana juga kan dia tetap Sepupu."


"Baguslah, bagaimana dengan..."


"Kakak Sepupu ku yang bersama nya?" tanya Maziya langsung.


"Iya"


"Mungkin dia butuh lebih banyak waktu. Aku dengar bisnisnya membaik. Aku yakin dia butuh waktu lebih lama lagi"


"Kamu tidak masalah dengan hal itu kan sayang?"


"Tentu tidak Mas, Aku tidak pernah membenci hingga memutuskan hubungan 100 persen. Itu pesan Ibu dulu, aku hanya ingin memperbaiki pandangan mereka yang salah."


"Aku bangga sayang, aku bangga pada Istriku"


Setelah balik dari SWISS, rencananya Azkan juga mempersiapkan perjalanan romantis mereka di berbagai Kota yang ada Di Indonesia. Honeymoon yang paling berkesan sudah ada di depan mata.


Namun dengan jadwal selama itu, bagaimana dengan Perusahaan?. Urusan kerjasama tentu harus diemban oleh Renald. dan Perwakilan Azkan pastinya bisa diurus oleh Wakil CEO Pak Leo.


....


Setelah Balik dari SWISS, Semua orang mendapatkan hadiah paling Mewah. Bahkan seluruh pelayan kediaman Serziano dapat hadiah besar.


Semua orang penasaran dengan apa yang terjadi. Mungkin sesuatu yang besar dan luar biasa sedang mengetik hati Azkan yang cukup perhitungan itu. Atau mungkin saja Maziya yang suka dihormati dan dikagumi sedang ingin dipuji dengan kekuasaan barunya sebagai Istri yang kaya dan Mapan.


Rupanya benar saja ada kabar yang gembira. Azkan dan Maziya mengumumkan kehamilan Maziya. Hal itu tentu membuat rencana perjalanan ke berbagai tempat di Indonesia harus sedikit tertunda.


Namun demikian, kebahagiaan lainnya datang bagi Keluarga Serziano. Cucu pertama yang didambakan akhirnya tercapai juga.


.Selain itu, Kita bisa lihat bagaimana perkembangan kehidupan CEO kaya dengan istri Gilanya perlahan melewati proses mendewasakan sikap.


Dia masih Maziya, gadis tengil yang mencintai uang. Gadis yang tidak punya ketulusan semuanya palsu kecuali obsesinya pada kekayaan. Hanya saja, semakin hari ia berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Karena Kehidupan juga tentang belajar menjadi lebih.


Sedangkan Azkan, dia juga masih Azkan yang sama. Tuan Muda Kaya Raya yang sangat terkenal dengan kekejamannya dalam hal Pekerjaan. Dia juga orang yang masih perhitungan dengan pengeluaran. Namun, semakin hari ia juga belajar menjadi Sosok yang bertanggung jawab atas Keluarga. Keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga bukanlah sesuatu yang sederhana tetapi Ia berhak berusaha untuk mencapai itu.


Orang Kaya juga bisa buruk, orang miskin bisa menjadi baik bahkan sebaliknya. Pasangan yang aneh, yang gila, yang dewasa, berbagai jenis ini punya masalah juga tujuan masing-masing. Kita hanya perlu fokus untuk mencapai kebahagiaan sendiri.


...~~...


...~•••••~~...


...~... THE END....~...