
Sudah satu bulan lamanya, Azkan tidak pulang ke kediaman sementara Maziya juga tidak datang ke Perusahaan.
Rasti dan Randy menemui Azkan di Perusahaannya. Seperti biasa Randy lebih duluan selesai makan.
"Istri kamu mana Azkan?" tanya Randy saat kembali ke tempat duduknya usai memandang jendela.
"Di rumah, ada banyak hal yang ia kerjakan."
"Oh ya, tapi aku sepertinya sempat melihatnya di Klinik.. Salah lihat kali ya." Randy menggaruk kepalanya.
"Di Klinik?" Azkan mengerutkan dahi.
"Klinik Dr. Faruq, tempat yang ingin kulamar Setelah lolos Ujian Spesialis. Aku menyukai tempat itu juga sangat menghormati Dokter Faruq."
"Mengapa ada istriku disana ?. Ada ada saja kamu Randy."
Tidak mungkin dia ke klinik Psikiatri. Paling juga ke klinik yang disebut Mall. Jiwanya sakit, hanya karena Uang bisa sembuh. Setelah dapat pembayaran miliyaran langsung berhenti masuk kerja.
Azkan memang tidak pulang tapi ia sudah mentransfer pembayaran dari Kontrak yang ia setujui. Bisa-bisanya dia melakukan hal yang jelas-jelas tidak pernah ingin ia lakukan apalagi pada sosok seperti Maziya.
Namun rasa bersalahnya hilang karena Kartu Debit Maziya langsung beralih pada transaksi yang fantastis. Apa yang dia harapkan dari Gadis yang hanya mencintai kekayaan dan Kekuasaan. Dia yang bodoh karena tidak tahu siapa yang berbelanja begitu banyak dengan nama misterius di Tiap Mall Perusahaannya selama ini, ternyata tak lain tak bukan Adalah Maziya.
Rasti berniat menghentikan obrolan mereka mengenai Maziya. Sehingga ia menyinggung tentang Pertemuan tak terduga antara Papanya dan Azkan sebulan lalu.
"Selamat ya Azkan, makin jarang kita ketemu, makin kamu sibuk dan makin sukses saja semua bisnis kamu."Rasti memuji.
"Ah biasa saja." ujar Randy.
Rasti dan Azkan serentak menengok ke arahnya. Seharusnya saat ini Randy ikutan memuji.
"Maksudnya, biasa saja bagi Azkan menyelesaikan banyak bisnisnya. Dari dulu juga dia selalu berhasil."
...........
Pitaloka memakan makanan sehatnya. Ia akhir-akhir ini memikirkan tentang Maziya.
"Apa benar Maziya tidak masuk karena malas seperti ucapan Pak Azkan ya?"
"Kamu jangan terus memikirkan hal itu, bagaimana jika didengar orang lain?" Edwin memastikan sekeliling.
"Bagaimana jika Pak Azkan mengetahui isi chat kita semua. dan akhirnya Maziya yang harus berkorban."
"Tidak mungkin, Maziya bilang dia akan segera menghapusnya." Renald menimpali obrolan suami istri itu.
"Tetap aja kita berlebihan nggak sih. Apalagi Maziya juga ngikut aja. Gimana kalau Ternyata dia menyampaikan keluhan kita sama Pak Azkan secara langsung tanpa membicarakan bahwa itu keluhan kita." Chelsea menduga-duga.
"Tidak mungkin, kalau begitu seharusnya ada acara makan malam Perusahaan yang dibayarkan atasan. Ingatlah betapa berharganya citra Perusahaan ini." Edwin menyuapi Pitaloka.
"Bisa jadi dia ingin memecat kita perlahan dari sikap kita. Lah kita hanya mampu memesan sup dan teh anget. Di warung juga bisa dan lebih murah. Pelit sekali." Lintang masih saja mengeluh.
"Bang Lintang, biarin lah masih Untung kita ditraktir kan. Meskipun dibawah tekanan."
Adiba juga tak sanggup membayangkan apa yang mereka pesan setiap makan malam Perusahaan. Tetapi dia terus merasa tahu diri, mereka semua bawahan yang digaji oleh SERZIANO Grup.
"Makannya juga harus di MOCY Grup lagi. Mahal semua harganya." Chelsea menambahkan.
"Ya karena CEO kita sahabatan sama siapa itu Rasti." Adiba mendengus.
.....
Maziya duduk di ranjangnya..
"Kak Azkan masih belum pulang Ma?"
"Biarin aja dia urus dirinya sendiri."
"Tetap saja ini karena aku Ma."
"Gara-gara dia fase Depresif kamu jadi lebih lama dari biasanya."
Biasanya Fase Manik maupun Depresif Maziya hanya berlangsung beberapa hari saja. Karena hak itulah Maziya membentuk sikap arogan dan haus kehormatan. Ia ingin Bipolar yang diidapnya tidak ketahuan.
Buktinya, orang lain hanya akan menganggap dia gila. Orang yang mudah Moody an juga kasar tak peduli sekitar kecuali kebahagian diri sendiri. yang tahu persis apa yang dialami Maziya hanya Nyonya Lidia, dan Viola. Juga Tuan Alam yang baru-baru ini tahu.
"Mungkin karena aku syok dan juga beberapa hal yang bikin aku sakit hati Ma. Itu bersatu dengan fase Manik lalu tiba-tiba saja Kak Azkan membahas sesuatu yang tidak aku persiapkan. Jadinya aku benar-benar putus asa saat itu dan Blank." Akui Maziya pada apa yang terjadi.
"Terus kamu mau gimana?" tanya Nyonya Lidia pelan.
"Aku akan minta maaf sama dia Ma. Lagipula hanya itu yang dia inginkan, Mama bantu jelasin sama Papa ya, biar mengaku salah ke Kak Azkan."
"Tapi Papa?"
Maziya datang ke Perusahaan. Barga yang memberitahu kalau Azkan tidur di kamar Ruangan CEO.
Tok-tok-tok...
Maziya masuk tanpa dipersilahkan. "Hai Kak Azkan." dengan ceria menyapa suaminya.
"Jangan berani bicara padaku!"
"Oh galak banget Sama istri sendiri."
"Istri?" Azkan memberikan pandangan meremehkan.
"Aku yang salah waktu itu. Setelah dapat uang dari Kak Azkan aku langsung sadar. Kak Azkan mau aku membungkuk juga bisa." Maziya mendalami peran bahkan sampai membungkuk 90 derajat.
"Kalau sadar, seharusnya kau berlutut sekalian!"
"Oke.." Maziya langsung duduk berlutut tepat saat Barga membawakan makan malam.
"Nona?"
Barga cukup kaget melihat Maziya yang duduk berlutut. Apa niatan Azkan untuk membuat lutut Maziya berdarah-darah hingga menangis menyesal benar-benar akan dilakukan?.
"Hai Sekretaris Barga." dengan ceria Maziya melambaikan tangannya pada Barga.
"Segitu rendahnya harga dirimu kalau menyangkut uang ya." Azkan menyela dua orang tersebut.
"Kak Azkan juga tahu. Bagiku uang segalanya. Selama aku mendapatkan uang untuk memenuhi keinginanku. Aku bisa tidak tahu diri atau juga tidak tahu malu. Terserah Kak Azkan saja mau bilang aku yang mana." Maziya masih tersenyum sumringah.
"dan kau menjelaskannya dengan bangga?"
"Kenapa tidak?" Maziya balik bertanya.
"Benar-benar tidak tidak tahu malu." gumam Azkan.
"Jadi udah boleh berdiri nih?" tanya Maziya.
"Ya sud..." Belum selesai Azkan bicara Maziya sudah merebut makanan dari tangan Barga.
"Ini dari restoran MOCY ya. Wahhh." Maziya menelan ludah.
"Aku bahkan belum selesai mengizinkanmu berdiri."
"Lagipula Kak Azkan bakal ngebolehin juga, buruan tadi aku sengaja nggak makan malam buat kesini!"
Azkan harus sabar, dia bangun dari kursinya dan ikut nimbrung di Sofa.
Maziya membuka bungkusannya. Ia lagi-lagi harus kesusahan untuk menyuap Makanan berair itu karena rambutnya. Sebelah tangannya berusaha membuat rambutnya tidak maju ke depan.
"Makanya pakai kuncir rambut!"
"Aku lupa.Kak Azkan pegangin dong."
"Makanya potong pendek!"
"Potong pendek nggak bagus. Kalau panjang kan perawatannya lebih lama dan mahal. Makin mahal makin bagus."
"Biasanya kau juga mengikat rambutmu setengah kau bilang itu model apa. Bun Bun?"Azkan berusaha mengingat.
"Itu namanya Gaya half-up bun yang manis dan menggemaskan." Maziya menempelkan tangan di Pipinya dengan ekspresi manjanya.
"Nah itu."
"Aku lupa Kak Azkan, lagian juga udah malam makanya aku tampil seadanya begini."
"Seadanya tapi Style Pakaian Prad* semua."
"Kak Azkan jangan ngomel mulu, ini aku mau makan. Kalau nggak mau megangin nggak apa apa."
Maziya makan sembari menyingkirkan rambutnya. Makan lagi singkirkan lagi, menip makanan, menyuapkannya ke mulut singkirkan rambut lagi.
Karena risih, Azkan akhirnya memegangi rambut Maziya dengan tangan kirinya. Sementara Tangan kanannya dengan lihai memakan makanannya.
Barga hanya bisa termangu menatap pasangan suami istri tersebut. Bukan hanya Maziya yang punya sikap aneh. Baginya Azkan bahkan lebih aneh.
Bukankah selama sebulan ini selalu mencaci Maziya dengan brutal, mengatakan tak akan memaafkan Maziya meskipun Maziya berlutut. Akan memaafkan Maziya kalau gadis itu meneteskan air mata penyesalan yang nyata.
Tapi buktinya, Maziya sangat ceria saat berlutut. Ternyata masalah yang ia sangka cukup besar selesai begitu saja.
Bersambung...