The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
47. Sekali Dianggap Lugu, Kedua Jadi Suhu



Bukan hanya penghuni panti, beberapa komunitas lansia dan kelas bawah yang membutuhkan juga datang ke halaman yang dihiasi beberapa tenda tersebut. Tenda dimana tempat mereka membagikan makanan gratis juga sedikit Sembako bersama pengurus panti dan sukarelawan yang datang membantu.


Hampir semua orang telah menyelesaikan makan siang mereka. Bahkan Barga baru saja datang untuk menyantap pengganjal perutnya.


Barga membisikkan sesuatu pada Azkan. Hingga Lelaki itu berhenti dengan kegiatannya lalu menuju ke arah belakang.


Piring-piring kotor masih datang silih berganti. Para pekerja dan pengurus panti juga ikutan berganti shift.


Maziya juga ada di depan tumpukan piring yang sudah berbusa dan siap dicuci dengan sarung tangan karetnya yang bewarna pink. Sesekali Maziya menggosokkan punggung pergelangan tangannya untuk menyapu sedikit keringat yang menetes agar Makeup nya tidak begitu rusak.


Azkan duduk di samping Maziya. Perempuan itu sedang asik berkutat dengan piring di hadapannya, tidak berniat terganggu. Dia membuat ekspresi Manyun-manyun, atau kelelahan, tapi tetap fokus dengan pekerjaannya.


"Katanya kau tak makan apapun."


Maziya memutar bola matanya malas ke sumber suara yang sudah berada di dekatnya. Dia menanggapi dengan diam, lalu melanjutkan pekerjaannya lagi.


Azkan memperhatikan sekitar, memberi isyarat agar para pengurus panti dan sukarelawan lainnya pergi menyingkir. Kini menyisakan Azkan yang sedang menatap Maziya sementara Maziya tidak berniat meladeninya.


"Jawab!"


"Lebih tepatnya Ketika aku cuci piring ini, aku tidak bisa makan. dan aku tak akan makan apapun hingga semuanya selesai."


Azkan Manggut-manggut, "Aku tidak berniat membuatmu sakit saat mengajakmu kesini."


"Aku sehat kok. Bukannya ini memang niat Kak Azkan, makanya nyuruh aku berhadapan dengan piring-piring ini agar kalian bisa menjadi pasangan serasi di depan." Maziya tersenyum sinis dengan salah satu bibir kiri atasnya terangkat.


"Siapa yang kau maksud?"


"Siapa lagi Selain cinta diam..."


"Syutt...!" Bagaimana jika ada yang Dengar?. Kau benar-benar lupa atau sengaja Hah!"


Maziya melihat kekosongan pekerja yang disebabkan oleh Suaminya.


"Bukannya yang lain udah disuruh pergi. Apa Kak Azkan mau minta aku kerja sendiri?. Okeee Fineee." Maziya bahkan tidak menengok pada suaminya saat bicara.


"Tatap aku saat bicara!" perintah Azkan.


Maziya memiringkan kepalanya "Nihh udah kan?"


'Andai saja tidak di tempat ini. Aku sudah menyentil keningnya itu


Azkan menarik diri dari tempat itu. Ia kembali ke depan.


'Tuh kan, dia hanya ingin aku mengerjakan ini sendirian.


Maziya memberi kode pada Para Pengawal yang salah satu dari mereka ia kenali. Namun pengawal itu tidak merasa kenal dengan dirinya. Pasti itu karena bagian dari pekerjaannya, mengawasi Maziya tanpa dicurigai.


'Yaa, awasi saja aku dari jauh, apa kalian diagji hanya untuk hal itu?. Mana ada penjahat dalam acara seperti ini. Bahkan aku juga sudah Memakai sepatu aneh ini.


Maziya ingin sekali menyiram sneaker yang ia pakai. Mungkin berharap aliran listrik itu korslet hingga sepatunya rusak. Atau berniat membuktikan apa kualitas sepatu terbaik itu memang seperti yang dikatakan Barga.


Tak lama kemudian Azkan kembali dengan membawa sepiring makanan. Ia sodorkan piring itu sambil berdiri.


"Ini Makanlah!"


"Kak Azkan nggak budek kan?. Aku masih belum selesai." Maziya mengangkat dua tangannya yang masih menggunakan sarung tangan karet.


Azkan duduk kembali, "Kalau kau menolak makan, artinya kau berniat sakit. Apa kau mau menjadikan ini alasan agar tidak masuk kerja?"


"Aku tidak akan sakit hanya karena tidak makan sekali Kak Azkan."


"Jadi kau tak mau makan bahkan setelah aku ambilkan?"


"Yap." Maziya menjawab mantap kemudian berlalu pergi.


Azkan menahan lengan Maziya. "Aku akan suruh para pengawal yang tidak ada kerjaan itu menggantikan sebentar."


"Kenapa?.Sudah kubilang jangan bersikap arogan di tempat ini kan!"


"Aku hanya tidak mau makan masakan dari sahabatmu yang begitu menakjubkan itu. Kalau kamu mau, silahkan ambil juga jatahku!"


"Kau cemburu?"


"Tidak, buat apa aku cemburu."


"Dari ekspresi mu sudah sangat kelihatan kalau kau berbohong."


......


"Aku tidak bohong, kau masih mau menikmati waktu bersama dua sahabatmu kan. Atau bisa dibilang sahabat perempuanmu saja."


"Jangan sembarang bicara!. Cemburu nanti di rumah saja!"


"Kalau aku cemburu juga, apa Kak Azkan percaya Hah?"


Azkan melihat Randy dan Rasti yang perlahan menuju ke arah mereka. Maziya juga melihat kedatangan dua orang itu dengan raut tak suka namun cepat-cepat ia rubah.


Azkan merangkul pinggang Maziya hingga Perempuan pendek itu harus berjinjit. Azkan kini mencium bibir merah muda Maziya hingga berhasil membuat Maziya terdiam sejenak membeku.


'Apa yang Kak Azkan lakukan secara tiba-tiba?. Gila sekali, tapi aku menyukai ini. Ciuman ini...


Maziya mulai menikmati ciuman bahkan tidak melakukan dorongan sedikitpun. Baru saat malam pertama ciuman canggung ia lakukan.


Saat Azkan tidak berada di kediaman, salah satu kegiatannya adalah melatih ciumannya agar lebih baik saat menghadapi Azkan. Prinsip Maziya, sekali boleh dianggap lugu, kedua kali ia adalah Suhu dan sudah pasti Suhu. Atau bagi Maziya, sekali ia bisa diremehkan, untuk kedua kalinya ia yang akan memimpin dan meremehkan.


dan Prinsip Maziya terlihat dalam kemampuannya dalam berciuman. Dia sudah sangat lihai karena sering mempelajari teorinya dan menimbang apa yang harus ia lakukan sembari membayangkan bagaimana Azkan menciumnya.


Perlahan ciuman itu dilepas. "Apa kamu mau aku suapi dari mulut ke mulut?. Aku bahkan bisa mengunyahnya untukmu." Azkan mengelus lembut bibir mungil Maziya.


'Ooh karena ada dua sahabatnya. Baiklah aku ikuti permainanmu.


"Aku disuapi saja, aku selalu senang kalau Kak Azkan nyuapin aku, dari mulut ke mulut juga Oke."


"Baiklah."


"Kalian suap menyuap?".


"Suap menyuap itu beda lagi istilahnya Randy. Kamu bisa membuat seseorang diselidiki." Rasti menegur pacarnya dengan nada tak suka.


"Saling menyuapi maksudnya." Randy tersenyum pada Pacarnya.


"Ayo Kak Azkan, dari mulut ke mulut saja!" Maziya juga tersenyum manis pada Azkan.


"Benar dari mulut ke mulut?" Randy sedikit syok dengan apa yang ia dengar.


"Tidak juga, hanya saat-saat tertentu Kak Randy. Seperti saat ini, karena tangan aku lelah udah nyuci-nyuci tadi." keluh Maziya manja.


"Ooh begitu, romantis sekali." Randy merasa iri.


"Karena kita tidak sedang berada di rumah, aku suapi dengan sendok saja Ya?" tanya Azkan lembut.


Maziya menyadari ada beberapa anak yang melihatnya. Meskipun ia tidak peduli, tapi dia juga harus mempertimbangkan pandangan Rasti dan Randy saat ini sehingga Ia bersedia. Meskipun itu masakan dari Rasti yang jelas-jelas membuatnya kesal setengah mati.


Azkan akhirnya menyuapkan makanan ke mulut Maziya. Sangat telaten dan penuh perhatian bahkan mengusap nasi yang nyangkut di tepi bibir Maziya lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Jijik atau bagaimana pun yang dirasakannya, ia tak bisa menampakkan hal itu pada Randy dan Rasti.


Randy tersenyum melihat bagaimana Azkan menyuapi Maziya. "Mereka lucu sekali ya sayang?"


Rasti hanya mengangguk singkat. Dia merasa jengkel tanpa alasan. Apakah karena ia benci dengan sandiwara Maziya atau ia benci dengan perhatian berlebihan yang tidak pernah ditunjukkan Azkan sebelumnya. Baik pada mantan pacar lelaki itu bahkan juga pada dirinya.


Bersambung....