The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
26. Ketulusan yang Tidak Palsu



Maziya bangkit dan dia berjalan perlahan keluar kamar sembari mengendap-endap. Di dapur kebetulan lampunya benar-benar mati.


Maziya tiba-tiba melihat ada cahaya. Ternyata Ponsel barunya mulai menunjukkan fungsi. Casing ponsel itu mengeluarkan cahaya dengan warna kuning yang cantik hingga Maziya takjub menikmati biasan cahaya tersebut.


Tidak perlu lagi menghidupkan mode senter. Ia menggoyangkan ponsel tersebut bahagia karena Azkan yang memberikannya. Benar kan Azkan peduli padanya dengan caranya sendiri.


Ia memulai misi mencari makanan instan dari laci-laci yang berada dalam jangkauannya, di bagian bawah. Namun nyatanya, tak ada satupun dari laci rendah itu menyimpan makanan instan. Isinya hanya alat-alat besar, panci-panci yang digunakan petugas bagian dapur.


“Masa sih nggak ada Mie Instan, dulu kan sering di taro disini. Mama juga sering makan kalo Papa nggak di rumah.”


Ia melihat Kulkas . "Nggak mungkin kan di kulkas juga nggak ada."


Benar, di kulkas hanya ada bahan makanan mentah agar kesegarannya bertahan. Jenis minuman yang ada juga hanya air mineral mahal.


Mungkin Ia lupa kalau Semua bahan makanan di kediaman itu tidak boleh layu. Para petugas dapur bertanggung jawab untuk semua bahan makanan yang fresh juga terjamin kualitasnya.


Maziya menutup pintu kulkas. Saat itu Azkan mengintipnya dari balik pintu. Sebenarnya Azkan juga tidak bisa tidur karena bergulat dengan perasaan berdebar akibat sentuhan lembut Istrinya.


Maziya mulai mengarahkan ponselnya ke laci-laci yang tinggi. Dengan tubuhnya yang tidak mencapai 160 cm, tentu saja laci itu mustahil untuk diraih dengan mudah.


Tapi, bukan Maziya namanya kalau tidak banyak akal. Ia hanya perlu menaiki tembok sepinggang yang digunakan untuk meletakkan bahan atau untuk memotong-motong. Akhirnya setelah beberapa saat, ia berhasil mendapatkan mie instan disana.


Azkan yang punya penglihatan baik di dalam gelap itu merasa bingung. Apa Gadis manja yang hanya mau makan makanan mahal sekelas Restoran Michelin itu benar-benar mengambil Mie instan?. Makanan murah meriah yang disukai hampir semua kalangan penduduk penghuni Negara Indonesia. Dahulu ia memberikan Mie instan itu dengan berbohong bahwa itu adalah makanan mahal.


Apa selama 5 tahun ini Maziya berusaha hidup layaknya orang biasa. Apa Maziya yang dulu adalah Maziya yang berbeda dari kini. Tapi itu tidak mungkin, Buktinya saja Maziya mau menikah karena harapan uang 100 M, Aset Serziano Property juga Aset sang Mama. Azkan beradu argument dengan pikirannya sendiri.


"Ini dia penyelamat Cacing-cacingku yang demo."


Saat akan turun, karena satu tangan memegang ponsel dan tangan lainnya memegang mie. Ia hampir saja jatuh dengan posisi berbaring kalau tidak ada yang menyambutnya.


Azkan dengan sigap menangkap tubuh oleng Maziya. Kini posisi mereka cukup romantis dengan tubuh Maziya berada dalam gendongan Azkan. Mereka saling bertatapan di bawah cahaya casing ponsel untuk beberapa saat.


Azkan menurunkan Maziya. “Mau ngapain?”


Tidak perlu dijawab, perut keroncongan Maziya sudah mewakili mulutnya bicara. Azkan berjalan ke arah stop kontak, dengan penglihatannya yang baik dalam kegelapan ia hidupkan lampu dapur.


Maziya heran Mengapa Azkan tidak mengalami masalah mata meskipun selalu berurusan dengan ponsel dan laptop di kehidupan sehari-harinya. Mungkin terkadang saja, ia akan memakai kacamata anti radiasi kalau sudah berjam-jam menatap komputer demi kenyamanan. Momen saat Azkan fokus dengan pekerjaan saat masih memakai kacamata adalah yang sangat disukai Maziya.


“Jam segini mau makan mie?”


“Emang kalo laper nggak boleh apa Kak Azkan?”


“TiDAK SEHAT.!!”


“Kenapa Kak Azkan peduli?”


“Memangnya kau bisa masak?”


Maziya tidak bisa memasak juga karena latar belakang keluarganya kaya, ia selalu dimanja bahkan sebelum tinggal di kediaman Serziano. Apalagi Maziya memang lebih suka dihormati, sehingga ia selalu seenaknya menyuruh pelayan melayani kebutuhannya.


Maziya menjawab dengan gaya angkuhnya ,“Hanya orang bodoh yang tidak bisa masak mie instan.”


“dan kau adalah salah satu orang bodoh itu.”


Azkan mengejek.


"Lebih baik Kak Azkan pergi deh, Kak Azkan tadi kan udah tidur, Kenapa ada disini?. Mau ngikutin aku ya?"


“Aku haus, kurangilah rasa percaya dirimu itu. Juga kurangi lah spekulasi halu mu. Kau bahkan tidak pantas untuk sekedar membayangkan nya”


Azkan berjalan ke meja dapur dan menuangkan air ke gelas.


Maziya mengambil gunting, lalu ikut duduk di meja dimana biasanya para bawahan makan sembari membuka bungkus mienya.


Bukannya meminum air yang dituangkannya ke gelas, Azkan justru bertanya. "Ngapain duduk disini."


“Bukannya kau mau memasak mie?”


“Siapa yang bilang?.”


Maziya mulai membuka bumbunya setelah mie keringnya dikeluarkan. Saat bumbu itu dituang ke atas mie kering, barulah Azkan tahu kalau Maziya hanya akan memakannya mentah-mentah tanpa dimasak.


Azkan mengambil mie tersebut dari tangan Maziya sebelum gadis itu sempat memasukkannya ke mulut. "Ini tidak sehat plus tidak enak."


“Kak Azkan aku benar-benar laper tahu nggak. Enak nggak enak yang penting kenyang.” Maziya memelas.


"Jangan makan yang begini,!" Azkan menyingkirkannya.


Maziya mengingat dengan jelas Mie instan buatan Azkan dahulu. Azkan berbohong kalau itu Mie mahal padanya agar ia tidak membocorkan pada penghuni Kediaman terutama Kakeknya. Maziya sih percaya-percaya saja sebelum akhirnya melihat Azkan memasak diam-diam di dapur.


"Kalau gitu Kak Azkan masakin lah sekalian. Kalau masak Mie kan, Kak Azkan jagonya"


Azkan menuangkan air ke dalam panci. Ia menghidupkan kompor listrik dan meletakkan panci berisi air tersebut. Ia mengambil mie instan baru dari laci. Selagi menunggu airnya mendidih, ia memotong daun bawang dan mengambil sebutir telur.


“Kak Azkan mau makan mie juga?”


Maziya mendekat, dahulu mereka sering melakukan kegiatan semacam itu, saat Azkan masih bersikap manis dan menjadi lelaki paling sweet di dunia dalam hidup Maziya.


“Tidak, aku tak lapar.”


“Kak Azkan beneran mau masakin buat aku?” Maziya tak percaya sekaligus tersenyum kalau iya.


“Agar orang bodoh yang tidak bisa masak mie instan ini tidak menghancurkan dapur.” sindirnya pada Maziya.


Azkan memasukkan mie ke dalam air yang mulai mendidih. Kemudian bumbu , ia aduk sebentar kemudian masukkan telur sehingga menghasilkan telur separo matang kesukaan Maziya. Terakhir, ia menaburi daun bawang di atasnya.


Azkan menyiapkan mangkuk beserta garpu. Ia menuangkan mie tersebut dengan hati-hati ke dalam mangkok dan menaruhnya di hadapan Maziya.


Saat akan mulai mencoba, Maziya agak kesusahan dengan rambutnya yang tergerai. Azkan dengan cepat membantu memegangi rambut Istrinya dengan tangan kirinya.


"Cepat habiskan sebelum aromanya Sampai di Kamar Mama dan Papa!"


Maziya mengiyakan, Setelah meniup Beberapa kali. Gulungan kenyal keriting itu Slupppp masuk ke mulutnya.


Dengan mata terpejam, “Enakkk, Mie buatan Kak Azkan memang juara.”


Entah kenapa, ada rasa bahagia saat gadis itu menikmati buatannya. Namun rasa itu segera ia tepis dengan tepat.


“Buruan habisin!”


Maziya menatap Azkan. “Aku menyukainya. Mie nya dan sikap Kak Azkan. Andai Kak Azkan bersikap seperti ini terus tanpa mengeluarkan kata-kata buruk padaku.”


“Aku hanya bermurah hati demi menjaga keutuhan dapur. Jadi jangan kepedean, Kata-kataku pantas diterima gadis sepertimu. Aku sebenarnya ingin mengatakan banyak umpatan namun ku tahan saja.”


“Kak Azkan nggak mau mempertimbangkan ketulusan hatiku apa?. Aku bahkan udah mau pergi, kembali kesini juga hanya untuk menyelamatkan SERZIANO Grup, bahkan menuruti semua aturan Kak Azkan.”


“Jangan banyak bicara!. semua sikapmu hanya karena kau tergila-gila dengan uang dan kehormatan.”


Maziya segera menghabiskan mienya dengan cepat tidak mau mendengar ucapan menghina dari suaminya lagi. Ia bahkan tersedak gara-gara kecerobohannya.


Azkan dengan sigap memberikan gelas yang sudah diisinya air tadi dan belum sempat ia minum. Azkan bahkan secara tak sadar menepuk pelan punggung Maziya, sebelum akhirnya ia berdiri dan segera pergi. Menyalahkan refleknya yang tidak diberikan restu.


Ingat Azkan, Dia hanya menginginkan harta kekayaanmu. Dia menjijikkan, jangan pernah terlena dengan kepalsuannya. Kau membencinya ingat itu.


Maziya memandang punggung tegap suaminya. Ia menatap gelas sembari tersenyum “Katanya haus, tapi minumannya gak diminum malah dikasih ke aku.”


Bersambung....