
Ririn mendapati Mark masih berkutat di ruangannya. Menyelidiki berbagai berkas dari Maziya.
Ririn memasuki ruangan, papan informasi yang banyak terdapat potret Maziya mendukung dugaannya.
Ririn melihat foto-foto tersebut. Ia berkacak pinggang menatap dan menggeleng.
"Jangan sentuh itu!"
"Apa kamu benar-benar ingin memilikinya?" Ririn menunjuk foto di papan.
"Kita sudah sepakat untuk tidak ikut campur dalam urusan satu sama lain. Hanya saling memanfaatkan untuk keperluan masing-masing saja." Mark masih sibuk membalik-balik kertas tebal di hadapannya.
"Aku dengar kamu hanya punya satu kesempatan terakhir. Katanya kalau kamu masih mengganggunya VM ini akan menjadi taruhannya."
"Jangan khawatir, kamu pasti bisa bekerja disini setelah lulus." Mark berhenti melihat berkas sembari tersenyum.
"Kalau pas aku lulus ternyata kamu sudah membuat SERZIANO Grup menghancurkan Firma hukum ini apa gunanya?"
"Itu tidak akan terjadi, aku punya senjata rahasia."
Mark mengambil beberapa bagian penting dari Setumpuk berkas tebal tersebut. Bagian yang dapat menjelaskan bahwa Maziya adalah pengidap Gangguan Bipolar.
Meskipun Ririn berulang kali meminta Mark untuk menyerah, tampaknya Lelaki itu tidak akan mundur. Mark berniat mengancam citra Dari Pewaris SERZIANO Grup yang memiliki Istri dengan gangguan mental. Dengan cara itu juga ia bisa menarik Maziya ke sisinya.
"Kamu benar-benar berpikir Maziya senaif itu apa?. Dia tidak akan pernah tunduk dengan apapun." Ririn bicara penuh penekanan.
"Bagiku, tak ada satupun gadis yang tidak dapat ditaklukkan."
"Kalau begitu, aku juga nggak bisa berharap dapat bekerja disini, karena bentar lagi juga VM hanya tinggal nama."
"Kamu mau pergi?. silahkan !. Kesepakatan kita berakhir."
"Jadi hubungan antara kita benar-benar hanya kesepakatan saling menguntungkan saja Mark." Ririn terdengar pasrah, ada kekecewaan juga dalam raut dan nada bicaranya.
"Menurut kamu?. Aku selalu tertarik pada Gadis dalam waktu yang singkat."
"Kamu hanya memanfaatkan cinta para gadis."
Ririn mendekat dan langsung menampar pipi Mark.
"Aku maafkan sebagai kompensasi, silahkan pulang sendiri."
Ririn mendapati Miko sedang berdiri di depan pintu, tangannya masuk ke dalam saku dalam posisi bersandar.
Ia pasti mendengar semuanya. Pikir Ririn sembari menghapus air matanya yang tiba-tiba muncul.
"Mau kuantar pulang Rin?"
"Tidak usah, aku ada jemputan."
Setelah Ririn berlalu pergi, Miko masuk ke dalam ruangan Mark.
"Sudah kubilang jangan membahayakan Firma Hukum ini bang!" tegas Miko.
"Jangan menguping, kebiasaan banget ngurusin hidup orang!" Mark memperbanyak File yang berhasil ia dapatkan ke mesin fotocopy.
Di rumah mereka....
Nyonya Virada terduduk mendapati file yang diperlihatkan Mark padanya. Meskipun Mark yakin hal itu dapat ia gunakan untuk mengancam, Nyonya Virada tidak setuju.
"Kamu bisa bunuh Mama saja, ini artinya kamu ingin menghancurkan VM." Nyonya Virada setengah berteriak.
"Ini yang mereka takutkan Ma." Mark masih tidak mau mengalah.
"Ini yang ditakutkan Perusahaan biasa seperti kita saat berurusan dengan SERZIANO Grup, saat mengetahui rahasia kecil semacam ini kita yang akan hancur Mark."
"Aku juga nggak akan langsung menyodorkan bukti ini Ma, aku hanya ingin Maziya."
"Lo naksir sama dia tapi nggak berani buat usaha apapun, nggak usah ngalangin gue!"
Mark mendorong tubuh Miko dan melepas cengkraman tangannya dengan mudah.
"Bukannya nggak ada usaha, Maziya bukanlah perempuan yang sama seperti mantan-mantan Lo!. Dia sangat baik, gue nggak mau menjauh sebelum mastiin gimana kriterianya. Gue sadar diri kalau dia udah dijodohkan."
"Jangan nyari alasan, sekali pengecut Lo nggak punya pembelaan."
"Miko,, " Nyonya Virada menginterupsi, takut Miko lepas kendali.
Miko menarik nafasnya panjang, "Gimana sama VM yang susah payah dibangun Mama buat janji beliau sama Papa?"
"Gue cuma penasaran sama Maziya, nggak akan ngebahayain VM."
"Rasa penasaran kamu menyusahkan banyak orang Bang." Miko perlahan tenang.
"Gue janji," Mark menatap adiknya dan menepuk pundak, "Aku janji Ma." Mark berlalu menuju kamarnya.
Mark duduk dan membuka laci ornamen kayu bewarna coklat tua di samping ranjang. Ia melihat kembali kasus pertama yang ia menangkan. Saat itu, ia adalah pemula yang masih ragu dalam penyelidikan atau juga pendapat, Ia melihat sekilas siapa yang hadir dalam sidang.
Salah seorang gadis muda duduk sembari memainkan permen karet di mulutnya. Saat Jaksa menyudutkan tersangka yang ia bela.
Gadis itu berdiri, dengan wig seperti sailor moon dengan Pakaian yang warnanya nabrak dari ujung rambut hingga kaki.
"Eoaaahhh." Dia menguap.
yang diingat Mark saat itu adalah, Maziya berkata. "Kalian pikir menjadi miskin hingga tertuduh mencuri itu gampang?"
Saat itu juga, Mark akhirnya meminta banding. Ia mendapatkan bukti tambahan dari rekaman Dashboard mobil parkir. Sayangnya, itu adalah awal karirnya atau satu-satunya karirnya yang sesuai dengan Prinsip Hukum.
Dia lebih suka mengambil kasus orang kaya dan menolak kasus orang miskin. Dia bukanlagi Mahatma Gandhi dunia nyata.
Salah satu Klien yang datang kembali adalah wanita Korban Pelecehan dari anggota salah satu Konglomerat juga. Klien yang mendapatkan uang pesangon dari Gadis gila yang sengaja menghancurkan rumahnya.
.....
Miko memapah Nyonya Virada ke kamarnya.
"Ma, dia bukan hanya menggunakan Dana Perusahaan seenaknya, kini bahkan ingin membuat VM diambang kehancuran Ma."
Miko tidak tahan lagi, ia adalah salah satu Tim Audit Firma Hukum VM secara diam-diam. Banyak sekali Staff yang berhasil ia dapatkan dan dapat SP maupun diberhentikan atau di transfer. Selain itu, apa yang dilakukan Mark juga sudah lama ia ketahui, hanya saja Nyonya Virada masih memberikan kesempatan pada Putra keduanya itu.
"Bagaimana dengan pekerjaan kamu disana?" tanya Nyonya Virada perihal lamaran Miko di SERZIANO Grup.
"Diterima Ma, tapi dalam posisi itu akan mustahil pasti untuk menemui Maziya."
"Cari cara Miko, kamu juga akrab dengan sahabatnya kan. siapa itu yang sering kamu sebut-sebut?"
"Vio Ma, namanya Viola." Miko tersenyum.
"Kamu dahulu selalu menutupi kalau ada perasaan sama Maziya. Sekarang udah terang-terangan?"
"Aku tidak menyukainya Ma, hanya saja.." Miko terdiam sejenak.
"Hanya saja apa?"
"Aku selalu merasa bahwa ia sebenarnya tidak Bodoh, ia sangat berbakat apalagi dengan skill Fotografinya. Dia hanya...cukup terang-terangan seperti Maziya dan kadang juga polos dan Imut. Aku selalu berpikir kalau Image Sexy yang dimilikinya membuat dia jadi sosok yang dingin dan aneh yang terkesan dibuat-buat. Ternyata dia bisa imut juga Ma, terlepas dari sosoknya yang begitu."
Selain itu Miko juga dengan lancar menjelaskan konsep traktir yang dicanangkan Viola. Juga bagaimana ia meminta Viola mengingatkan jika ia bertindak tidak sesuai dalam rangka move on dari Maziya.
Nyonya Virada tidak bisa menahan senyumnya. Miko selalu ramah pada orang lain dan mudah dimanfaatkan. Baru kali ini, putra bungsunya itu merasakan bahwa orang lain yang berhutang Budi padanya tidak membuatnya sungkan.
"Bagus kalo kamu senang. Mama juga ikut senang."
Bersambung.....