The CEO's Crazy Wife

The CEO's Crazy Wife
22. Ku pecat!!



Rita berlari menuju kamar mandi khusus para pelayan dan petugas di Kediaman Serziano. Bi Mirna tergopoh-gopoh berjalan keluar karena berpikir anaknya itu memiliki masalah mendesak.


"Aku diterima Bukk" Rita jingkrak-jingkrak.


"Akhirnya penantian Beberapa tahun tidak sia-sia." Bi Mirna mengucap syukur.


"MOCY aku datang." Rita memeluk laptopnya mematut email penerimaan setelah beberapa wawancara.


....


Viola sedang asik santai berputar-putar duduk di kursinya. Artikel yang baru ia terbitkan masuk TOP 3 teratas.


Anggotanya yang lain sibuk memeriksa peningkatan rasio klik juga mencari mengedit tugas mereka masing-masing.


Salah satu anggotanya bergegas datang menghampiri. "Itu, itu..."


"Apa itu? itu?. Ini gedung Papaku yang punya. Pemiliknya udah pensiun. Nggak mungkin ada tukang tagih sewa." Viola kembali berputar-putar di kursinya.


"yang diberita, itu ada di depan" tunjuknya.


"yang diberita?" Viola menatap komputernya.


"Ooh ini, orangnya nggak mungkin datang."


"Serius-serius."


Viola terperanjat "Benar-benar serius?"


Dia mengangguk menunjuk pintu. Ketukan horor mulai terdengar dengungnya.


"Miko datang ke tempat itu sendiri?" Maziya Hampir tidak percaya.


"Bukan cuma datang, dia bilang kalau artikel itu nggak dihapus. Dia akan tuntut aku pencemaran nama baik. Kamu tahu sendiri aku nggak ngerti pasal-pasal tapi dia ngomongin soal itu."


"Terus kamu hapus nggak?"


"Aku hapus saat itu juga di hadapan dia."


"Beruntung juga kamu bisa lihat sosok malaikat seperti Miko marah. Dia kan terkenal baik juga perhatian."


"Itu dia, namanya bukan keberuntungan Maziya. Marahnya seseorang yang terbiasa terlihat tenang dan tampak baik sangat mengerikan."


"Iya aku setuju. Itu juga yang bikin aku syok lima tahun lalu. Semarah-marahnya Kak Azkan. Aku nggak pernah nyangka kalau kata-kata kotor seperti kereta api mengalir begitu saja dari mulutnya. Awalnya dia juga sama, seperti malaikat tanpa sayap. Sekarang bagiku, Dia hanyalah Iblis berwajah malaikat." Maziya menyeruput minuman kelimanya.


"Tapi kamu beneran nih nggak makan?"


"Enggak selera."


Maziya mengecek ponselnya sesaat. Puluhan panggilan tak terjawab. dan Sebuah pesan sukses membuat nafasnya terengah.


Pulang, Atau Kau KuPecat!


"Mampus" Maziya berdiri dari kursi.


"Kenapa?" Viola ikutan kaget.


"Sekretaris Barga ngirim pesan ini. Tapi ini pasti bukan Sekretaris Barga."


Viola ikut melihat pesan tersebut. "Siapa?"


"Kak Azkan." Maziya berujar lemah.


"Ya udah pulang Maziya!"


"Ini sejak 5 jam yang lalu. Apa akhirnya uang bulananku tidak akan ada?. Jadi usahaku tidak tidur semalaman, menghafal dengan baik sia-sia?" Maziya berubah lesu.


"Kenapa kamu nggak ada gairah begitu?. Aku juga mengalami ketidakberuntungan hari ini. Tapi aku bisa mengatasinya. Nah kamu?"


"Kamu mengatasinya pakai Apa memangnya Viola?"


"Pakai ancaman." Viola tersenyum ngeri.


Miko meminta permintaan maaf dari Viola secara resmi jika tidak mau dihukum. Viola Lalu menggunakan nama Maziya.


"Kok kamu bawa-bawa aku?"


"Aku cuma mau membuktikan saja kalau instingku selama ini benar."


"Lalu?"


"Iya, dia menyukai kamu. sejak pertama kali berada sekelas denganmu. 4 tahun." Viola mengangkat 4 jarinya.


"Hahhh." Maziya menganga.


"Iya, selama aku nggak ngebocorin hal itu ke kamu dia maafin aku."


Maziya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi kamu udah bocorin."


"Eh lupa. Kan biar kamu terinspirasi "


"Terinspirasi bagaimana Viola?"


"Pakai cara yang sama. Kamu bilang suami kamu itu suka perempuan lain kan. Sahabatnya itu..ancam kalau kamu akan memberitahukannya." Viola mulai memperlihatkan ekspresi wajah licik.


Maziya pulang disambut kekhawatiran Nyonya Lidia. Tanpa basa basi lagi Azkan menarik tangan istrinya menuju kamar. Tuan Alam menahan Nyonya Lidia agar tidak ikut campur urusan rumah tangga mereka.


Tubuh Maziya dihempaskan ke ranjang.


"Kau tidak tahu seberapa lamanya Mama menunggu kau pulang. Mama khawatir."


"Tahu"


"Terus, hanya karena perdebatan kecil kau pergi, apa kau tidak memikirkan orang lain?"


"Bagaimana dengan Kak Azkan. Seenaknya motong uang bulanan yang super kecil, seenaknya ngatur begini, ngatur begitu. Lalu seenaknya lagi merubah posisiku tanpa persetujuan."


"Apa seorang CEO butuh persetujuan karyawan yang bahkan tidak tahu seberapa pentingnya tugasnya."


"Aku tahu, aku sampai begadang biar memenuhi semuanya. Biar aku tidak memberatkan yang lainnya, biar aku memenuhi kontrak."


"Dengan cara begadang biar gampang sakit. Kalau kau sakit maka semua sekretaris lainnya akan lebih tersiksa. Jadwal kau itu penting."


"Nggak peduli."


"Kalau kau tidak becus jadi asisten akan Kupecat."


"Kupecat!" ulang Azkan sekali lagi.


"Aku nggak mau jadi asisten"


"Kenapa?"


"Karena Kak Azkan cuma mau nyuruh-nyuruh aku kan. Intinya kalau ada yang salah uang bulanan dikurangi. Aku paham cara pikir Kak Azkan." tunjuk Maziya.


"Tentu saja. Kau punya otak rupanya." Azkan tak mengelak.


"Kenapa kita tidak hidup normal saja Kak Azkan."


"Normal yang bagaimana?"


"Suami Istri natural."


"Bagiku, Kau hanya harus mengganti semua uang yang kau pakai sembarangan dahulu. Aku bantu dengan cara yang benar, yakni bekerja."


"Haruskah kau mengungkit uang yang tidak seberapa itu?"


"Tidak seberapa kalau keluargaku memakainya. Keluarga Serziano. Bukan orang asing yang berpura-pura menyedihkan, bersikap palsu hanya demi simpati."


"Kau menikahiku untuk membuatku menebus semuanya?"


Azkan meremas dagu Maziya. "Sudah kubilang untuk menolak pernikahan. Kenapa kau bersikeras menerimanya?"


Maziya terdiam, mau seberapa kuatnya ia menyalahkan Azkan. Laki-laki itu selalu bisa menundukkannya.


"Aku bukanlah orang yang bisa dengan mudah melepaskan semuanya pada yang tidak berhak."


"Lalu bagaimana dengan Rasti. Kenapa kamu melepaskannya dengan mudah?. Sudah banyak usaha yang kamu lakukan Kak Azkan. Artinya kamu mengakui bahwa Randy sahabatmu boleh merebutnya?" Maziya melancarkan aksi yang sudah ia niatkan.


"Aku melepaskannya karena persahabatan kami"


"Kau hanya pengecut." Teriak Maziya.


"Jaga ucapanmu !"


"Kata apa lagi yang bisa menggambarkan seorang Pria yang sengaja bermain-main dengan perasaan para gadis hanya untuk pelipur lara agar dia tidak terlihat menyedihkan bagi orang yang tidak bisa didapatkannya. Kata untuk laki-laki yang tidak punya keberanian dan menyimpan perasaan diam-diam pada pacar sahabatnya."


Jlebbb, ucapan Maziya berhasil mendiamkan suaminya. Keadaan berbalik, kali ini dipimpin oleh Maziya.


Maziya segera masuk ruang perlengkapan dan mencari laci. Laci dimana Azkan menyimpan banyak hal yang berkaitan dengan Rasti. Namun nihil, tak ada apapun disana kecuali bukti pernikahan mereka.


"Padahal mau aku jadikan bukti."


Maziya menutup laci itu dengan perasaan sedih. Kalau tadi sempat ia menyinggung Rasti, mungkin dia akan lebih malu lagi. Azkan pasti mengatakan kalau dia terlalu banyak drama.


"Aku juga berusaha melupakannya. Jadi jangan coba-coba jadikan dia untuk mengancam ku!"


Kedatangan Azkan membuat Maziya terperanjat.


"Jadi kau tetap tidak mau jadi asisten?"


Maziya mengangguk "Mau"


Azkan mendekat dan menunduk ke telinganya "Aku tidak mempermainkan perasaan para gadis-gadis itu. Aku membayar mereka. Kalau kau mau, aku juga bisa membayar mu"


"Jangan samakan aku dengan mereka!" Maziya berteriak.


"Oh ya lalu 5 M yang kau minta?"


Dasar Lelaki yang hobi mengungkit berbagai hal. Selain kata-kata Kupecat, selalu ada uang dalam pembahasan kita. Ya baiklah 5 M, aku tahu Kak Azkan nggak akan mau mengeluarkan uang sebanyak itu. Mari kita buktikan.


Seolah menantang, Maziya menaikkan sebelah bibirnya "Kalau 5 M seperti di Kontrak aku mau. Ayo!. mulai dari mana nih"


Maziya memulai aksinya dengan membuka dua kancing teratas dari blous yang dipakainya. Meskipun dag Dig dug, dia tahu itu satu-satunya cara melawan Azkan.


Azkan mendekat dan menarik dua bagian yang terbuka akibat kancingnya lepas. Genggamannya erat hampir membuat Maziya merasa tercekik.


"Jangan terlalu percaya diri. Seperti yang kukatakan sebelumnya. Aku tidak tertarik dengan tubuhmu. Memikirkannya saja aku merasa sangat jijik, parasit sepertimu siapa yang menginginkannya?. 5 M jangan berani berharap!"


Kali ini Maziya yang dibuat terdiam. Kata-kata menyakitkan kembali menusuk kedalam telinganya.


Bersambung....