
Jullian justru tertawa mendengar perkataan Irene, istrinya tidak pernah marah padanya jadi saat marah begini, di mata Jullian, Irene sangat imut.
"Jadi kau cemburu pada Fiona?" goda Jullian.
Irene memutar bola matanya malas, bukankah sudah terlihat jelas?
"Apakah tidak ada wanita lain, kenapa harus Fiona?" tanya Irene yang masih tidak percaya dengan apa yang telah Fiona dan Jullian lakukan.
"Aku dari kecil suka mengganggu Fiona sampai dewasa juga seperti itu, ternyata Fiona mengartikan lain. Dia menaruh rasa padaku dan Fiona yang berani mengungkapkan perasaannya padaku. Awalnya aku pikir dia hanya bercanda jadi aku menerimanya sampai..."
Jullian menggelengkan kepalanya karena mengingat apa yang telah dia lewati bersama Fiona.
"Kau tidur dengan Fiona?" tanya Irene dengan mata berkaca-kaca.
Jullian jadi serba salah. "Itu hanya masa lalu sayang, aku memilihmu, sekarang kau adalah masa depanku!"
"Aku memang perusak hubungan Jullian, pantas saja Fiona sakit hati padaku!" seru Irene yang jadi merasa bersalah dengan Fiona.
Irene keluar dari bath up kemudian meraih bathrobe dan keluar dari kamar mandi. Irene menangis sejadi-jadinya.
"Oh God!" Jullian meraup wajahnya kasar. Seharusnya di hari pernikahannya dia bisa bermesraan dengan Irene bukan malah bertengkar.
Jullian kemudian menyusul Irene dan membujuk supaya istrinya tidak menangis lagi.
"Pikirkan bibit-bibit lobaknya sayang," ucap Jullian.
"Aku akan membeli es krim jadi tunggulah!"
Jullian beranjak keluar dari kamarnya, dia ingin membeli es krim supaya suasana hati Irene membaik.
Tapi saat melewati sebuah bar di hotel, dia melihat Fiona yang mabuk-mabukkan bahkan ada beberapa pria yang mengincar gadis itu.
"Minggir, Dude!" seru Jullian saat melihat ada pria yang mencoba mendekati Fiona.
Fiona yang masih setengah sadar melihat Jullian datang, gadis itu senang bukan main.
"Fiona! Apa yang kau lakukan!?" Jullian buru-buru menyingkirkan tangan Fiona kemudian memapah gadis itu menuju kamar Fiona. "Setidaknya jaga nama baik keluargamu!"
Fiona hanya tertawa mendengar itu. "Aku sangat hancur, Jullian!"
Mereka memasuki sebuah lift karena kamar Fiona berada di lantai atas. Tapi saat berada di dalam lift, Fiona dengan berani menyerang Jullian.
Fiona mencium bibir Jullian kemudian mencumbu leher lelaki itu. "Aku merindukanmu sayang, ayo kita habiskan malam ini berdua!"
"Fiona!" lagi-lagi Jullian berteriak karena tindakan Fiona di luar batas. "Hubungan kita sudah berakhir!"
"Aku sudah menjadi suami Irene!"
Seketika tangis Fiona pecah, dia sudah kalah.
"Kau pengecut Jullian! Kau tidak mau memperjuangkan hubungan kita karena takut keluarga kita tidak ada yang setuju! Aku membencimu!"
Fiona terus menangis sampai lift terbuka, buru-buru Jullian membawa gadis itu ke kamarnya.
"Jangan berkeliaran lagi! Ini terakhir kali aku membantumu!" ucap Jullian sambil berlalu pergi.
Fiona memandangi punggung Jullian yang semakin menjauhinya. Gadis itu semakin frustasi. Dia tidak mau tidur di hotel lebih baik dia pulang saja.
Hari itu, Fiona mengendarai mobilnya sendiri dengan keadaan mabuk. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Bunyi klakson mobil terdengar saat Fiona menerobos lampu merah dan terjadilah kecelakaan di mana mobil Fiona menabrak sebuah truk besar.
"Sakit..." Fiona merintih kesakitan. Dia tahu ajalnya akan tiba untuk itu dia membuat sebuah permohonan. "Beri aku kesempatan hidup untuk kedua kalinya!"
Di detik itu juga Fiona menghembuskan nafas terakhirnya.
...*****...
Di timeline ini memang Fiona meninggoy ya tapi dia bakal mengulang waktu.