
Keiner jadi bingung sendiri, Juvel ingin jadi peternak sapi atau ingin bayinya?
Keiner menganggap Juvel saat ini labil karena hormon kehamilan, untuk itu Keiner tidak terlalu menganggap serius perkataan Juvel sebelumnya.
"Apa menu makan malam di sini, aku ingin yang terbaik untuk bayiku. Lebih baik kita menginap semalam saja karena vitamin dan susu hamil ada di mansion," ucap Keiner dengan mengusap rambut Juvel.
"Aku ingin membersihkan diri dulu!" Keiner berlalu masuk ke kamar mandi.
Juvel rasanya ingin berteriak sekeras mungkin, itulah Keiner yang tidak peka. Wanita mana yang tidak terbawa perasaaan saat diberi perhatian lebih apalagi Keiner akhir-akhir ini begitu intim saat belajar kontak fisik.
"Dia begitu hanya untuk bayinya, Juvel. Ingat itu!"
"Tunggu... tunggu... ini juga bayiku!"
Juvel bermonolog dengan dirinya sendiri. Sebenarnya Juvel juga bingung atas apa yang dia rasakan. Lebih baik dia menemui Jullian.
Juvel keluar dari kamarnya dan mencari Jullian yang berada di ruang latihan.
Di ruang latihan, Jullian tampak sedang memukuli samsak karena dia juga kesal dengan Irene yang tidak peka.
"Kau kenapa?" tegur Juvel yang membuat atensi Jullian teralihkan.
Jullian berhenti memukul samsak, dia segera mengambil handuk kecil untuk mengelap tubuhnya yang banjir keringat.
"Apa calon suamimu baik-baik saja?" tanya Jullian kemudian.
"Entahlah!" ketus Juvel yang membuat Jullian mengerutkan dahinya dalam.
"Ada apa lagi?" Jullian ikut duduk di samping Juvel kemudian gadis itu menyenderkan kepalanya di pundak kakaknya.
"Sepertinya aku menyukai Keiner!" ungkap Juvel.
Jullian tentu sangat kaget mendengarnya. "Apa aku tidak salah dengar? tuan sombong itu?"
"Dia tidak seburuk itu, mungkin kasih sayang yang dia tujukan pada bayinya membuatku salah mengartikan," sahut Juvel membela Keiner.
Jullian tidak heran karena Juvel memang mempunyai sisi lembut itu.
"Aku sudah mencoba berbicara pada Keiner tapi dia justru menganggapku bercanda!" keluh Juvel.
"Sebelumnya kau begitu bersemangat jadi peternak sapi setelah itu kau menginginkan bayi, tentu saja dia menganggapmu bercanda!" Jullian mengungkapkan pendapatnya kemudian dia tergelak. "Jadi adikku sudah merasakan jatuh cinta?"
"Ish, bukankah kau juga sama? Kau jatuh cinta pada Irene, 'kan?" Juvel tidak mau kalah.
"Entahlah, tapi aku tidak bisa jauh dari gadis mungil itu. Aku ingin melindunginya dan aku sangat ingin menidurinya!" ungkap Jullian dengan gamblang.
"Tapi aku takut tubuhnya yang mungil itu tidak bisa menampung lobakku!"
Juvel langsung memukul Jullian karena berbicara mesum.
"Jangan mengajari Irene hal buruk!"
Juvel lalu berkata dengan serius. "Jullian, aku rasa hadirnya bayi dalam rahimku bukan suatu kesalahan tapi sebuah pertanda!"
"Pertanda apa?"
"Pertanda hilangnya kembar simpatik kita, ini teguran dan Tuhan memberikan titipan untuk kita!"
"Aku tidak mengerti!"
"Kita harus menjaga bayi ini, kita berbuat kebaikan yang bisa menghapus kejahatan yang telah kita perbuat selama ini. Aku rasa setelah melahirkan, simpatik itu akan hilang!"
Jullian langsung mendorong kepala Juvel. "Kau terlalu banyak berkhayal dan memikirkan teori-teorimu itu!"
"Selama ini hasil pengamatanku jarang melenceng, bukan? Jadi bantu aku untuk mendapatkan hati Keiner!" pinta Juvel dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Aku juga akan membantumu mendapatkan hati Irene jadi kita sama-sama untung!" Juvel terus membujuk Jullian.