The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
TBM BAB 85 - Memulai Pertunjukan



Sebelumnya Irene membawa tim The Ghost untuk menyelinap masuk ke markas The Green Hornet melalui jalan rahasia yang sudah dia ketahui.


Saat mereka sampai, Irene yang diantar Jullian akan memasuki markas untuk mengincar Ronan duluan.


"Berhati-hatilah," ucap Jullian sebelum Irene masuk, lelaki itu mengelus rambut Irene. Dia tidak menyangka jika gadis yang suka bermain dengan lobaknya itu akan menjadi peran penting dalam misi.


"Aku sudah terbiasa menyelinap di markas Ronan, saat aku belajar diam-diam bersama Dozer," ucap Irene yang jadi teringat Dozer, gadis itu jadi emosional, dia harus bisa menjalankan misi dengan baik.


Jullian kemudian mencium Irene sebelum masuk, dia berharap penyamaran Irene berhasil dan tidak dicurigai.


"Lepaskan, Jullian!" teriak Juvel dari balik chip yang mengawasi keduanya dari kejauhan.


Jullian melepas ciumannya yang membuat Irene masuk ke dalam markas.


Dengan hati-hati, Irene masuk ke kamar Ronan saat lelaki itu tengah menyusun rencana bersama para anak buahnya. Irene bersembunyi di kamar Ronan dan menunggu waktu yang tepat untuk muncul.


Tak lama kemudian, Ronan masuk ke dalam kamar dengan minum-minum. Irene mendengar jika lelaki itu memanggil namanya dan kesempatan itu Irene pakai untuk menjalankan rencananya.


Irene berdiri dibalkon kamar Ronan dan mulai menangis.


Saat Ronan mendekat, Irene mulai melakukan aksinya. Di dalam hati Irene sebenarnya menahan tawa saat Ronan mengompol. Lelaki itu memang pernah bercerita jika dia takut dengan hantu. Dan Irene memanfaatkan hal itu.


"Puffftt..." akhirnya Irene tidak tahan juga, dia cekikikan saat Ronan keluar dari kamarnya. Kemudian Irene memberi laporan melalui chip yang dia pakai. "Tahap pertama berhasil!"


Ronan keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan para anak buahnya tapi lampu di markas tiba-tiba mati nyala sendiri yang membuat suasana menjadi mencekam. Tentu itu adalah ulah Neil dan Zack yang menyelinap di ruang listrik markas.


"Apa lagi ini? Dylan..." Ronan lari tergopoh dan mendatangi anak buahnya.


Neil dan Zack kemudian melakukan tahap selanjutnya mereka membuat markas The Green Hornet penuh dengan kepulan asap.


Sebelum keluar dari markas, Neil dan Zack memasang bom yang sudah di atur waktunya.


Di sisi lain, Juvel dan Keiner mengendap masuk dan mencari Chade berada.


"Kau seharusnya tidak ikut, Babe," ucap Keiner yang khawatir dengan kondisi kehamilan Juvel.


"Aku tidak apa-apa, aku harus memastikan Chade baik-baik saja. Setelah ini kita harus merawatnya," sahut Juvel yang membuat Keiner mendengus kasar.


"Kau tidak masalah? Anak itu adalah anak Clara jadi suatu hari kita pasti akan bersinggungan dengan wanita rubah itu!" ungkap Keiner yang selalu memperhitungkan semuanya.


Juvel tersenyum menatap suaminya dan mengelus pipi lelaki itu. "Aku percaya padamu, Babe. Lagi pula kalau kau macam-macam, aku akan memotong nuklirmu itu dan menjadikannya daging kemasan!"


"Oh Juvel! Kau tidak akan bisa menghilangkan jiwa mafia mu itu!" Keiner justru terkekeh mendengar ancaman yang dilontarkan padanya.


Karena Sheria pernah tinggal di markas Ronan jadi dia tahu di mana letak kamar Chade, beruntung Ronan tidak peduli saat Sheria tiba-tiba menghilang dari markasnya.


"Masuk ke lorong sebelah kiri," ucap Sheria memberi instruksi.


Juvel dan Keiner masuk ke lorong sebelah kiri dan menemukan kamar Chade. Saat masuk mereka melihat Chade yang tertidur.


"Aku akan menggendongnya," ucap Keiner yang dengan perlahan mengangkat tubuh anak itu.


"Kabut asap pasti sudah menyebar dan sebentar lagi bom pasti meledak, kita harus cepat pergi!" sahut Juvel yang merasa lega Chade sudah aman, dia tidak akan dihantui rasa bersalah lagi seperti dulu.


Keiner tersenyum smirk dan mengaktifkan chipnya yang didengar oleh semua tim.


"Ayo kita lakukan pertunjukan utama!" ucapnya.