
Keiner dan Juvel berciuman dan saling membalas sampai rintik air hujan turun yang membuat Keiner melepas ciuman mereka duluan.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam, seperti katamu akan turun hujan," ucap Keiner kemudian.
"Kita main hujan saja," sahut Juvel yang masih ingin bercumbu dengan Keiner di tempat itu.
"Tidak boleh, kau bisa sakit dan membahayakan bayiku nanti," tolak Keiner yang selalu mementingkan bayinya di atas segalanya.
"Daya tahan tubuhku kuat." Juvel yang keras kepala tetap memaksa. Gadis itu berdiri dan mengulurkan satu tangannya pada Keiner. "Ayo kita menari di bawah guyuran hujan!" ajaknya.
Karena Keiner tidak merespon, Juvel menarik tangan lelaki itu begitu saja.
Hujan turun mulai deras dan Juvel mulai menari kesenangan, Keiner hanya terdiam bagai patung yang membuat Juvel berinisiatif untuk menggoda pria itu.
Bajunya yang basah memperlihatkan lekuk tubuhnya kemudian Juvel menari dengan gaya erotis dan menjadikan Keiner seolah tiang pole dance. Dia berlenggak-lenggok dengan menempel pada tubuh Keiner.
Keiner yang mendapat perlakuan seperti itu mulai menggerakkan tubuh dan tangannya. Mereka berdua menari dengan begitu erotis malam itu di guyuran hujan.
Sampai Juvel mulai merasa badannya panas karena bibir Keiner yang mulai menyusuri lehernya.
"Aku rasa cukup," ucap Keiner yang merasa mereka berdua sudah cukup bermain hujan.
Keiner menggendong Juvel ala bridal untuk masuk ke dalam kamar mereka.
Di dalam kamar, Juvel dan Keiner bergantian membersihkan diri.
Saat giliran Keiner, Juvel yang sebelumnya sudah selesai duluan, buru-buru membuka bathrobe yang dia pakai dan masuk ke dalam selimut di atas ranjang.
Juvel tidak sabar menunggu Keiner keluar dari kamar mandi.
Klek!
Pintu terbuka, Juvel mulai berakting.
"Ugh! Setelah hamil sepertinya daya tahan tubuhku tidak seperti dulu. Hachim... Hachim..." Juvel bersin-bersin yang membuat Keiner panik.
"Apa aku bilang, 'kan? Kita harus ke rumah sakit sekarang!" Keiner berusaha mencari ponselnya untuk menghubungi Lucas.
"Tidak perlu, obatnya hanya pelukan!" Juvel merentangkan satu tangannya. "Kemarilah dan buka bathrobemu!"
"Apa?"
"Kau harus menghangatkan tubuhku dengan tubuhmu bahasa kerennya skin to skin!"
"Peluk aku!" pinta Juvel saat Keiner sudah naik ke atas ranjang.
Keiner masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh Juvel yang memang dingin.
"Sangat nyaman," gumam Juvel merasakan kehangatan tubuh Keiner.
Kulit bersentuhan kulit, mereka berdua tidur seperti itu malam ini.
*****
Di sisi lain, Rena ibu dari Clara dan Chloe tampak gusar dengan kedua putrinya karena mereka semua selalu gagal mendapatkan pasangan kaya.
Terutama dia marah pada Clara yang tertipu oleh Harold.
"Kalau begini terus, kita bisa miskin! Apa kalian mau hidup seperti dulu? Sebelum aku bertemu dengan ayah Irene?" tanyanya.
"Tenang, Mom. Aku sedang mencari cara supaya Chade mendapat harta dari Keiner," sahut Clara berusaha menenangkan Rena.
"Bukankah calon istri Keiner tengah hamil? Sepertinya Chade memang tidak mempunyai kesempatan," timpal Chloe.
Rena mulai memikirkan rencana untuk menyingkirkan bayi yang dikandung Juvel.
"Kita harus bisa membuat istri Keiner keguguran dan kita harus membuatnya tidak bisa hamil lagi," ucapnya jahat sekali.
Samar-samar Chade mendengar itu, Chade mengintip pembicaraan mereka. Awalnya dia mencari Clara karena perutnya yang terasa lapar.
Otak kecilnya menangkap sebagian kecil dari rencana mereka, yang dia tahu Keiner dalam bahaya.
"Apa aku harus memberitahu kakak? Tapi bagaimana kalau lidahku dipotong?" gumam Chade yang mengingat ancaman Keiner.
*
*
*
*
*
Lagi repot mendekati lebaran ya guys jadi up nya gak teratur. Tapi diusahakan tiap hari up kok tapi up nya satu-satu.😅