The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
TBM BAB 52 - Kabar Mengejutkan



Akhirnya serangan nuklir tertunda, Juvel dan Keiner segera membersihkan diri mereka.


Juvel yang sudah terbiasa dengan luka ditubuhnya menganggap luka di lengannya adalah luka kecil tapi tidak untuk Keiner yang mengganggap itu sesuatu yang besar.


"Sebaiknya kita harus mengaktifkan ponsel kita," ucap Keiner.


Juvel dan Keiner memang sepakat mematikan ponsel mereka karena tidak mau ada pengganggu.


"Aku akan menghubungi Jullian untuk memastikan!" Juvel yang sudah memegang ponselnya langsung mengaktifkan ponsel itu dan begitu menyala, Juvel segera mendial nomor Jullian.


Jullian sebelumnya sudah beberapa kali mencoba menghubungi Juvel tapi nomor ponsel adiknya itu tidak aktif. Dan seperti pucuk dicinta ulam pun tiba, tak lama Juvel sendiri yang menghubunginya.


"Juvel! Kenapa baru aktif sekarang!?" Jullian langsung marah pada adiknya. "Apa kau baik-baik saja?"


"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang sedang kau lakukan?"


"Jadi lenganmu juga terluka?"


"Um, seperti biasa!"


Jullian mendesaah panjang di ujung telpon ternyata kembar simpatik mereka memang belum hilang.


"Aku tidak merasa mual jadi aku pikir simpatik kita menghilang," ungkap Jullian.


"Jadi kau melukai lenganmu sendiri? Kau gila, Jullian!?" kesal Juvel yang harus merasa sakit hanya karena keisengan saudaranya.


"Aku rasa hilangnya secara perlahan-lahan," tambah Jullian lagi.


"I think so..." Juvel tidak bisa berkata-kata lagi. "Apa kau akan ikut misi musim dingin?"


"Kau pikir daddy akan membiarkan aku tinggal!" sahut Jullian.


"Hati-hatilah, Jullian! Saat kau terluka, aku juga akan terluka!" ucap Juvel memberi peringatan.


Setelah saudara kembar itu menyelesaikan pembicaraan mereka. Keiner tiba-tiba meminta Juvel berganti baju untuk bersiap-siap kembali.


"Bukankah masih ada beberapa hari lagi?" tanya Juvel keheranan.


Keiner mendekati Juvel lalu mencoba berbicara dengan istrinya, dia sudah membuat keputusan.


"Bisakah Jullian tinggal bersama kita sampai kau melahirkan, Babe? Aku harus memastikan kondisi bayiku sehat dan aman," ucap Keiner yang membuat Juvel menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Musim dingin?" tanya Keiner sambil menghitung usia kehamilan istrinya. "Bukankah saat itu usia kandunganmu memasuki usia 7 bulan?"


"Kalau sekarang sudah memasuki usia 2 bulan, ya itu benar," sahut Juvel.


"Astaga! Itu sangat berbahaya! Memangnya misi apa itu? Aku bisa memberi uang yang banyak kalau tujuannya materi!"


"Tujuannya bukan hanya materi tapi nama klan kita akan dijunjung tinggi saat klan itu mempunyai daerah kekuasaan yang luas!"


"Dengan pertumpahan darah? Kenapa kalian harus menjalani hidup seperti itu?"


Juvel membuang wajahnya karena malu pada suaminya. Dia tidak lebih dari seorang penjahat.


"Itulah kenapa sangat melelahkan!" lirih Juvel.


Keiner yang sadar jika telah membuat suasana hati istrinya memburuk, segera memeluk Juvel.


"Maafkan aku, aku hanya mencemaskan bayiku!" ucap Keiner kemudian.


"Aku juga mencemaskannya, Keiner. Lagi pula Jullian dan Irene bersama Chade sekarang, kau pasti tidak mau kalau Chade berada di dekatmu!" ungkap Juvel yang memberitahu mengenai keberadaan adik tiri Keiner.


"Kenapa setan kecil itu bisa bersama kalian?" tanya Keiner jadi gusar.


Juvel menghembuskan nafasnya kasar sebelum bertanya hal yang sensitif pada suaminya. "Babe, apa kau yakin jika Chade adalah anak kandung dari ayahmu?"


"Aku tidak pernah menganggap Chade adikku karena aku tahu jika bocah itu bukan anak kandung dari ayahku!" jelas Keiner yang sudah melakukan tes DNA terlebih dahulu.


"Apa ayahmu tahu tentang ini?" tanya Juvel lagi.


"Aku tidak pernah memberitahunya karena aku melihat jika ayahku begitu menyayangi bocah itu!" jawab Keiner yang masih memikirkan perasaan Harold.


Sedetik kemudian ponsel Keiner berbunyi, ada panggilan masuk dari Lucas. Keiner buru-buru menerima panggilan itu.


"Hallo, Tuan?"


"Ada apa Lucas?"


"Tuan Harold meninggal dunia!"


"A--apa!?"