
Pagi hari saat Keiner membuka matanya, hal yang pertama dilihatnya adalah Juvel yang tertidur pulas di dadanya. Mereka masih dalam keadaan tanpa busana.
Keiner mencoba membangunkan Juvel tapi gadis itu justru mengeratkan pelukannya. Bahkan buah dada gadis itu menggesek tubuhnya.
Padahal sudah semalaman Keiner menahan diri tapi pagi hari Juvel sudah menggodanya lagi.
Tapi walaupun begitu semenjak ada Juvel, Keiner bisa tertidur pulas.
"Juvel, bangunlah... aku harus bekerja, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum cuti!" Keiner terus berusaha membangunkan gadis itu.
Karena Juvel tidak juga bangun, Keiner mencoba menggoda gadis itu. Keiner menunduk dan menciumi pundak Juvel, dia berharap Juvel akan terganggu.
Juvel yang sudah terbangun malah memanfaatkan keadaan, dia menggeliat dan mencoba memberi akses Keiner untuk menyesap buah dadanya.
"Akh.... dia benar-benar melakukannya!" batin Juvel yang merasa Keiner bermain di pucuk buah dadanya. Otomatis Juvel langsung membuka matanya.
Pagi yang panas untuk pasangan calon suami istri itu.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar Juvel diketuk yang mana membuat Keiner langsung mendudukkan diri. Begitu juga dengan Juvel yang langsung mengambil bathrobe yang tergelatak di lantai.
"Biar aku yang membuka pintu," ucap Juvel sambil berlalu ke arah pintu.
Di depan pintu sudah ada Gwen yang membawa satu set pakaian jas milik Trevor, dia yang paham Keiner akan bekerja mempersiapkan semuanya.
"Mom?"
"Ck! Kau ini, mau menikah tapi bangun siang. Seharusnya bangun pagi-pagi dan menyiapkan kebutuhan suamimu!"
Juvel hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Suruh Keiner bersiap-siap, setelah itu sarapan. Dan Zack menunggu di parkiran!" ucap Gwen sambil memberikan baju yang ada di tangannya. "Kau juga bersiap-siaplah, kita harus fitting baju pernikahan!"
"Secepat itu?" tanya Juvel.
"Jadi mau menunggu ssmpai perutmu membesar?"
"Bukan begitu tapi Keiner sudah mengatur semuanya."
"Untuk pernikahan putriku, aku juga ingin ikut andil!"
Juvel tersenyum mendengarnya, dia selalu suka sifat keibuan Gwen.
"Baiklah. Thanks, Mom."
Juvel masuk ke kamar tapi rupanya Keiner sudah berada di kamar mandi.
Beberapa menit berlalu, Keiner keluar dan mendapati Juvel yang membawa setelan jas untuknya.
"Daddy ku juga pemilih, aku rasa seleranya cocok denganmu!"
"Itu karena tidak punya pilihan lagi!"
"Kata mommy, baju pengantin akan menjadi urusannya," ucap Juvel kemudian.
"Mungkin akan lebih baik jika mommy mu konfirmasi dengan Lucas, aku akan memberikan nomor ponsel asistenku!" jawab Keiner yang sudah lengkap memakai bajunya.
Juvel mendekat dan mencoba memasangkan dasi untuk calon suaminya.
"Aku tidak pandai memasang dasi tapi kedepannya aku akan belajar," ucap Juvel yang merasa kewalahan karena tidak bisa memasang dasi.
Keiner terkekeh melihat itu, dia mencoba mengajari Juvel sampai gadis itu berhasil memasang dasi untuknya.
"Huh! Akhirnya jadi juga." Juvel menyeka keringat yang keluar dari pelipisnya.
Juvel kemudian mengadah untuk menatap Keiner yang jauh lebih tinggi darinya.
"Kau semakin tampan," ucapnya.
"Ternyata matamu memang normal," sahut Keiner dengan membenahi rambutnya.
Kemudian Juvel mengambil parfumnya dan menyemprotkannya pada tubuh Keiner.
"Supaya kau selalu mengingatku saat di kantor," ucap Juvel dengan percaya diri.
"Oh iya?" Keiner mengusap rambut Juvel. "Setelah fitting baju, kembalilah ke mansion karena kau melewatkan vitamin dan susu hamilmu dari kemarin!"
"Bayiku paling utama!"
Juvel memutar bola matanya malas karena Keiner yang terus lebih perhatian dengan bayinya daripada dirinya.
"Berarti jalan lahir bayi juga penting dan paling utama, 'kan?" pancing Juvel, dia akan memikat Keiner dengan tubuhnya.
Keiner menyeringai, dia menarik pinggang Juvel supaya lebih dekat dengannya.
"Kau pikir aku polos, aku hanya menahan diri, Nona Mafia. Saat kau merasakan serangan nuklirku, aku yakin mulutmu tidak akan berhenti menganga!"
Glek!
Juvel jadi merinding.
*
*
*
*
*
Mereka akan banyak uwunya sampai serangan nuklir tiba jadi kalo bisa bacanya habis buka puasa atau pas sahur ya guys🤣