
Sepandai-pandainya tupai melompat pada akhirnya pasti akan jatuh juga, mungkin itu peribahasa yang menggambarkan keadaan Dozer sekarang.
Dozer tertangkap di kubu musuh dan sekarang terpaksa mengabdi pada mereka karena nyawa istri dan anaknya jadi taruhan.
Ya, Dozer lah pengkhianat yang sekarang berada di pihak The Green Hornet.
Saat tahu Dylan membawa Irene, Dozer ingin menemui gadis itu. Karena dia tahu pasti Irene akan menjadi kelemahan Jullian.
Dozer datang ke ruangan Irene disekap dengan membawa nampan makanan.
"Dozer?" panggil Irene.
Untunglah Irene mengingatnya, walaupun mereka tidak pernah berbicara satu sama lain tapi mereka cukup sering bertemu saat di markas utama.
"Makanlah!" Dozer meminta Irene untuk makan.
"Bagaimana cara makannya?" keluh Irene yang tangan dan kakinya terikat.
"Aku tidak bisa melepasnya jadi makanlah langsung menggunakan mulutmu!" Dozer menaruh nampan makanan ke paha Irene.
Mata Irene terbuka lebar, bagaimana mungkin dia makan langsung dari mulutnya, itu artinya dia sama seperti binatang.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Irene yang tidak percaya jika Dozer akan melakukan hal ini padanya.
"Irene, kau harus melawan rasa takutmu! Kau harus berani karena kau hanya akan menjadi kelemahan Jullian!" ucap Dozer memberi peringatan.
"Aku tidak berarti apa-apa untuk Jullian!" lirih Irene yang masih menganggap jika Jullian berkencan dengan Chloe.
"Baguslah, berarti kau hanya seorang pelayan yang tidak berarti!" Dozer kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan Irene disekap, sekarang dia membaca situasi, Dozer harus bisa membawa Irene kabur dengan anak dan istrinya.
Dozer diam-diam mengintip apa yang dilakukan Dylan yang saat ini bersama anak kecil.
"Apa itu anaknya?" tanya Dozer dalam hatinya, dia mungkin bisa memanfaatkan anak itu juga.
Chade kebingungan saat Dylan memintanya memanggil daddy. Bukankah daddy nya adalah Harold?
"Tidak, daddy mu hanya aku!" Dylan terus berusaha meyakinkan Chade.
"Kalau aku memanggilmu daddy, apa kau akan melepas kak Irene?" tanya Chade kemudian.
"Gadis kecil itu? Dia akan menjadi pelayan di sini!" ungkap Dylan karena tahu jika Irene hanya seorang pelayan sebelumnya.
Dylan kemudian membawa Chade untuk pergi menemui Clara, mereka sudah membuat janji untuk bertemu di salah satu taman bermain.
Saat sampai di taman itu, bukannya kesenangan bertemu ibunya tapi Chade justru berlindung pada Dylan.
"Apa yang kau lakukan padanya? Ternyata informasi yang aku dengar itu benar adanya, kau suka menyiksa anakku!" geram Dylan pada Clara.
"Aku tidak melakukan apapun padanya," elak Clara, dia berjongkok dan merentangkan kedua tangannya pada Chade. "Maafkan mommy, mommy tidak akan memarahi Chade lagi!"
Chade mengendorkan pegangan tangannya pada Dylan dan menatap Clara yang tersenyum padanya. Walaupun Clara suka menyiksanya tapi bocah yang masih polos itu tetap saja dengan mudah memaafkan Clara.
"Mommy!" Chade berlari dan memeluk Clara di sana.
Chade menangis kemudian menunjuk Dylan. "Katanya paman itu adalah daddy ku juga!"
"Paman itu memang daddy mu, Chade. Daddy Harold sudah meninggal!" ungkap Clara supaya Chade tidak menanyakan keberadaan Harold.
Chade tentu saja syok mendengarnya, dia semakin menangis menjadi-jadi.
Setelah cukup menangis Chade akhirnya tertidur karena kelelahan. Bocah itu tidur dipelukan Clara.
"Sekarang bagaimana?" tanya Clara.
"Kau akan tinggal di apartemen," jawab Dylan yang mengambil alih gendongan Clara, kini Chade ada dipelukannya.
"Apa aku boleh membawa ibuku? Dia sendirian, adikku Chloe menghilang, aku yakin Jullian yang menyembunyikannya!" ungkap Clara.
Dylan menyeringai. "Kita bisa melakukan pertukaran, kebetulan aku menangkap gadis pelayan peliharaan Jullian!"