
Clara dan Chade kembali ke kediaman Harold karena mereka harus menghadiri upacara pernikahan Keiner dan Juvel.
Mereka harus tampak seperti keluarga bahagia di mata Keiner. Dan Clara membenci hal itu.
"Dasar tua bangka! Aku berharap kau cepat mati!" gumam Clara saat dia membuka paket kiriman dari Keiner. .
Paket itu berisi gaun dan setelan jas untuk Clara, Harold dan Chade pakai saat pesta pernikahan Keiner nanti.
"Mom..." Chade mendatangi Clara dengan membawa susu kotak pemberian Chloe, bocah itu ingin meminumnya tapi kesulitan saat menusuk lubang sedotan. "Sedotannya tidak mau masuk lubangnya."
"Kau ini mengganggu saja!" Clara merebut kotak susu dari tangan Chade kemudian menusuk sedotan ke lubangnya tapi karena Clara terlalu terburu-buru, kotak susunya malah jatuh ke dalam paket. Alhasil, air susu tumpah mengenai gaun Clara.
"Gaunku....," seru Clara histeris.
Clara langsung melotot tajam pada Chade kemudian dia menampar pipi bocah itu. Tubuh kecilnya limbung dan jatuh ke lantai.
"Huaaa... " Chade hanya bisa menangis sambil memegangi pipinya yang terasa panas bahkan ada darah keluar dari sudut bibir kecilnya.
Harold yang mendengar tangisan Chade, buru-buru mendatangi putra kecilnya.
"Clara, apa yang kau lakukan pada Chade?" Harold membantu Chade bangun dan langsung memeluknya.
"Dia sudah merusak gaunku!" Clara memperlihatkan gaunnya yang terkena air susu.
"Astaga, kau bisa mencucinya bukan? Kenapa kau malah memukul Chade? Kau sangat keterlaluan!" Harold kemudian membawa Chade pergi.
*****
Hari H pernikahan Keiner dan Juvel, semua anggota keluarga berkumpul di salah satu hotel mewah dan menempati kamar VVIP di hotel tersebut.
Pesta pernikahan akan diadakan di ballroom hotel itu.
Sama dengan Keiner dan Juvel yang tidak bertemu selama beberapa hari ini, Jullian dan Irene juga berpisah karena Gwen yang membawa Irene bersamanya.
Jullian saat ini tengah mondar-mandir bingung caranya bertemu Irene. Sementara dia terus merasa mual, dia ingin bersama Irene seperti biasa.
"Anda sangat imut jadi hanya perlu memakai riasan tipis saja," ucap MUA itu.
Irene hanya mengulum senyumnya karena dia memang jarang menggunakan make up. Selama ini kecantikan Irene memang alami.
"Apa aku boleh ke toilet sebentar? Aku ingin buang air kecil." Irene sudah menahannya sedari tadi.
"Silahkan!"
Irene yang hanya memakai bathrobe keluar dari ruangan yang dipakai untuk merias dan berusaha mencari toilet.
Dan kesempatan itu digunakan Jullian untuk menerkam gadis mungilnya.
"Kena kau!" Jullian langsung mengangkat tubuh Irene.
"Jullian! Kau membuatku kaget!" teriak Irene yang jantungnya langsung berdebar kencang.
"Lepaskan aku! Aku ingin mencari toilet!"
"Di kamarku ada toilet!"
Jullian membawa Irene ke kamarnya, saat sampai buru-buru Irene ke kamar mandi dan menuntaskan hajatnya.
"Akhirnya," gumam Irene merasa lega.
Irene bergegas keluar dari kamar mandi saat selesai, dia ingin kembali ke ruangan rias. Tapi di depan pintu kamar mandi, Jullian sudah menghadangnya.
"Mau kemana?" tanya Jullian.
"Tentu saja kembali ke ruangan rias, aku belum selesai di make up!" jawab Irene yang ingin cepat pergi tapi tubuhnya justru diangkat oleh Jullian.
Jullian membanting tubuh Irene ke atas ranjang kemudian dia membuka bajunya yang mana membuat Irene panik.
"Jullian, apa sekarang waktunya menanam lobak?" tanya Irene takut.