
Juvel bergerak pelan di atas tubuh suaminya sementara Keiner menikmati permainan istrinya.
"Keiner..." Juvel ambruk dan memeluk Keiner yang membuat lelaki itu bertukar posisi. Dia tahu istrinya lelah.
"Sekarang giliranku, Babe." Keiner bersiap menggoyang Juvel dari atas.
Suara erangan memenuhi kamar yang menandakan percintaan mereka malam ini begitu panas.
"Argh! Sebentar lagi..." Keiner semakin mempercepat gerakannya dan pada saat itu pintu kamarnya diketuk.
"Ck! Siapa itu!?" kesal Keiner karena konsentrasinya langsung buyar.
"Sepertinya penting, Babe." Juvel menjauhkan dirinya dan segera memungut jubah tidurnya. Dia segera membuka pintu dan ternyata kepala pelayan yang mengetuk pintu.
"Tuan Jullian mencari anda, Nyonya," ucapnya.
"Jullian? Kenapa dia selalu datang ditengah malam? bukankah itu mengganggu?" Juvel jadi kesal sendiri.
Juvel segera turun untuk menemui Jullian yang menunggunya di ruang tamu.
"Juvel!" panggil Jullian dengan mata berbinar saat melihat adiknya.
"Kau harus membuang kebiasaan burukmu seperti ini, Jullian. Kau menggangguku dengan Keiner!" kesal Juvel sambil mendudukkan diri di samping kakaknya.
Jullian menulikan telinganya, dia malah memeluk Juvel sambil berkata. "Irene tidak mau main lobak lagi!"
"What? kau menggangguku hanya untuk itu?" Juvel semakin gusar.
Jullian menggeleng. "Sepertinya bayangan Fiona akan terus menghantui rumah tanggaku dengan Irene!"
"Huft! Aku sudah memperingatimu dari dulu untuk menjauhi Fiona!"
"Aku merasa menjadi penyebab kematian Fiona!"
"Hei, kau bicara apa? Fiona meninggal bukan karena kau atau Irene!"
"Kau sudah banyak belajar, Jullian. Dan aku yakin Irene akan memaafkanmu tapi semua butuh waktu!"
"Aku menyayangi Irene dan bayi-bayi wuba kami," ucap Jullian dengan tulus.
"Maka berjuanglah untuk mereka, aku yakin kau bisa!" Juvel menepuk pundak kakaknya.
"Sebenarnya selain itu, aku juga butuh bantuan Keiner! Aku membutuhkan modal yang besar untuk pembukaan kafe karena aku akan membuat kafe terbesar dan termewah di kota!" ucap Jullian menggebu-gebu.
Juvel memijit pelipisnya. "Keiner sedang membantu pembangunan ternak sapi dan sekarang kau..."
"Keiner akan bangkrut!"
"Uang Keiner itu tidak akan habis sampai Ares punya cucu nanti!" Jullian memprovokasi.
"Kau bisa mulai dari hal kecil dulu Jullian, kau harus ikut kelas barista! Kemudian kelas memasak! Kau harus tahu mau menjual apa di kafemu, kau jangan langsung membayangkan bisnis itu berkembang pesat. Semua berawal dari dasar!" Juvel mencoba memberi pengertian.
Jullian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, benar juga, dia terlalu terburu-buru.
"Aku akan merancang dan membuat presentasi bisnisku!" ucap Jullian dengan berdiri, dia langsung pamit dan pergi begitu saja.
Saat Jullian sudah pergi, Juvel kembali ke kamarnya. Dia pikir Keiner sudah tidur ternyata suaminya itu masih membuka mata.
"Kenapa belum tidur?" tanya Juvel kemudian.
"Aku baru menyusui baby Ares," jawab Keiner yang langsung membuka jubahnya. "Ayo kita lanjutkan tadi, Babe!"
"Tapi aku lelah, ingin tidur!" tolak Juvel yang kehilangan gairahnya.
Keiner tidak menyerah, dia terus mengganggu Juvel dengan menciumi pundak istrinya itu kemudian *******-***** sumber makanan baby Ares.
Bukannya terangsang, Juvel malah tertidur pulas.
"Oh tidak! Jangan sampai aku memperkosa istriku sendiri malam ini! Aku Keiner Volstaire tidak akan pernah melakukan itu!" ucap Keiner mencoba menghibur diri.