The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
TBM BAB 55 - Ditemukan



Keiner tahu jika kematian ayahnya memang janggal jadi dia menyerahkan semua kasusnya pada polisi dan tim kuasa hukumnya.


Karena tahu jika istrinya menghindari bersinggungan dengan hukum atau polisi, Keiner juga akan menyelidikinya sendiri. Dia harus tahu pelakunya dan motif apa yang membuat Harold harus kehilangan nyawa.


Peti mati Harold sudah masuk ke tanah tapi Keiner masih berdiri dan bergeming. Juvel dengan setia berada di samping suaminya.


Hal itu dilihat oleh Clara dari kejauhan, dia semakin yakin ingin bergabung dengan Dylan dan menghancurkan Juvel.


Clara mencari sosok Jullian karena ingin menanyakan keberadaan Chade dan juga Chloe. Karena dia tahu lelaki itu yang akhir-akhir ini bersinggungan dengan anak dan juga adiknya.


"Jullian!" panggil Clara saat melihat Jullian akan pergi meninggalkan pemakaman. "Di mana Chade sekarang?"


"Chloe juga tidak pulang semalam, apa dia bersamamu?"


Jullian hanya menatap Clara, dia sangat yakin jika Clara tahu dalang dibalik kematian Harold.


"Kau ingin bertemu mereka? Ayo ikut aku!" ajak Jullian yang ingin membawa Clara ke tempat eksekusi, dia akan menginterogasi Clara di sana.


Clara yang sudah mengetahui siapa Jullian sebenarnya tentu saja harus waspada, dia tidak mau salah langkah.


"Aku masih sedih karena kepergian suamiku jadi biarlah Chade bersamamu dan aku yakin Chloe juga baik-baik saja," ucap Clara memberi alasan. Dia segera undur diri meninggalkan Jullian yang membuat lelaki itu semakin curiga.


Jullian kemudian mencari Trevor dan Gwen sebelum pergi.


Mereka sudah berada di dalam mobil, Jullian buru-buru menghentikan mereka.


"Tunggu dulu!" cegah Jullian yang langsung membuka pintu mobil belakang dan masuk. "Apa Dozer benar-benar menghilang?"


"Neil dan Zack tidak bisa melacak keberadaannya," sahut Trevor yang berada di kursi depan.


"Ruby dan anaknya?" tanya Jullian yang menanyakan istri dan anak dari Dozer.


"Mereka juga menghilang, aku terus mencari keberadaan mereka tapi nihil karena sampai sekarang tidak ada hasilnya," keluh Trevor yang mulai frustasi. Dia tidak mau kehilangan orang-orang kepercayaannya.


"Ini aneh, aku akan menyelidiki di wilayah barat. Aku akan menyelinap ke markas The Green Hornet," ucap Jullian yang yakin jika Dozer tengah ditawan di kubu musuh.


"Aku juga memikirkan hal yang sama tapi The Green Hornet tidak akan berani menyerang kita karena mereka pasti kalah jumlah dan kekuatan," sahut Trevor percaya diri karena lawannya adalah klan mafia kelas rendahan. Oleh karena itu Trevor menjadikan mereka target.


"Ah, aku melupakannya!" desaah Trevor yang sangat tahu kondisi kedua anaknya. Kemudian Trevor menatap Jullian dengan tajam. "Jagalah adikmu dan kau harus waspada saat daddy pergi!"


"Aku akan melakukannya!" jawab Jullian, dia tidak boleh lengah sedikitpun.


*****


Di apartemen, Irene masih memikirkan Jullian yang berkencan dengan Chloe. Dia merasakan perasaan asing rasanya sakit sekali, benih cinta sudah mulai tumbuh tapi Irene belum menyadarinya saat ini.


"Dia bahkan tidak pulang," gumam Irene sambil meneteskan air matanya. Dia jadi membayangkan Jullian dan Chloe yang tengah menanam lobak.


"Apa karena aku tidak mau ditanami lobak jadi Jullian menanam lobaknya dengan perempuan lain?"


"Tapi kenapa harus Chloe?"


Irene semakin sedih karena Jullian jelas-jelas tahu siapa Chloe.


"Kakak bersedih lagi?" tegur Chade yang melihat Irene murung lagi.


"Tidak apa-apa. Ayo kita makan cemilan, kakak membuat puding yang enak," sahut Irene untuk mengalihkan pembicaraan.


Irene meminta Chade menunggunya di meja makan. Sementara dia menuju dapur dan membuka kulkas untuk mengambil puding buatannya.


"Puding cokelat. Horeee..." Chade tampak kesenangan.


Pada saat itu bersamaan dengan bell apartemen yang berbunyi. Irene mengira jika itu adalah anak buah Jullian yang bertugas menjaganya karena dia baru saja meminta dibelikan bahan dapur yang habis.


"Makanlah, biar kakak buka pintunya. Malam ini kita akan makan steak!" ucap Irene dengan mengacak rambut Chade sebelum berlalu membuka pintu.


Irene membuka pintu apartemen dan matanya membulat saat melihat jika yang datang bukan anak buah Jullian.


"Si-apa kau?" Irene langsung menutup pintu karena melihat seorang pria dengan tangan berlumuran darah.


Tapi pria itu menahan pintu apartemen karena badan Irene yang kecil tentu saja gadis itu kalah.


"Di mana anakku, hah!?" teriak pria itu yang tak lain adalah Dylan.