The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
TBM BAB 68 - Keyakinan



Irene menunggu kedatangan Dozer dengan jantung berdebar. Dia berharap Dozer segera menyusulnya, jujur saja dia takut sekarang.


Saat brankas terbuka, Irene buru-buru mencari kunci yang dia cari tapi sayangnya kunci itu tidak ada di brankas.


"Bagaimana bisa?" gumam Irene kebingungan.


Tiba-tiba dari belakang kepalanya, Irene merasakan todongan senjata. Gadis itu sekarang mematung dengan banjir keringat.


"Sayang sekali Irene padahal aku sangat nyaman bersamamu tapi kau justru melukai hatiku," ucap Ronan yang pura-pura terkena sugesti Irene sebelumnya.


Dia sudah menyelidiki apa yang diam-diam dilakukan Irene dan Dozer, sebelum mereka berhasil melakukan rencananya, Ronan sudah bersiap untuk menggagalkan rencana itu.


"Kau pikir saat aku tertarik padamu itu artinya aku harus tunduk padamu! Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi!" tambah Ronan.


Kemudian Ronan memborgol kedua tangan Irene dari belakang.


"Aku ingin lihat berapa nilaimu bagi Jullian!" Ronan membawa Irene keluar dari kamarnya.


Mulut Irene seperti terkunci, tidak ada satu patah kata pun yang keluar sampai Irene dibawa ke sebuah ruangan di mana ada Dozer yang tengah disekap.


Saat mata Dozer dan Irene beradu tatap, mereka seolah berkata. "Kita gagal!"


Dozer dan Irene duduk di kursi kayu dengan tubuh terikat dan mulut yang diplester supaya tidak bisa berbicara.


Sedetik kemudian muncul dua sosok yang membuat Dozer membelakkan mata karena istri dan anaknya yang selama ini ditawan juga berada di sana.


"Daddy..." sang anak perempuan yang berusia tujuh tahun itu menangisi Dozer yang tampak mengenaskan.


"Sheria don't cry, you strong girl," tegur Ruby sang ibu.


Sheria langsung mengangguk patuh, selama mereka ditawan Sheria mencoba tidak menangis tapi melihat Dozer akhirnya dia tidak tahan juga. Sheria menggandeng tangan Ruby di mana mereka saat ini ditodong senjata.


"Aku sudah menawarkan mu kerja sama tapi kau justru memilih tetap setia pada Black Mamba, jadi terimalah konsekuensinya!" Ronan menarik pelatuk pistolnya dan mengarahkannya ke kepala Ruby.


Dor!


Ruby tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena di detik itu juga timah panas menembus kepalanya. Ruby langsung ambruk yang membuat Sheria menjerit histeris.


"Mommy!!" Sheria berlutut dan menangisi Ruby.


Belum sampai disitu, Ronan kembali mengarahkan pistolnya ke arah Sheria yang membuat Dozer memberontak.


"Aku tidak main-main jika kau berani melawanku, anakmu adalah korban berikutnya!" ancam Ronan.


Irene yang melihat keberingasan Ronan hanya bisa menangis dan memanggil nama Jullian di dalam hatinya.


"Jullian, tolong..."


*****


Jullian berada di sebuah kapal pesiar, dia tidak sendiri karena sekarang dia sudah kembali bergabung dengan Trevor.


"Apa orang suruhan kita sudah kembali?" tanya Jullian pada Neil dengan gusar. Dia tidak sabar mendengar jawaban dari Ronan melalui orang suruhan yang dia utus untuk melakukan pertukaran hari ini.


Belum sempat menjawab, Neil mendapat kabar dari orang suruhan itu bahwasanya Ronan datang dengan beberapa helicopter.


"Kita harus bersiap-siap!" Neil memberi instruksi.


Trevor yang mendengar itu menatap ke arah Jullian. "Jangan membuat klan kita tampak lemah, aku sudah bersusah payah terus mempertahankan klan kita selama ini!"


Jullian memutar pistol yang ada ditangannya kemudian memasukkan peluru ke dalamnya.


"Akan aku pastikan The Green Hornet akan tumbang hari ini!" ucap Jullian tampak meyakinkan.