
Trevor mengayunkan pedangnya ke arah Dozer tapi Dozer berhasil menangkis serangan demi serangan yang datang padanya.
Suara gesekan dua benda tajam itu memekik di telinga semua yang ada di sana.
Sampai Trevor merasa tangannya gemetar lagi dan Dozer menyadari hal itu.
Trevor memindahkan pedang ke tangan kirinya sebelum pedang itu jatuh.
"Lima menit jika kau tidak bisa mengalahkannya, anakmu akan bernasib seperti istrimu!" ancam Ronan kemudian.
Anak buah Ronan melindungi bos mereka membuat Jullian kesulitan membidik Ronan yang sangat dia ingin bunuh.
Sementara Dylan merebut paksa Chloe dari tangan Gwen, dia melakukan itu dengan mudah karena pikiran Gwen yang syok melihat Irene yang jatuh ke lautan.
"Ayo kita harus cepat pergi!" ajak Dylan yang menyeret Chloe masuk ke salah satu helicopter.
Di dalam Chloe melihat pertarungan sengit antara Trevor dan Dozer begitu pula Ronan dan Jullian.
"Kita akan pergi begitu saja?" tanya Chloe.
"Bos Ronan akan menyusul, kita sudah sampai di tujuan utama, membuat kubu mereka terpecah!" jelas Dylan.
Saat helicopter yang membawa Dylan dan Chloe naik ke atas, kesempatan itu digunakan Trevor untuk menyerang Dozer kembali.
"Walaupun aku menggunakan tangan kiri, hasilnya akan tetap sama!" ucap Trevor sambil mengayunkan pedangnya.
Pada saat itu, Dozer tidak melawan lagi. Dia membiarkan Trevor menggores dadanya.
Crash!
Kemudian tangannya mencoba memegang ujung pedang Trevor dan menancapkannya ke perutnya.
"Ini semua tidak akan berakhir jika salah satu diantara kita tidak ada yang mati, Bos," ucap Dozer sambil menahan rasa sakitnya.
Trevor ingin mencabut pedang itu tapi Dozer semakin memperdalam tusukannya.
"Semoga selalu berbahagia, Bos. Tolong selamatkan Sheria!" Dozer sudah mengeluarkan darah dari mulutnya.
Saat semua melihat adegan itu, Ronan mencuri kesempatan untuk menembak Jullian.
Dor!
Satu tembakan mengenai bahu Jullian yang membuat para anak buahnya menjadi menyerang kubu Ronan.
Jullian memegangi bahunya dan memikirkan keadaan adiknya. "Juvel?"
*****
Juvel yang sedang mandi tiba-tiba merasakan bahunya yang sakit dan mengeluarkan darah.
"Jullian?" Juvel langsung mempercepat mandinya.
Dia mencoba menghubungi siapa saja yang berada di wilayah barat, pasti terjadi sesuatu.
Beruntung ada salah satu anak buah yang sigap memberi laporan pada Juvel mengenai situasi yang terjadi.
Juvel yang mendengar kabar kematian Dozer sampai meneteskan air matanya apalagi Dozer mati ditangan ayahnya sendiri.
"Aku yang akan mengakhiri ini!" Juvel berkata seperti itu setelah panggilan terputus.
Juvel mengambil kain untuk mengikat luka dan juga perutnya. Kemudian dia mengambil kunci mobil untuk menuju ke gudang senjata Black Mamba.
Di sana Juvel mengambil beberapa bom lalu Juvel datang ke markas-markas Black Mamba berada.
Juvel memerintahkan supaya para anak buah mengambil harta mereka dan pergi sejauh mungkin.
"Tapi---"
"Tidak ada kata TAPI!?" Juvel begitu mengerikan dan tidak ada yang berani membantah queen mafia itu.
Juvel memasang bom ke semua markas Black Mamba. Dia ingin meledakkan semua markas.
"Aku tidak mau ada Dozer-Dozer lain!" ucap Juvel dengan lelehan air mata saat memutar waktu bom.
Jarak antara markas satu ke markas lain membutuhkan waktu yang tidak sebentar, Juvel menghabiskan waktunya untuk memasang bom yang dia sudah perkirakan waktu meledaknya secara bersamaan.
Sementara Keiner yang pulang kerja tidak mendapati istrinya berada. Dia mencoba menghubungi dan mencari Juvel tapi tidak ketemu juga.
Tapi Keiner terus menunggu kedatangan Juvel sampai dia tidak tidur, dini hari baru Keiner mendengar suara mobil yang membuatnya langsung berlari mendatangi mobil itu karena dia yakin itu adalah istrinya.
Saat Juvel keluar dari mobil, penampilannya sungguh berantakan.
"Kalau kau hanya mengkhawatirkan bayimu lebih baik kau pergi saja!" ucap Juvel pada Keiner begitu dingin saat melihat suaminya itu mendekat.