The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
TBM BAB 80 - Lebih Keren



Saat mendapat panggilan dari Fiona, tanpa ba bi bu Keiner langsung meninggalkan pekerjaannya. Dia ingin segera melihat keadaan istrinya. Bukan bayi yang jadi prioritasnya lagi tapi Juvel.


"Juvel sedang beristirahat, dia sering mengalami keram di perutnya mungkin itu karena Juvel setres," jelas Fiona saat Keiner datang.


Keiner semakin cemas, dia menghampiri istrinya yang tengah beristirahat.


Dengan perlahan Keiner memeluk Juvel dari belakang tapi rupanya Juvel yang sensitif terhadap sentuhan langsung terjaga.


Saat Juvel berbalik dan menatapnya, Keiner ingin mengungkapkan perasaannya.


Keiner mengecup kening Juvel dengan memejamkan matanya. "I love you, Nona Mafia!"


"Aku menyukaimu bukan karena kau yang bisa membuatku tidur atau karena kau yang mengandung anakku tapi..."


"Karena kau adalah Juvelian Brown!"


Mendengar itu, Juvel tanpa sadar menitikkan air matanya. Akhirnya cintanya terbalas.


Keiner mengusap air mata dengan ibu jarinya kemudian mencium bibir istrinya dan melumaatnya kecil.


"I want you, Babe!" bisik Keiner yang ingin melakukan serangan nuklir.


Juvel mengangguk dengan wajah memerah. "Lakukan pelan-pelan!"


Setelah mendapat persetujuan Keiner kembali mencium istrinya dengan tangan yang sudah bergerilya ke daerah sensitif Juvel.


Kedua anak manusia yang dimabuk cinta itu tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Mereka ingin menyatu dalam tubuh sekarang juga.


Di luar kamar, Fiona hanya menggelengkan kepalanya mendengar suara-suara yang timbulkan oleh kegiatan dua anak manusia itu.


"Huft, untung aku tidak membuka pintunya," ucap Fiona yang sebelumnya bermaksud membawa makanan untuk Juvel.


Fiona lebih memilih mencari keluarganya di mana ayah dan ibunya yang tengah melatih ketiga saudara kembarnya latihan memanah.


"Suami Juvel datang?" tanya Maudy sang ibu.


"Mereka sedang nana nini nunu?" Maudy justru memperjelas hal itu yang membuat si kembar tiga jadi penasaran.


"Nana nini nunu itu apa?" tanya mereka.


Erik berdehem. "Itu bahasa mommy kalian, jangan ditiru!"


"Ish, tapi kau suka, 'kan?" Maudy langsung memeluk suaminya. Dia sangat bahagia dengan hidupnya sekarang, dia mempunyai suami dan juga anak-anak yang dicintainya.


"Aku harap bos Trevor juga bahagia," batin Maudy yang memikirkan keadaan Trevor sekarang.


*****


Setelah cukup beristirahat setelah percintaan panas mereka, Keiner membawa Juvel pergi. Keiner ingin menemui Trevor dan Gwen.


"Jangan takut, ada aku!" bujuk Keiner supaya Juvel tenang, dia tahu jika istrinya takut menghadapi ayahnya sendiri.


Juvel mengangguk, dia percaya pada suaminya. Akhirnya mereka berpamitan dengan keluarga Erik dan menyusul Trevor.


Saat ini, Trevor berada di mansion pribadinya bersama Gwen.


Gwen berusaha menghibur Trevor dengan membawa barang-barang bayi yang telah dia beli.


"Coba lihatlah, Trey. Bukankah baju-baju ini imut?" tanya Gwen sambil memamerkan baju bayi berwarna pink.


Trevor melirik sejenak. "Kenapa warnanya pink? Memangnya bayi Juvel perempuan?"


"Belum tahu apa tapi aku suka warnanya, mau bayinya laki-laki atau perempuan, aku akan memakaikan warna pink." Gwen mendekati Trevor dan memeluk perutnya. Kepalanya mengadah menatap suaminya. "Kau akan menerima bayi Juvel kan, Trey?"


"Terlepas dari apapun itu, bayi itu tetap cucu kita dan Keiner sudah bertanggung jawab. Walaupun awalnya mereka menipu kita tapi sekarang mereka saling mencintai!"


"Tidak ada kisah yang sempurna, seperti kita dulu. Awalnya kau terus memaksaku mengikuti kehendakmu sampai aku melihat ketulusan di hatimu tanpa kau mengungkapkan cinta padaku!"


Trevor menghela nafasnya, dia terdiam cukup lama. Kemudian tangannya mengelus rambut Gwen dan mengecup kening istrinya. "Setidaknya aku jauh lebih keren, 'kan? Aku menghamili mu dengan cara yang benar bukan dengan alat dokter!"