
Jullian sudah sampai di wilayah barat dan langsung bergabung dengan orang tuanya. Mereka sekarang menyewa sebuah rumah dan membaur supaya terlihat seperti orang biasa.
"Kenapa kau kemari?" tanya Trevor gusar saat melihat Jullian yang datang. Trevor belum tahu mengenai Irene dan Chade.
Jullian langsung menjelaskan tujuannya pada sang daddy.
"Kau seharusnya berpikir jika Dozer bisa jadi pengkhianat! Dia tahu semua lokasi markas-markas kita dan sistem atau struktur klan kita," ucap Trevor yang masih tidak bisa menerima keberadaan Jullian.
"Dan bagaimana dengan Juvel?" timpal Gwen yang mencemaskan putrinya.
"Juvel menertibkan semua anak buah di semua markas!" ungkap Jullian. Tentu dia juga berpikir puluhan kali sebelum menyusul orang tuanya. "Chloe bersamaku pasti mereka akan melakukan pertukaran!"
Sekarang mereka menyusun strategi untuk bisa bertemu dengan kelompok mafia The Green Hornet.
Mereka tidak bisa gegabah karena ada Dozer dipihak mereka. Mereka tidak tahu sejauh apa Dozer memberi informasi.
"Ambilkan pedangku!" perintah Trevor yang ingin berlatih. Dia mencoba menenangkan diri dan berpikir.
Neil dan Zack mengikuti Trevor dan mereka bertiga berlatih bersama.
"Trang! Trang!"
Terjadi adu pedang diantara mereka bertiga, biasanya mereka akan melakukannya berempat dengan Dozer.
Sampai Trevor merasa gemetaran, pedang ditangannya terjatuh. [Seperti tremor gitu loh guys]
"Bos!" seru Neil dan Zack. Ini bukan kali pertama, Trevor sering mengalami hal itu setahun belakangan dan hanya anak buah intinya saja yang tahu.
"Kita harus memberitahu Gwen!" cetus Zack yang tidak tahan menyembunyikan rahasia bosnya.
"Jangan beritahu apapun padanya!" cegah Trevor yang merasa baik-baik saja.
"Tapi Bos--" Neil tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Trevor yang melotot tajam padanya.
Trevor duduk yang membuat Neil dan Zack menghentikan latihan mereka, mereka ikut duduk di sisi kanan dan kiri bosnya.
Neil dan Zack tentu tidak akan bisa mengkhianati bos mereka.
Setelah selesai latihan, Trevor mendatangi Gwen yang sudah tertidur. Dia mengelus rambut istrinya, Trevor terus memandangi wajah Gwen yang selalu ada di sisinya itu.
Kemudian dia memikirkan keadaan Juvel dan Jullian.
"Aku akan melindungi keluargaku apapun yang terjadi!" ucapnya penuh tekad.
*****
Juvel merasakan sapuan bibir di pipinya, dia membuka mata dan mendapati Keiner yang sudah rapi, pasti suaminya sudah mandi.
"Jam berapa sekarang?" tanya Juvel yang nyawanya sudah terkumpul penuh.
"Sudah jam 10 pagi, kau melewatkan sarapanmu, ayo cepat bangun!" jawab Keiner dengan mendudukkan tubuh istrinya.
"Huh, seharusnya aku bangun pagi dan menyiapkan sarapan untukmu! Tapi aku malah bangun kesiangan, ini semua karena aku kelelahan! Bisakah kau berhenti melakukan serangan nuklirmu itu?" ucap Juvel sebal.
"Pinggangku sakit!"
Keiner hanya mengulum senyumnya, dia mengangkut tubuh Juvel dan membawanya ke kamar mandi.
Di kamar mandi, Keiner sudah menyiapkan air hangat di dalam bath up.
"Nyamannya," komentar Juvel saat punggungnya merasakan air hangat.
Keiner pergi sebentar kemudian kembali lagi dengan segelas susu hamil.
"Minumlah susumu dulu, Babe," ucap Keiner yang selalu mengkhawatirkan bayinya.
Juvel menerima gelas itu, sebelum meminumnya dia bertanya pada suaminya.
"Keiner..." panggilnya dengan serius. "Kalau kau disuruh memilih antara aku dan bayimu, kau pilih yang mana?"