
Keiner dan Juvel tidur bersama dengan saling berpelukan satu sama lain. Sama-samar Juvel mendengar pintu kamarnya diketuk, Juvel segera membuka matanya dan menjauhkan tangan Keiner yang memeluk perutnya.
"Siapa?" gumam Juvel sambil meraih jubahnya dan memakainya.
Saat Juvel membuka pintu ternyata kepala pelayan mansion yang mengetuk untuk membangunkan Juvel karena Jullian yang mencarinya.
"Tengah malam begini Jullian mencariku?" tanya Juvel yang langsung bergegas menemui saudaranya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres.
Jullian duduk di sofa dengan memainkan pistol di tangannya.
"Jullian!" panggil Juvel yang membuat Jullian langsung berdiri dan memeluk adiknya.
"What happen?" Juvel jadi kebingungan sendiri. "Are you okay?"
"Not okay. Irene..." Jullian sangat mencemaskan keberadaan gadis putri duyung itu. Pasti Irene ketakutan di suatu tempat. "Dia menghilang bersama Chade!"
"A--apa? Bagaimana bisa?" Juvel kaget mendengar kabar itu.
"Aku yakin ini semua ada sangkut pautnya, kematian ayah mertuamu dan hilangnya Chade," ucap Jullian sangat percaya diri. "Dan juga hilangnya Dozer!"
"Ini bukan kebetulan!"
"Maksudmu kita diserang secara diam-diam?" tanya Juvel memastikan.
"Ya, aku harus menyusul daddy ke wilayah barat, aku tidak bisa diam di sini. Jadi, aku harap kau berjaga di markas-markas kita apalagi markas utama," pinta Jullian.
"Jullian, kita sudah sepakat jika aku sudah menikah maka aku akan keluar dari dunia mafia, aku tidak mau terlibat lebih jauh," tolak Juvel yang membuat Jullian tidak percaya.
"Juvel, kau lebih memikirkan kebebasanmu daripada keselamatan klan mafia kita?" tanya Jullian gusar.
"Bukan begitu tapi Keiner tidak akan mengijinkannya!" Juvel jadi bingung sendiri.
"Aku harus menyelamatkan Irene dan Chade, bukankah kau sendiri yang memintaku untuk menyelamatkan bocah itu?"
Jullian menatap tajam ke arah adiknya. "Aku juga tidak akan memaafkan diriku jika aku tidak bisa menyelamatkan mereka, Juvel!"
"Aku akan membujuk Keiner," ucap Juvel kemudian.
"Mau tidak mau kau harus berjaga di markas, aku akan berangkat malam ini juga, aku rasa daddy dan mommy baru saja sampai di wilayah barat. Aku harus ikut menyusun rencana di sana!" jelas Jullian.
Juvel menghela nafasnya, memang benar sekali mafia tetap mafia. Juvel tidak bisa memutus rantai itu begitu saja.
Setelah kepergian Jullian, Juvel kembali ke kamarnya dengan langkah gontai.
Juvel melihat ke arah ranjang di mana Keiner yang tertidur pulas. Seharusnya mereka saat ini masih menikmati suasana pengantin baru tapi ada saja masalah yang datang.
Tidak mau membuang waktu Juvel segera mempersiapkan keperluan yang harus dia bawa untuk pergi ke markas utama.
"Babe..." panggil Keiner yang terjaga. Dia mencari keberadaan istrinya.
"Aku di sini!" seru Juvel yang berada di walk in closet.
Keiner bergegas mendatangi istrinya. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku sedang mempersiapkan baju kantormu! Kita akan tinggal di markas utama sementara waktu!" jelas Juvel tanpa menatap suaminya.
Keiner mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
Tanpa mau menutupi, Juvel menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya.
"Mungkin Jullian akan bisa menemukan siapa pelaku dibalik kematian ayahmu," ucap Juvel setelah selesai bercerita.
"Aku bisa menyelidiki kasus ayahku sendiri," sahut Keiner dengan ketus. "Bukankah tujuan kita menikah supaya kau bisa terlepas dari dunia mafia? Lantas apa sekarang?"
"Keiner, aku tidak mungkin membiarkan sesuatu terjadi pada Irene atau Chade. Aku tahu kau sangat membenci Chade tapi anak itu tidak bersalah!" Juvel tidak mau kalah.
Keiner mendengus beberapa kali karena merasa semakin kesal.
"Jika terjadi sesuatu pada bayiku, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Juvel!" ancam Keiner kemudian.