
Setelah bertanya pada anak buahnya, Juvel membawa Keiner ke ruangan di mana Chloe berada.
Saat pintu terbuka, Chloe yang berada di dalam dengan badan terikat, membuka matanya.
"Le--lepaskan..." dengan sisa tenaga yang ada, Chloe masih meminta dilepaskan.
Juvel menatap miris keadaan Chloe, dia kemudian mencoba membuka tali yang membelenggu tubuh gadis itu.
"Kenapa kau lepas, Babe?" tanya Keiner keheranan.
"Dengan keadaan lemah begini, dia tidak mungkin melawan. Bantu aku!" Juvel meminta suaminya untuk membantu Chloe berdiri.
Tanpa ba bi bu Keiner langsung membantu memapah Chloe untuk keluar dari ruangan gadis itu disekap.
"Dia sangat bau!" komentar Keiner.
"Aku akan memandikan dia!" cetus Juvel yang membuat Keiner semakin tidak percaya.
"A-apa?"
Keiner pikir Juvel hanya main-main tapi istrinya itu benar-benar memandikan Chloe. Keiner lagi-lagi salah menilai Juvel.
Selesai memandikan Chloe, Juvel memakaikan gadis itu baju.
"Kenapa kau baik padaku?" tanya Chloe yang sedari tadi hanya diam akhirnya membuka suaranya.
"Tidak semua kejahatan harus dibalas dengan kejahatan," jawab Juvel dengan memberikan burger yang dia beli sebelumnya. "Aku harap kau bisa bekerja sama jika kau tidak bertingkah pasti kau akan tetap hidup!"
Chloe menerima burger pemberian Juvel dan langsung memakannya.
Setelah dia selesai, tangannya diborgol dan Chloe dipaksa masuk ke dalam mobil van yang akan membawanya ke wilayah barat.
"Jullian, paket sudah aku kirim!" lapor Juvel melalui panggilan telepon.
"Good. Aku yang akan ambil alih!" Jullian sudah siap menyambut paket dari Juvel yang tak lain adalah Chloe.
*****
Di sisi lain, gadis bertubuh mungil diam-diam mengambil roti dan memakannya di bawah meja. Irene yang selesai melakukan pekerjaannya merasa lapar dan mencuri roti.
Irene dilepas dengan syarat harus menjadi pelayan di markas The Green Hornet.
Suara bass seorang pria yang membuat tubuh Irene bergetar. Dia tetap bersembunyi di bawah meja.
"Saya akan mencarinya, Bos," ucap Dylan yang berbicara pada pemimpin kelompok The Green Hornet, Ronan.
Ronan mendapat laporan dari Dylan yang berhasil menangkap gadis peliharaan Jullian, dia ingin melihat sendiri gadis itu.
"Cepat cari dia!" perintahnya.
Keringat membanjiri pelipis Irene, gadis mungil itu memejamkan matanya. Sampai dia merasakan penutup meja dibuka dan Dylan segera menyeret Irene keluar.
"Lepaskan aku!" lirih Irene sambil menangis.
Ronan memandangi Irene dari atas sampai bawah, dilihat dari segi manapun Irene hanya gadis remaja yang imut.
"Rupanya begini tipe Jullian," komentar Ronan kemudian.
Ronan mendekati Irene dan meraih dagu gadis itu. "Apa yang membuat Jullian menyukaimu?"
"Jullian tidak menyukaiku!" elak Irene memberanikan diri.
"Oh iya? Kita lihat saja nanti!" Ronan terkekeh karena mendapat mainan baru.
Ronan langsung mengangkat tubuh Irene ke bahunya seperti karung beras kemudian membawanya ke kamar pribadinya.
"Aaaaaaa.... lepaskan aku!" Irene terus meronta tapi Ronan menulikan telinganya.
Sesampai di kamar, Ronan menurunkan Irene. Dia ingin bermain-main dengan gadis putri duyung itu.
"Aku ingin keluar, aku harus mencuci baju!" ucap Irene memberi alasan.
Ronan tidak percaya dengan apa yang dia dengar, disaat keadaan genting seperti ini, Irene justru memikirkan cucian baju?
"Kau tidak perlu memikirkan cucian baju, pikirkan saja hal lain yang menyenangkan!" Ronan mencoba menggoda Irene.
"Hal yang menyenangkan?" Irene mencoba berpikir. "Aha, aku memikirkan bisa berguling-guling di kasur yang empuk! Itu adalah hal yang menyenangkan!"
"Selama di sini, aku tidur di kasur yang sangat keras! Kau pasti mafia miskin, ya?"
Pernyataan yang membuat Ronan sampai membuka mulutnya karena tidak percaya. "Apa tadi? Dia mengatai aku miskin?"