
Beberapa hari tidak mengasuh anak dan bertemu suaminya, yang dilakukan Clara adalah mengurung dirinya di kamar.
Dia sering berteriak dan juga menghempaskan barang-barang di kamarnya.
"Seharusnya aku!" teriak Clara yang menyesali perbuatannya dahulu. Seharusnya dia percaya dengan Keiner dan seharusnya posisi Juvel adalah miliknya.
Rena yang tahu jika mental Clara tidak baik-baik saja membiarkan putrinya itu. Dia sudah sempat membawa Clara periksa ke psikiater dan hasilnya memang Clara mempunyai mental illness yang membuat emosinya tidak stabil.
"Clara, minum obatmu!" teriak Rena sambil menggedor pintu kamar.
Tak lama Clara keluar dari kamarnya dengan tampang berantakan. Dia menatap tajam ke arah ibunya.
"Ini semua karenamu, Mom! Seharusnya aku tidak menggugurkan anak Keiner!" kesal Clara.
Bersamaan dengan itu bell pintu rumah mereka berbunyi, seorang kurir datang dan memberikan sepucuk surat untuk Clara.
Buru-buru Clara membukanya. Matanya membulat saat membaca surat itu, surat perceraian dari Harold.
"Apa ini tidak salah? Tua bangka itu benar-benar..."
Clara segera mengganti bajunya dan ingin menemui Harold.
Memang Harold sudah memutuskan untuk menceraikan Clara dan akan memperjuangkan hak asuh Chade.
"Aku tidak mau kehilangan semuanya!" gerutu Clara sepanjang perjalanan.
Saat sampai di kediaman Harold, Clara segera mencari keberadaan suaminya itu.
"Harold! Harold!" panggilnya.
Tapi tidak ada sahutan sama sekali sampai Clara masuk ke kamarnya dan Harold.
"Aakhhhh...." teriak Clara histeris karena mendapati Harold yang bersimbah darah tergeletak di lantai kamar.
Pelan-pelan Clara mendekat, Harold sudah tidak bernyawa.
"A--apa yang sebenarnya terjadi!" gumamnya.
Clara mencoba menghubungi polisi tapi saat dia sibuk mencari ponselnya, Clara merasakan sebuah pelukan dari belakang.
"Clara..." bisik suara pria dengan parau.
Deg!
Jantung Clara berdebar hebat, dia tahu suara siapa itu. Suara pria yang telah memperkosanya sampai dia hamil Chade.
"Dy... Dylan?"
"Ternyata kau masih mengingatku! Dimana anak kita?"
"Sejak kapan kau keluar dari penjara?"
Dylan membalik badan Clara yang gemetaran supaya berhadapan dengannya. "Aku sudah membereskan suamimu! Sekarang mana anak kita?"
"A--apa maumu Dylan?" tanya Clara ketakutan.
"Tentu saja aku ingin bertemu anakku! Aku akan membawanya bersamaku!" jawab Dylan dengan membelai rambut Clara. "Kau juga bisa ikut kalau kau mau!"
"Aku mempunyai rencana besar, bukan hanya harta Keiner yang bisa kau dapatkan!" tawar Dylan.
"Kau menguntitku?" tanya Clara keheranan karena Dylan seolah tahu tentang tujuan hidupnya sekarang.
"Aku sudah tahu semuanya jadi bagaimana? Apa kau tertarik? Kau akan mendapat dukungan dan perlindungan dariku!" bujuk Dylan.
"Aku tidak percaya padamu, kau hanya seorang penjahat! Hidupku tidak akan terjamin!" tolak Clara mentah-mentah.
Dylan terkekeh mendengarnya. Dia menarik pinggang Clara dan satu tangannya meraih dagu wanita itu.
"Apa kau tahu siapa lawanmu?" tanya Dylan.
"Aku hanya perlu menyingkirkan menantuku!" jawab Clara tanpa ragu.
"Apa kau yakin akan mampu? Apa kau tahu siapa menantumu sebenarnya?" Dylan mendekatkan wajahnya dan berbisik ke telinga Clara. "Menantumu adalah mafia atau lebih tepatnya keluarga menantumu adalah keluarga mafia!"
"A--apa?" Clara tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Kalau kau ikut bersamaku, kau akan kuat untuk melawan mereka!"
"Apa tujuanmu sebenarnya?"
Dylan menyeringai. "Menghancurkan klan mafia Black Mamba!"
*
*
*
*
*
Catatan Author :
Kembar simpatik yang dialami oleh Juvel dan Jullian itu hanya khayalan author semata ya guys.
Dan seperti yang aku bilang di cerita Me and The Boss Mafia kalau Trevor nanti bakal tobat dan milih Juvel jadi setelah ini bakal banyak air mata.
Siapin tissue🤧