The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
Bibit Lobak - Sensitif



"Daddy akan pulang?" tanya Juvel saat Trevor pamit padanya.


"Iya, Sheria harus sekolah. Daddy juga akan sibuk mengurus peternakan sapi. Jika Keiner libur atau weekend, kalian harus berkunjung," sahut Trevor sambil memeluk putrinya. Dia tidak menyangka akan pensiun dan menjadi peternak sapi sesuai yang diinginkan Juvel.


"Thanks, Dad!" Juvel merasa bersyukur Trevor menerima hidupnya yang sekarang.


Sebelum pulang, Trevor bermain dengan baby Ares sebentar kemudian mansion Keiner jadi sepi karena hanya tertinggal Jullian dan Irene.


"Kalian tidak menginap?" tanya Juvel pada kakaknya.


"Lebih enak di apartemen hanya ada kami berdua," sahut Jullian yang pamit pulang juga.


"Berusahalah lebih keras, Jullian. Irene akan melahirkan, setidaknya kafe mu harus buka sebelum bayi-bayi kalian lahir," ucap Juvel memberi peringatan.


"Aku tahu," jawab Jullian jengah karena Juvel seolah meremehkannya.


Setelah cukup berbincang dengan adiknya, Jullian membawa Irene untuk kembali ke apartemen.


Irene yang kelelahan tertidur saat dalam perjalanan dan saat sampai, Jullian jadi bingung sendiri. Jullian sudah tidak kuat lagi menggendong Irene sampai ke unit apartemen mereka. Jadi, dia menunggu Irene sampai terbangun di dalam mobil.


Hampir tengah malam, Irene baru terbangun dan dia terkejut karena tertidur di dalam mobil.


"Kau sudah bangun sayang?" tanya Jullian yang setia menunggu sedari tadi.


"Aku tertidur di mobil? Kenapa tidak membangunkan aku?" Irene jadi tidak enak hati.


"Aku tidak mau membangunkan istriku yang kelelahan, aku ingin menggendongmu tapi takut tidak kuat sampai ke unit apartemen kita," jelas Jullian.


Awalnya Irene merasa tersentuh dengan sikap Jullian tapi saat mendengar penjelasan Jullian, dia jadi emosi.


"Jadi maksudnya aku gendut?" tanya Irene yang sensitif.


"Kau sangat seksi sayang," sahut Jullian mencoba menenangkan Irene.


"Kalau seksi seharusnya kau menggendongku seperti dulu!" gerutu Irene sebal.


Irene lebih memilih keluar dari mobil duluan, dia tiba-tiba saja jadi emosi sendiri.


Dan itu berlangsung sampai keesokan harinya, Irene tidak mau berbicara pada Jullian yang membuat lelaki itu bingung sendiri.


"Sayang, kau mau es krim?" tanya Jullian mencoba membujuk istrinya. Kebetulan di kulkas, dia menyimpan beberapa rasa es krim.


"Rasa vanilla, stroberi dan cokelat," ucap Jullian.


Muncul sebuah ide di kepala Irene untuk menguji kepekaan pasangan. Irene memakan es krim itu tapi dia juga sengaja membuat mulutnya belepotan es krim. Dia ingin tahu apa reaksi Jullian, menurut drama yang pernah dia tonton, pasangan akan mencium dan membersihkan es krim dari mulut. Irene ingin seperti itu.


Tapi bukannya ciuman, Jullian hanya mengelap mulut Irene sambil berkata. "Makannya pelan-pelan, Irene. Dan jangan berantakan seperti anak kecil."


"Kau tidak ingin menciumku?" tanya Irene yang merasa kesal kembali.


"Jadi, kau ingin dicium?" tanya Jullian balik, dia harus berhati-hati supaya Irene tidak marah.


"Ish, tidak peka!" Irene berdiri dan meninggalkan Jullian sendirian.


Jullian menghela nafasnya dan berusaha sabar. "Padahal bayi-bayi wuba belum lahir tapi aku sudah diuji dengan kesabaran!"


Akhirnya Jullian harus berusaha mengalah, dia ke kamar dan kembali membujuk Irene.


"Sayang, kau ingin ciuman? Sini aku cium sepuasnya!" seru Jullian dengan senang hati.


Jullian duduk di samping Irene kemudian mencium istrinya dengan dalam, dia mengeluarkan seluruh kemampuannya dalam bermain adu bibir.


"Hmmp! Hmmp!" Irene menjerit dalam ciuman.


"Salah lagi?" tanya Jullian saat melepas Irene.


"Hiks, suamiku mau membunuh istri dan anak-anaknya dengan ciuman!"


...*****...


Rekomendasi Author :


Judul: Dikira Satpam Ternyata Sultan


Penulis: Rini Sya


Atas permintaan sang nenek, Nadin terpaksa membuat perjanjian gila dengan seseorang yang bermasalah dengannya.


Perjanjian gila yang berisi kesepakatan pernikahan itu mengantarkan Nadin pada masalah besar. Nyatanya pria yang ia ketahui hanya sebagai satpam itu, malah membuat hatinya tak berkutik. Bukan hanya itu, rahasia besar yang dimiliki pria tersebut, juga membuat Nadin tercengang.