
Juvel diam, matanya terus memandang ke jalanan dari kaca mobil yang membawanya ke markas utama. Dia tidak bodoh, tentu Juvel tahu jika Keiner masih setengah hati menerimanya, yang ada dipikiran lelaki itu hanya bayinya.
Bahkan setelah percintaan mereka, Keiner masih ragu padanya.
Keiner yang duduk di sampingnya juga diam karena kesal, dia masih belum menerima jika istrinya seorang mafia.
Bukannya dia tidak peduli dengan Irene atau Chade, tapi bukan ini tujuan mereka menikah. Mereka menikah supaya Juvel keluar dari dunia mafia tapi sekarang Juvel justru membawanya masuk ke dunia itu.
"Vitamin dan susu hamil tidak lupa dibawa, 'kan?" tanya Keiner memecah keheningan.
"Aku tidak melupakannya Keiner! Aku juga menyayangi bayiku!" jawab Juvel begitu menohok.
Keiner menoleh ke arah Juvel, dia pasti sudah bersikap berlebihan. Dia menarik tangan Juvel kemudian memeluk tubuh istrinya.
"Sorry, aku benar-benar tidak menyukai ini," ucap Keiner kemudian.
"Aku tahu, aku hanya memintamu bertahan sampai Irene dan Chade ditemukan," sahut Juvel berharap Kiener akan ikut bekerjasama.
"Baiklah, aku akan berusaha." Keiner lagi-lagi harus menurunkan egonya.
Sesampai di markas utama, Juvel disambut oleh para anak buah yang ada di sana. Mereka sudah menunggu kedatangan queen mafia itu.
"Aku akan ke kamar!" pamit Keiner tapi Juvel menahan suaminya.
"Aku percaya padamu, Babe. Ikutlah bersamaku!" pinta Juvel yang merasa Keiner harus tahu apa yang dia akan bicarakan pada para anak buahnya.
Juvel mengumpulkan semua anak buahnya yang ada di markas utama. Dia menatap satu-satu wajah mereka, Juvel harus memastikan tidak ada pengkhianat.
"Kalian pasti tahu kan hukuman untuk seorang pengkhianat?" Juvel menyilangkan kedua tangannya di dada. "Aku harap kalian masih sayang nyawa kalian!"
"Apa sudah selesai?" tanya Keiner karena Juvel membubarkan para anak buahnya.
"Tentu saja belum, jangan keluarkan barang-barangmu karena kita harus pindah ke markas-markas lain. Aku harus menertibkan para anak buah dan juga memastikan tidak ada pengkhianat," jelas Juvel sambil mendudukkan diri, dia sangat kelelahan.
Keiner bisa melihat itu, dia segera menggendong istrinya. "Aku masih masa cuti jadi aku akan menemanimu, Babe. Ayo kita ke kamar! Kau masih membuka pabrik susumu, 'kan?"
Juvel terkekeh. "Pabrik susunya akan selalu terbuka untukmu, kau juga akan meluncurkan nuklirmu, 'kan? Aku ingin melihatmu yang basah dengan keringat dan bergerak di atasku!"
Mereka kemudian berciuman sampai mereka masuk ke dalam kamar mereka. Kemudian terdengar suara ranjang bergoyang disertai erangan dan desahaan di sana.
*****
Irene membuka matanya, kepalanya sangat pusing. Tangan dan kakinya terikat, gadis itu langsung ketakutan.
"Di mana aku?" gumamnya. Matanya terus menelisik ke ruangan yang dia tempati tapi ruangan itu minim cahaya jadi dia tidak bisa melihat dengan jelas. "Tolong...."
"Hiks... Jullian! Tolong aku..."
Irene terus menangis dan mengingat Jullian, padahal dia sangat marah dan kecewa dengan lelaki itu tapi hidupnya sudah bergantung pada Jullian. Jadi hanya Jullian harapan Irene satu-satunya.
"Chade! Di mana Chade?" Irene semakin panik karena tidak mendapati bocah itu bersamanya.
Tak lama pintu ruangan itu terbuka, ada seorang pria yang masuk dengan membawa nampan makanan.
Irene melihat pria yang dimatanya tidak asing, dia mengenali siapa itu karena sering melihatnya saat dia masih berada di markas utama.
"Dozer?" tanya Irene untuk memastikan.