The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
TBM BAB 83 - The Ghost II



Karena takut khilaf jika terus bersama Irene, Jullian lebih memilih menyambut kedatangan keluarganya. Saat itu mobil yang membawa keluarganya sudah sampai di tempat persembunyiannya.


"Jullian!" teriak Juvel saat turun dari mobil dan melihat saudaranya. Gadis itu berlari untuk memeluk Jullian.


"Hati-hati, kau sedang hamil," ucap Jullian yang memeluk tubuh buncit adiknya. "Aku tahu, kau akan baik-baik saja!"


"Terima kasih selalu mendukungku." Juvel semakin erat memeluk kakaknya. Walaupun mereka sering berselisih tapi mereka saling menyayangi satu sama lain.


Hal itu dilihat oleh Trevor yang membuat hatinya menghangat. Dia jadi teringat kata-kata Juvel dulu, kata-kata yang pernah Juvel ucapkan pada Jullian jika kembar simpatik yang dialami oleh Juvel dan Jullian karena karma. Karma karena Trevor yang sudah banyak melakukan kejahatan.


Trevor kemudian memandangi kedua tangannya, tangan yang penuh dengan noda darah.


Tapi tiba-tiba tangan Trevor digenggam oleh Gwen yang membuat lelaki itu menatap istrinya.


"Aku pernah berjanji akan mengabdi seumur hidup padamu, Trey. Aku akan selalu ada di sisimu dan kita saling menggenggam bersama," ucap Gwen supaya Trevor tidak menyalahkan dirinya.


"I love you my husband!"


Trevor langsung mencium bibir istrinya karena Gwen jarang-jarang bersikap so sweat, Gwen akan selalu mengomelinya seperti anak kecil jika mereka bersama.


"Ehem!" Keiner berdehem melihat keluarga istrinya itu. Dia jadi merasa diabaikan.


"Sebaiknya kita harus bergerak cepat saat The Green Hornet lengah karena mengira Black Mamba masih terpecah," ucap Keiner kemudian.


Trevor mengernyitkan dahi karena Keiner berkata-kata seolah menjadi mafia. Trevor mengeluarkan pistolnya dan memberikannya pada Keiner.


"Gunakan ini!" ucap Trevor kemudian.


Keiner menggelengkan kepalanya. "Aku tidak butuh senjata daddy mertua karena aku punya senjata sendiri!"


"Apa itu?" tanya Trevor penasaran.


"UANG!" jawab Keiner singkat jelas padat.


Keiner mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk misi The Ghost. Tidak ada senjata atau pertumpahan darah di misi ini tapi semua memakai trik dan kekuatan uang.


"Kau tampak berbakat gadis kecil," ucap Keiner saat melihat Sheria yang berkutat di layar komputer dan merancang lighting misi.


"Aku sudah meretas cctv markas The Green Hornet dan menyusun peta markas itu," sahut Sheria memberikan peta markas The Green Hornet pada Keiner.


Keiner menerima itu dan memikirkan semua kemungkinan yang ada kemudian dia membicarakan semua pada tim.


Semua tampak menyimak penjelasan Keiner, pantas saja Keiner disebut raja bisnis karena semua rancangannya sangat detail, kemungkinan 90℅ berhasil.


"Aku yakin semua akan berjalan lancar kalau kita semua bekerja sama dengan baik," ucap Keiner setelah selesai menjelaskan rancangannya.


Semua bertepuk tangan dan menganggap ide Keiner sangat briliant.


"Tidak selamanya harus menggunakan senjata dan membunuh orang," tambah Keiner.


"Baiklah, aku mengakui kalau kau menantu yang berguna! Kita akan bergerak tengah malam!" ucap Trevor.


"Misi terakhir kita," desaah Jullian yang didengar oleh Juvel.


"Dan bukan dengan cara mafia," tambah Juvel sambil beradu kepalan tangan dengan saudaranya.


"Di mana pemeran utama misi?" tanya Gwen yang tidak melihat Irene sedari tadi.


Sedetik kemudian Irene keluar dengan memakai baju yang dia pakai saat di kapal pesiar tapi bajunya tampak berlumuran darah serta rambut Irene yang tampak berantakan.


"Apa ini cukup?" tanya Irene.


"Kau hantu paling mungil yang pernah ada Irene," puji Jullian.