
Irene memandangi Chade yang makan dengan begitu lahap, sebelumnya dia memesan beberapa menu pada petugas hotel.
"Makanmu sungguh banyak, adik kecil. Namamu Chade, 'kan?" tanya Irene kemudian.
Chade mengangguk tanpa menjawab karena mulutnya yang penuh dengan makanan.
Tak lama, Jullian datang yang membuat Irene langsung mendekati lelaki itu.
"Ayah Chade mencari bocah itu tapi mommy Gwen sudah meminta jika Chade sementara akan tinggal bersama kita," jelas Jullian.
"Benarkah?" Irene kesenangan, setidaknya Chade akan aman sementara.
Sebelumnya Jullian menceritakan keadaan Chade pada Gwen dan meminta ibunya itu berbicara pada Harold. Karena tidak mau putranya mendapat perlakuan kasar istrinya lagi, Harold mengijinkan Chade tinggal sementara waktu dengan keluarga Gwen.
Harold akan menyelesaikan masalahnya dengan Clara terlebih dahulu kemudian mengambil Chade kembali.
"Karena apartemen Juvel kosong, kita bisa tinggal di sana," tambah Jullian.
"Kita?" tanya Irene.
"Iya, kita bertiga karena mommy Gwen akan ikut daddy Trevor ke markas yang ada di kasino. Ada sedikit masalah, mata-mata terbaik kami menghilang," jelas Jullian.
Irene semakin mendekatkan diri pada Jullian, dia cukup mengerti hidup yang dijalani lelaki itu. Kadang dia kesepian dan sendirian saat Jullian berbulan-bulan tidak kembali ke markas utama.
"Apa kau akan pergi juga?" tanya Irene yang tidak ingin ditinggal dalam waktu yang lama. Bukannya apa, Jullian adalah tempat paling aman untuk dia berlindung dan sekarang Irene kembali bersinggungan dengan keluarga White.
"Aku akan menyelidiki sesuatu dan mungkin tidak akan selalu bisa bersamamu tapi tenang saja, aku sudah menempatkan beberapa anak buahku untuk menjagamu dan Chade." Jullian yang peka tentu saja bisa membaca pikiran Irene. Kemudian dia memeluk gadis mungil itu. Dia akan lebih dekat dengan Chloe kedepannya, semoga Irene tidak salah paham.
*****
Disisi lain, Keiner yang tidak bisa tidur selama berpisah dengan Juvel saat ini tengah tertidur di pangkuan gadis itu.
Mereka sudah berada di pesawat dan menempati kamar yang berada di pesawat itu. Dengan menyender di paha Juvel saja, Keiner langsung memejamkan matanya.
"Huh! Sekarang aku yang tidak bisa tidur!" keluh Juvel yang merasa tidak nyaman dengan posisinya.
Tangannya kemudian mengelus rambut suaminya. Dia terkekeh sejenak karena tidak menyangka lelaki yang tertidur di pahanya adalah suaminya. Juvel menunduk dan mencium kening Keiner dengan lembut.
"Setelah ini, kau harus memberikan hatimu untukku, tuan suami yang sombong," ucap Juvel yang berharap pernikahan mereka bukan hanya sebatas perjanjian.
"Aku akan memikirkan ulang tentang peternakan sapi mungkin aku lebih memilihmu dan bayi kita," tambahnya.
Saat sampai, Juvel menatap takjub tempat pilihan Keiner untuk berbulan madu. Sepertinya lelaki itu memang sudah menyiapkan semuanya. Juvel jadi berharap lebih dengan hubungan mereka.
"Kau menyukainya?" tegur Keiner saat Juvel berdiri di dinding kaca kamar yang mereka tempati sekarang.
Ada lautan luas dan pemandangan yang menakjubkan di sana. Bahkan ada kolam renang dengan kasur di atasnya ditambah hiasan bunga dan lilin.
"Aku menyukainya, Thanks," ucap Juvel tulus. Baru pertama kali dia mendapat perlakuan romantis begini dari seorang pria.
"Mau menaiki kasur itu?" tawar Keiner sambil membimbing istrinya ke kolam renang.
Keiner membawa Juvel menaiki kasur di atas kolam renang itu kemudian Keiner duduk yang membuat Juvel berbaring dan menjadikan perut Keiner sebagai bantal.
Mereka berdua menikmati momen mereka itu, sampai Juvel bertanya. "Kau tidak memikirkan orang lain selain kita, 'kan?"
"Maksudnya?" Keiner tidak mengerti.
"Memikirkan ibu tirimu, siapa tahu kau membayangkan aku adalah dia sekarang!" ucap Juvel mode cemburu.
"Kau itu bicara apa, mendengar namanya saja aku muak apalagi harus memikirkannya," sahut Keiner tak habis pikir.
"Berjanjilah padaku, jika kau akan jaga jarak dengan mantan!" pinta Juvel yang ingin sebuah komitmen.
*
*
*
*
*
[ Ilustrasi momen Juvel dan Keiner]
Bagi yang gak bisa kebuka fotonya bisa cek di ig ku @dhevisjwta